Munculnya Kebijakan Moneter Baru Di Tengah Perang, Bitcoin Untung?

Rossetti Syarief

11th March, 2022

Credit Suisse, bank investasi global yang berbasis di Swiss, merilis laporan terbaru mengenai dampak yang mungkin menimpa sektor crypto di tengah konflik Rusia-Ukraina. 

Bank investasi global tersebut percaya bahwa konflik Rusia-Ukraina akan mengarah pada paradigma baru untuk mata uang yang dibungkus dalam kebijakan moneter baru, dimana kemungkinan besar akan memberi keuntungan pada aset crypto raksasa Bitcoin.

Kebijakan Moneter Baru Mengenai Mata Uang

Zoltan Pozsar mengatakan pada analisa terbarunya bahwa dunia sedang menyaksikan pergeseran ke kebijakan moneter baru yang berpusat di sekitar mata uang berbasis komoditas di Timur.

Ahli strategi tersebut berpikir kebijakan moneter baru akan melemahkan sistem Euro/USD dan menyebabkan inflasi di Barat.

“Krisis sedang berlangsung. Krisis komoditas. Komoditas adalah agunan, dan agunan adalah uang, dan krisis ini adalah tentang meningkatnya daya pikat uang luar atas uang dalam.”

Pozsar membandingkan komoditas Rusia dengan kewajiban utang subprime agunan pada tahun 2008. Dan menurutnya, People’s Bank of China (PBoC) adalah satu-satunya bank yang dapat memberikan dukungan untuk krisis.

PBoC memiliki dua opsi “geo-finansial“, yaitu mencetak uang atau menjual obligasi untuk membeli komoditas Rusia. Sementara kedua opsi tersebut akan menyebabkan lebih banyak inflasi di Barat, namun juga menjadi keuntungan pada Bitcoin.

“Krisis ini tidak sama seperti era Presiden Nixon yang mengambil alih Dollar AS dari emas pada tahun 1971, dimana akhir era uang berbasis komoditas.” Tegas sang analis.

Pozsar menambahkan, setelah peperang ini berakhir ‘uang’ tidak akan pernah sama lagi. Disini, Bitcoin dan mata uang crypto lain yang mungkin menggantikan peran dan akan mendapat manfaat dari semua ini.

Sementara pihak Bank investasi global berpendapat, bahwa tidak seperti 2008, bank sentral barat tidak dapat mendukung “penyebaran komoditas” karena merekalah yang memberlakukan sanksi sejak awal.

Dengan demikian, pihak yang akan diberi insentif untuk menengahi penyebaran adalah sekutu Rusia: yaitu, Bank Rakyat China (PBOC).

Ini secara teoritis akan memberi PBOC kendali atas inflasi di China sambil memicu resesi dan kekurangan komoditas di AS.

Sementara pada saat penulisan, inflasi dolar AS sudah mencapai tren tertinggi dalam 40 tahun, dengan IHK Januari menunjukkan kenaikan harga 7,5% dari tahun ke tahun.

Baca Juga: Ukraina Beli Banyak Bitcoin Setelah Invasi Rusia

Melihat Sedikit Manfaat Bitcoin di Situasi Seperti Ini

Bitcoin memiliki batas pasokan 21 juta koin, dapat ditransfer secara global dan tidak dikendalikan oleh satu pihak atau negara tertentu. 

Hal ini membuat beberapa orang percaya bahwa itu akan beroperasi seperti “emas digital”, atau aset safe-haven lainnya di saat krisis seperti ini atau bahkan ketika kebijakan moneter mengenai mata uang diperbarui.

Beberapa orang telah memperkirakan perubahan paradigma ini untuk waktu yang lama, termasuk Jack Dorsey, yang mengklaim tahun lalu bahwa Bitcoin akan menggantikan Dollar.

Rossetti Syarief

Rossetti memiliki minat menulis sejak SMA dan diperdalam di dunia perkuliahan. Saat ini sedang mendalami bidang ekonomi, terutama yang berkaitan dengan investasi dan cryptocurrency.

Rossetti memiliki minat menulis sejak SMA dan diperdalam di dunia perkuliahan. Saat ini sedang mendalami bidang ekonomi, terutama yang berkaitan dengan investasi dan cryptocurrency.