10 Fakta Mengejutkan dari Dokumen Kebangkrutan FTX

Nabiila Putri Caesari

22nd November, 2022

Sebuah laporan berisi 30 halaman untuk pengajuan kebangkrutan FTX ke pengadilan telah dibeberkan, dan ditemukan fakta-fakta mengejutkan soal FTX, salah satunya adalah“FTX menggunakan dana gelap dan menyamar sebagai bisnis ternama”, menurut laporan reporter FOX Genevieve Roch-Decter.

Lalu, apa saja penemuan-penemuan mengejutkan lainnya dari kebangkrutan FTX? Berikut daftarnya.

Karyawan FTX Gunakan Pesan yang Otomatis Terhapus

FTX menyimpan sangat sedikit catatan komunikasi internal, karena sebagian besar karyawan tampaknya berkomunikasi melalui obrolan via daring, bahkan pendiri sekaligus mantan CEO-nya, Sam Bankman-Fried (SBF), menyuruh para karyawan untuk menggunakan aplikasi yang secara otomatis menghapus pesan setelah beberapa saat (pesan berwaktu), sehingga tidak adanya rekap catatan dalam pengambilan keputusan.

Baca Juga: Dokumen Sam Bankman-Fried untuk Karyawan FTX Bocor!

FTX Tidak Melacak Siapa Karyawannya

Tidak terdapat catatan daftar lengkap siapa saja yang bekerja untuk FTX, atau syarat-syarat rekrutmen karyawan.

Emoji Dipersonalisasi Sebagai Persetujuan Pencairan Dana

Dokumen juga menunjukkan bahwa, SBF menyuruh karyawan perusahaan untuk berkomunikasi melalui aplikasi obrolan daring, dan pencairan dana akan disetujui dengan menggunakan emoji yang dipersonalisasi. 

Hal ini dinilai bukan prosedur standar perusahaan, CEO Baru FTX, John Ray II menanggapi hal tersebut dengan menulis bahwa FTX tidak “memiliki jenis kontrol pembayaran yang menurut saya sesuai untuk perusahaan bisnis.”

Perusahaan Tidak Memiliki Sistem Pengelolaan Uang

Bagi sebagian besar perusahaan, sistem pengelolaan uang merupakan kewajiban yang harus dimiliki. Karena berguna untuk melacak arus kas perusahaan, membantu mencatat detail semua orang yang dibayar perusahaan, berapa banyak yang membayar mereka, kapan, dan mengapa hal-hal semacam itu terjadi. 

Namun, laporan pengajuan kebangkrutan FTX, bahwa perusahaan tidak memiliki hal tersebut. Dalam pengelolaan kas, tidak terdapat daftar rekening bank dan penandatangan rekening yang akurat, serta kurangnya informasi terhadap kelayakan kredit mitra perbankan.

Baca juga: Ada Apa dengan FTX? Ini Kronologi dari Awal Hingga Akhir!

Laporan Kreditur Tidak Tercatat

FTX menerima banyak sekali uang dari deposan kripto selama perusahaan dijalankan, akan tetapi tampaknya FTX tidak memperhatikan siapa penyetor dan berapa yang disetor dana.

Pengajuan kebangkrutan mengungkapkan bahwa “saldo aset kripto pelanggan yang disimpan tidak dicatat sebagai aset di neraca dan tidak disajikan,” hal ini menyiratkan bahwa perusahaan tidak tahu bagaimana menghitung simpanan tersebut. 

Dalam pengarsipan, diketahui bahwa FTX juga tidak tahu siapa 50 kreditur teratasnya. Jadi, perusahaan tidak tahu banyak tentang apa pun.

Pencatatan Deposit Pengguna Tidak Ada

Aset kripto yang disimpan oleh pelanggan tidak dicatat di neraca perusahaan, dan pada saat kebangkrutan saldo aset tersebut pun tidak ditampilkan.

Perusahaan FTX Group menyimpan kunci pribadi ke aset pelanggan di akun email grup yang tidak aman. Perusahaan juga menggunakan perangkat lunak untuk menyembunyikan penyalahgunaan dana pelanggan. Ada juga temuan menarik lainnya, bahwa aset digital perusahaan dikendalikan oleh SBF dan co-founder-nya, Gary Wang.

Laporan FTX dalam pernyataan pengajuan hukum. Sumber: Twitter

Baca Juga: Laporan Nansen: Masalah FTX Dipicu dengan Hancurnya Terra Luna

FTX Tidak Memiliki Rapat Dewan

Sebagian besar entitas di dalam Grup FTX, khususnya di Antigua dan Bahama, memiliki struktur tata kelola yang tidak tepat, karena sebagian besar dari mereka tidak pernah mengadakan rapat dewan.

Perusahan tersebut juga tidak memiliki catatan karyawan yang layak. Baik karyawan maupun kontraktor, tidak memiliki catatan yang jelas tentang durasi dan tanggung jawab dari pekerjaannya masing-masing. Upaya untuk menyusun daftar semua karyawan gagal karena banyak dari mereka yang tidak dapat ditemukan.

Dana Perusahaan FTX Digunakan untuk Membeli Rumah Pribadi

Menariknya, dana korporat perusahaan digunakan untuk membeli rumah dan properti atas nama pribadi dari beberapa karyawan yang memiliki posisi tinggi.

Dalam laporan mengatakan, bahwa dana perusahaan FTX “digunakan untuk membeli rumah dan barang pribadi lainnya untuk karyawan dan penasihat.” Selain itu, tidak ada catatan transaksi dan pinjaman yang terkait dengan pembelian real estat ini, yang dicatat atas nama pribadi karyawan dan penasihatnya.

Dana Pengguna Tidak Tercatat di Neraca

Kripto yang disimpan oleh pelanggan bahkan tidak tercatat di neraca. Sepertinya, semua aset kripto hanya masuk ke satu dana pusat yang digunakan untuk apa saja.

Alameda Research Berikan Pinjaman Pribadi $1 Miliar kepada SBF

Terdapat laporan rincian pinjaman dari perusahaan lain milik SBF, yaitu Alameda Research yang memberikan dana pinjaman sebesar $1 miliar (Rp15,6 triliun) kepada mantan CEO FTX, SBF, lalu $543 juta (Rp8,5 triliun) kepada Direktur Teknik FTX, Nishad Singh, dan $55 juta (Rp863 miliar) untuk co-CEO FTX, Ryan Salame. 

Baca Juga: Kasus FTX Disebut Lehman Brothers Versi Kripto

Nabiila Putri Caesari

Seorang perempuan yang gemar menulis sekaligus bercerita. Memiliki ketertarikan terhadap dunia ekonomi, travel, dan fotografi. Selalu antusias dan senang belajar dengan hal baru.

Seorang perempuan yang gemar menulis sekaligus bercerita. Memiliki ketertarikan terhadap dunia ekonomi, travel, dan fotografi. Selalu antusias dan senang belajar dengan hal baru.