Pemula
Untuk kamu yang baru mau mulai masuk dan belajar dasar - dasar cryptocurrency dan blockchain.Temukan ragam materi mulai dari Apa itu Cryptocurrency, apa itu Bitcoin, hingga Apa itu NFT.
Editors Choice · 7 min read
Bitcoin (BTC), aset kripto terbesar di dunia, kembali mencuri perhatian setelah harganya melonjak dan sempat menembus level US$72.000. Kenaikan ini terjadi di tengah kabar kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran, yang langsung memicu sentimen positif di pasar global.
Berdasarkan data CoinGecko pada Rabu (8/4/2026), harga Bitcoin naik dari kisaran US$67.000 ke level tertinggi harian di US$72.732. Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin tercatat menguat sekitar 4 persen dan kembali mencapai level tertinggi sejak 18 Maret 2026.

Kenaikan ini tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Sejumlah aset kripto utama lainnya juga ikut menguat. Ethereum naik sekitar 6 persen ke US$2.238, XRP menguat sekitar 5 persen, dan Solana melonjak 6,5 persen.
Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar aset kripto meningkat hampir 4 persen dalam sehari dan kini mencapai sekitar US$2,4 triliun.
Baca juga: ETF Bitcoin AS Catat Inflow Rp8 Triliun, Terbesar Sejak Februari 2026
Penguatan pasar ini sejalan dengan membaiknya sentimen investor. Indeks Crypto Fear & Greed yang mengukur kondisi psikologis pasar naik ke level 17 dari sebelumnya 11. Meski masih berada di zona “ketakutan ekstrem”, pergerakan ini menunjukkan adanya sedikit pemulihan kepercayaan investor.

Lonjakan harga Bitcoin terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan antara AS dan Iran. Dalam pernyataannya, Trump menyebut bahwa kedua negara telah mencapai sejumlah target militer dan sedang mengarah pada kesepakatan damai jangka panjang.
Di sisi lain, Iran juga menyatakan akan membuka kembali akses Selat Hormuz, jalur distribusi minyak paling krusial di dunia. Sebelumnya, ancaman penutupan jalur ini sempat memicu lonjakan harga minyak dan mengganggu rantai pasok global.
Meredanya ketegangan geopolitik ini menjadi katalis penting bagi pasar, terutama aset berisiko seperti kripto. Investor melihat peluang stabilitas harga energi dan menurunnya risiko konflik sebagai sinyal positif untuk kembali masuk ke pasar.
Baca juga: Strategy Borong Bitcoin Lagi Meski Catat Kerugian Rp247 Triliun di Q1 2026
Meski demikian, sejumlah analis menilai bahwa reli yang terjadi saat ini masih bersifat sementara. Gencatan senjata selama dua minggu dinilai belum cukup kuat untuk menjadi dasar terbentuknya tren bullish jangka panjang.
Mengutip The Block, Direktur LVRG Research, Nick Ruck, menyebut bahwa reli ini lebih merupakan respons cepat pasar terhadap meredanya ketegangan geopolitik.
“Pengumuman Presiden AS Trump mengenai penghentian serangan terhadap Iran selama dua minggu telah meredakan ketegangan geopolitik dan memicu reli pemulihan yang tajam pada aset berisiko, seiring pasar mulai memperhitungkan penurunan harga minyak dan kembalinya sentimen risk-on global,” ujar Ruck.
Namun, berbagai risiko masih membayangi, mulai dari kemungkinan konflik kembali memanas hingga tekanan makroekonomi global.
Sementara itu, analis Zeus Research, Dominick John, menilai bahwa kenaikan harga Bitcoin saat ini lebih didorong oleh faktor likuiditas jangka pendek.
“Keberlanjutan kenaikan harga akan sangat bergantung pada likuiditas yang konsisten, kondisi makroekonomi yang stabil, serta arus masuk modal struktural yang selaras untuk mendorong gelombang kenaikan berikutnya,” jelasnya.
Baca juga: Sukses Tambang Bitcoin, Solo Miner Ini Raup Untung Rp3,5 Miliar
Seluruh konten berupa data dan atau informasi yang tersedia di Coinvestasi hanya bertujuan sebagai informasi dan referensi. Konten ini bukan saran atau nasihat investasi maupun trading. Seluruh pernyataan dalam artikel tidak dimaksudkan sebagai ajakan, rekomendasi, penawaran, atau dukungan untuk membeli atau menjual aset kripto apa pun.
Perdagangan di pasar keuangan, termasuk aset kripto, mengandung risiko dan dapat menyebabkan kerugian hingga kehilangan seluruh dana. Kamu wajib melakukan riset secara mandiri sebelum mengambil keputusan. Seluruh keputusan investasi atau trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu setelah memahami risiko yang ada.Gunakan hanya platform atau aplikasi aset kripto yang terdaftar dan beroperasi secara legal di Indonesia. Daftar platform aset kripto yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat diakses melalui di sini.
Topik
Coinvestasi Update Dapatkan berita terbaru tentang crypto, blockchain, dan web3 langsung di inbox kamu.