Berita Bitcoin · 6 min read

Strategy Borong Bitcoin Lagi Meski Catat Kerugian Rp247 Triliun di Q1 2026

Selasa, 07 April 2026
michael saylor
Coinvestasi Ads Promo - Advertise

Strategy, perusahaan publik pemegang Bitcoin terbesar di dunia yang sebelumnya dikenal sebagai MicroStrategy, kembali melanjutkan aksi pembelian Bitcoin (BTC) setelah sempat berhenti pada akhir Maret 2026.

Berdasarkan laporan ke Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) AS, Strategy membeli 4.871 BTC senilai sekitar US$329,9 juta sekitar Rp5,63 triliun pada pekan pertama April. Pembelian ini dilakukan di harga rata-rata US$67.718 per BTC, lebih rendah dibandingkan rata-rata harga beli keseluruhan mereka yang berada di US$75.644 per koin.

Dengan tambahan tersebut, total kepemilikan Bitcoin Strategy kini mencapai 766.970 BTC, yang diperoleh dengan total biaya sekitar US$58 miliar setara sekitar Rp990,7 triliun. Ini juga menjadikannya sebagai pemilik Bitcoin terbesar di dunia hingga saat ini, menurut BitcoinTreasuries.

Baca juga: Strategy Siapkan Dana Rp747 Triliun untuk Borong Bitcoin di Tengah Koreksi

Kerugian Tidak Terealisasi Tembus Ratusan Triliun Rupiah

Di sisi lain, Strategy juga melaporkan kinerja keuangan kuartal pertama 2026 yang mencatat kerugian tidak terealisasi sebesar US$14,46 miliar sekitar Rp247 triliun dari aset digital yang dimilikinya. Kerugian ini terjadi karena harga Bitcoin saat ini berada di bawah harga rata-rata pembelian perusahaan.

Namun demikian, penurunan nilai tersebut turut menghasilkan manfaat pajak tangguhan (deferred tax benefit) sebesar US$2,42 miliar sekitar Rp41,3 triliun. Strategy juga mencatat aset pajak tangguhan sebesar US$1,73 miliar sekitar Rp29,5 triliun yang diimbangi oleh cadangan penilaian dalam jumlah yang sama.

Perusahaan juga mengindikasikan kemungkinan penambahan cadangan penilaian sebesar US$0,5 miliar sekitar Rp8,54 triliun jika harga Bitcoin tetap berada di bawah biaya perolehan.

Baca juga: Perusahaan Cadangan Bitcoin Nakamoto Mulai Lepas Rp340 Miliar BTC

Harga Bitcoin di Bawah Harga Beli, Strategy Tetap Akumulasi

Bitcoin sempat diperdagangkan di bawah rata-rata harga beli Strategy sejak awal Februari 2026. Ini menjadi pertama kalinya sejak akhir 2023 kondisi tersebut terjadi.

Meski demikian, Strategy tetap agresif menambah kepemilikan. Sejak 2 Februari, perusahaan telah membeli sekitar 54.000 BTC.

Aktivitas pembelian bahkan meningkat signifikan sepanjang Maret, dengan total akumulasi mencapai 41.362 BTC dalam satu bulan. Secara keseluruhan, pada kuartal pertama 2026, Strategy membeli 89.316 BTC dengan total nilai sekitar US$6,3 miliar sekitar Rp107,6 triliun.

Baca juga: Rutin Borong, Strategy Kini Punya 761.068 Bitcoin

Strategy Pendanaan Lewat Saham

Untuk mendanai pembelian Bitcoin, Strategy memperbarui strategi pendanaannya melalui skema at-the-market (ATM), yaitu penjualan saham secara bertahap ke pasar.

Perusahaan berencana menerbitkan saham Strike (STRK) baru senilai US$2,1 miliar, saham Stretch (STRC) senilai US$21 miliar, saham Common A (MSTR) senilai US$21 miliar.

Dana dari penerbitan saham ini akan digunakan untuk membeli Bitcoin secara bertahap.

Pada periode 30–31 Maret, Strategy berhasil mengumpulkan sekitar US$299,3 juta setara Rp5,11 triliun. Sementara pada 1–5 April, mereka kembali meraih sekitar US$174,6 juta sekitar Rp2,98 triliun.

Langkah ini merupakan bagian dari strategi “42/42 plan”, yaitu target penggalangan dana hingga US$84 miliar untuk memperbesar kepemilikan Bitcoin hingga 2027.

Meski nilai Bitcoin yang dimiliki saat ini berada di bawah harga beli, Strategy tetap konsisten dengan strategi jangka panjangnya. Dengan total kepemilikan hampir 767 ribu BTC dan nilai pasar sekitar US$53 miliar sekitar Rp905,3 triliun, Strategy semakin mengukuhkan posisinya sebagai institusi dengan eksposur Bitcoin terbesar di dunia.

Baca juga: Strategy Borong Bitcoin Hingga Rp21 T, Cadangan Tembus 738.731 BTC

Coinvestasi Ads Promo - Advertise

Disclaimer

Seluruh konten berupa data dan atau informasi yang tersedia di Coinvestasi hanya bertujuan sebagai informasi dan referensi. Konten ini bukan saran atau nasihat investasi maupun trading. Seluruh pernyataan dalam artikel tidak dimaksudkan sebagai ajakan, rekomendasi, penawaran, atau dukungan untuk membeli atau menjual aset kripto apa pun.

Perdagangan di pasar keuangan, termasuk aset kripto, mengandung risiko dan dapat menyebabkan kerugian hingga kehilangan seluruh dana. Kamu wajib melakukan riset secara mandiri sebelum mengambil keputusan. Seluruh keputusan investasi atau trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu setelah memahami risiko yang ada.Gunakan hanya platform atau aplikasi aset kripto yang terdaftar dan beroperasi secara legal di Indonesia. Daftar platform aset kripto yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat diakses melalui di sini.

author
Dilla Fauziyah

Editor

arrow

Terpopuler

Loading...
Coinvestasi Ads Promo - Advertise
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...

#SemuaBisaCrypto

Belajar aset crypto dan teknologi blockchain dengan mudah tanpa ribet.

Coinvestasi Update Dapatkan berita terbaru tentang crypto, blockchain, dan web3 langsung di inbox kamu.