The Fed Prediksi Perubahan Inflasi, Ini Dampaknya

Naufal Muhammad

17th June, 2021

Bank Sentral Amerika atau yang lebih akrab disebut dengan The Fed baru saja membuat pernyataan baru melalui kepalanya, Jerome Powell.

Melalui pernyataan tersebut terdapat kabar bahwa perekonomian Amerika akan berubah cukup signifikan dalam dua tahun ke depan.

Pernyataan Kepala Bank Sentral Amerika

Pada pukul 01.00 WIB hari ini, Jerome Powell baru saja mempublikasi pandangan Bank Sentral Amerika.

Pandangan tersebut adalah pandangan mengenai proyeksi perekonomian Amerika ke depannya.

Publikasi ini terjadi bersama dengan adanya publikasi mengenai penetapan suku bunga acuan untuk bulan ini.

Bulan ini suku bunga acuan masih stabil pada suku bunga fleksibel di sekitar 0% hingga 0,25%, sama seperti bulan-bulan sebelumnya.

Namun, walaupun masih relatif akan sama, terdapat pernyataan yang menarik perhatian pasar yaitu pernyataan bahwa akan terjadi perubahan dalam kebijakan.

Perubahan dalam kebijakan yang dimaksud adalah perubahan dalam target inflasi jangka pendek, yang akan diturunkan.

Setelah ada lonjakan inflasi pada bulan lalu, Powell merasa bahwa dalam beberapa waktu ke depan, terutama di 2022, inflasi akan relatif turun.

Namun ia juga menyatakan bahwa pada 2023, inflasi akan kembali naik dengan target yang masih tetap pada inflasi di 2,5%.

Kabar ini membuat sentimen yang bercampuran di pasar keuangan, terutama melihat belum adanya penerapan apa pun untuk menurunkan inflasi jangka pendek oleh bank sentral.

Saat ini dari sisi moneter atau kebijakan bank sentral, suku bunga belum dinaikkan.

Selain itu, dana untuk operasi pasar terbuka untuk menambah jumlah uang beredar juga belum dikurangi.

Tapi menurut Powell, inflasi direncanakan untuk turun ini jika terjadi pengurangan kebijakan fiskal dari pemerintah dan bukan bank sentral.

Sehingga nampaknya inflasi yang menurun atau berkurangnya jumlah uang beredar akan terjadi secara perlahan.

Walaupun begitu, Powell menyatakan bahwa 2020 akan menjadi tahun yang baik untuk perekonomian yang juga membuat keperluan dana bantuan menjadi semakin kecil.

Kabar ini nampaknya dianggap sebagai sentimen negatif oleh mayoritas pasar dalam jangka pendek, akibat mayoritas aset berisiko sedang bergerak turun.

Aset berisiko yang juga menjadi alat pengaman melawan inflasi sehingga memiliki korelasi negatif dengan uang fiat, diprediksi akan bergerak turun.

Dampak untuk Pasar Crypto

Teori ini sesuai dengan teori transmisi kebijakan moneter, dimana jika bank sentral ingin menurunkan inflasi maka jumlah uang beredar akan turun.

Jika hal itu terjadi, maka mayoritas aset berisiko seperti crypto, saham, dan emas, bergerak turun.

Namun, apakah teori kebijakan ini akan terjadi saat ini? Kemungkinan besar dampaknya belum akan terjadi secara signifikan.

Sebab, saat ini terdapat rencana anggaran dengan jumlah yang cukup besar dari pemerintah yaitu sekitar $6 Miliar atau Rp86,44 Triliun.

Walau menurut Powell dana ini akan berkurang, saat ini belum ada konfirmasi pernyataan kembali dari pemerintah.

Sebab, Biden masih terlihat fokus walau Menteri Keuangan, Janet Yellen, kurang setuju.

Selain itu, perubahan kebijakan untuk merubah inflasi atau tapering nampaknya belum memiliki rencana yang matang.

Hal ini disebabkan Komite Operasi Pasar Terbuka (FOMC) The Fed, yang bergerak dalam bank sentral namun fokus ke operasi pasar terbuka masih memiliki pandangan berbeda dari Powell.

FOMC dikabarkan masih akan terus mengeluarkan dana kepada perekonomian walau setuju untuk melakukan apa pun dalam memulihkan perekonomian kembali.

Tapi semua keputusan nampaknya berada pada Jerome Powell yang masih menerapkan suku bunga yang belum ditingkatkan untuk mengurangi uang beredar.

Selain itu, target inflasi jangka panjang The Fed masih berada pada 2,5% sehingga untuk jangka panjang, aset berisiko masih relatif aman.

Selain itu, dengan proyeksi bahwa 2022 perekonomian akan pulih, justru membuat prediksi peningkatan daya beli dalam masyarakat.

Dengan meningkatnya daya beli masyarakat, kemungkinan besar dana untuk investasi menjadi lebih besar akibat masyarakat dapat mengeluarkan lebih banyak dana.

Oleh karena itu, hingga ada langkah kepastian dari bank sentral, nampaknya kabar ini hanya FUD impulsif.

Namun, jika bank sentral menurunkan suku bunga acuan, ada kemungkinan tekanan jual untuk aset berisiko seperti crypto.

Dari crypto sendiri saat ini banyak adopsi sehingga sentimen positif internal sedang tinggi, yang membuat pasar berkonsolidasi.

Naufal Muhammad

Muhammad Naufal merupakan seorang penggemar bidang makroekonomi dan keuangan. Pada saat ini fokus utama tertuju pada bidang teknologi keuangan terutama trading dan investasi crypto.

Muhammad Naufal merupakan seorang penggemar bidang makroekonomi dan keuangan. Pada saat ini fokus utama tertuju pada bidang teknologi keuangan terutama trading dan investasi crypto.