Bitcoin Melonjak Terus, Hati-Hati Potensi Swing Liar

Naufal Muhammad

8th January, 2021

Bitcoin melonjak menyentuh harga $40.400 atau sekitar Rp567 Juta pagi ini sekitar pukul 01.00 WIB. Apresiasi ini membuat harga Bitcoin sama dengan 645 gram emas atau setara dengan beberapa apartemen yang ada di Jakarta Selatan.

Mayoritas pihak terlihat senang dengan apresiasi ini karena menunjukkan bahwa Bitcoin masih memiliki bahan bakar yang kuat dan pasar crypto akan mulai terdampak. Namun, dengan apresiasi ini terdapat beberapa potensi risiko yang perlu diwaspadai.

Bitcoin Melonjak Terus

Pada pagi ini Bitcoin berhasil menyentuh harga tertinggi barunya yang diprediksi mayoritas analis di pasar butuh waktu sekitar satu bulan. Namun dengan cepatnya, Bitcoin membuktikan analisis tersebut salah dengan apresiasinya yang terjadi hanya sekitar 3 sampai 4 hari.

Dalam beberapa hari tersebut, setelah berkonsolidasi Bitcoin terus mencetak harga tertinggi baru mulai dari $35.000 hingga saat ini mencapai $40.000. Apresiasi ini dikabarkan menjadi dorongan gabungan antara investor ritel dan institusi.

Dari sisi institusi, beberapa pihak yang baru saja melakukan pembelian Bitcoin dalam pekan ini adalah Grayscale, Tudor Investment, dan Guggenheim. Institusi tersebut dan beberapa institusi lainnya juga terlihat membeli Bitcoin namun melalui pasar future dengan kontrak berjangkanya.

Ketertarikan oleh investor institusional ini didorong lebih kencang setelah publikasi hasil rapat komite pasar terbuka Bank Sentral Amerika atau FOMC The Fed. Dalam hasil rapat tersebut, dikabarkan bahwa pemerintah dan bank sentral masih akan mendorong kebijakan ekspansif.

Oleh karena itu ke depannya nilai Dolar Amerika akan terus tergerus akibat jumlahnya yang akan terus bertambah. Hasilnya mayoritas institusi terlihat pergi dari Dolar Amerika sebagai pengaman kekayaan dan beralih ke Bitcoin.

Potensi Swing Masih Liar

Akibat sentimen tersebut, investor ritel juga ikut pergerakannya sehingga masih ada campur tangan ritel yang menyebabkan apresiasi ini. Sayangnya dengan adanya ritel terutama whale masih terdapat beberapa potensi swing yang liar.

Swing sendiri adalah salah satu cara trading yang menggunakan jangka waktu pendek ke menengah. Pada umumnya jangka waktu yang digunakan adalah per jam atau per hari dimana bisa menahan posisi dari satu hinga beberapa hari.

Baca juga: Harga Satu Bitcoin Bernilai 500 Juta Rupiah! Ini Faktor Pendorongnya

Akibat whale yang memiliki dana besar dan berpotensi menggoyangkan pasar, jika mereka melakukan swing ini ada kemungkinan koreksi yang akan sering terjadi. Hal ini disebabkan akibat dari pengambilan keuntungan.

Contoh nyatanya kemungkinan besar adalah yang terjadi pada pagi ini yaitu sekitar 01.00 WIB setelah ATH baru tercapai. Setelah Bitcoin menyentuh $40.400, harganya turun drastis menuju sekitar $36.200 walau berhasil naik kembali.

Kemudian hal yang sama terjadi kembali sekitar pukul 09.30 WIB dimana harganya turun menuju $36.500 walau sebelumnya sempat naik kembali. Hal ini mencerminkan adanya kekhawatiran beberapa pihak atau pengambilan keuntungan yang membuat volatilitas sangat tinggi seiring naiknya harga.

Beberapa Risiko Akibat Sejarah

Walau secara jangka panjang Bitcoin memiliki sentimen untuk terus naik, volatilitas dalam apresiasi masih akan sangat kuat. Hal ini disebabkan dari potensi swing yang kemungkinan disebabkan oleh investor ritel karena investor institusional yang berorientasi menyimpan.

Namun, terdapat beberapa risiko lain yang dapat membuat volatilitas ini terjadi bahkan dapat berujung pada koreksi yang tajam. Salah satunya adalah pergerakan Bitcoin sendiri di masa lalu.

Baca juga: Bitcoin Koreksi Tajam, Diprediksi Akibat Tekanan Ritel

Sejak 2013 hingga saat ini, belum ada satu tahun dimana Bitcoin tidak terkoreksi kurang dari 25% dari titik tertingginya di tahun itu. Sejarah pergerakan ini mengimplikasikan bahwa Bitcoin dapat terkoreksi secara dalam walau apresiasinya sangat signifikan yang menggagalkan asumsi too big too fall.

Namun tidak bisa dipungkiri pasar keuangan akan selalu dipenuhi dengan bubble dan crash yang berarti saat harga terlalu tinggi, harga akan jatuh. Hal ini juga menjadi risiko besar mengingat Bitcoin merupakan bagian dari pasar keuangan.

Baca juga: Analis Prediksi Bitcoin Akan Terus Alami Koreksi

Kemudian mengingat pergerakan sebelumnya juga, akan ada kemungkinan bahwa Bitcoin akan naik dua hingga tiga kali lipat sebelum terkoreksi dalam. Pernyataan ini dibentuk oleh salah satu analis bernama Mike Venuto dari Amplify yang dibentuk berdasarkan data masa lalu.

Mengingat banyaknya risiko yang muncul trader dan investor perlu mengingat bahwa Bitcoin tetap merupakan bagian dari pasar keuangan. Sehingga, Bitcoin masih memiliki potensi untuk koreksi yang membuat investor dan trader perlu mengatur strategi dan risiko masing-masing dengan baik dalam pasar bull ini.

Artikel selangkapnya dapat dibaca di sini

Naufal Muhammad

Muhammad Naufal merupakan seorang penggemar bidang makroekonomi dan keuangan. Pada saat ini fokus utama tertuju pada bidang teknologi keuangan terutama trading dan investasi crypto.

Muhammad Naufal merupakan seorang penggemar bidang makroekonomi dan keuangan. Pada saat ini fokus utama tertuju pada bidang teknologi keuangan terutama trading dan investasi crypto.