Pemula
Untuk kamu yang baru mau mulai masuk dan belajar dasar - dasar cryptocurrency dan blockchain.Temukan ragam materi mulai dari Apa itu Cryptocurrency, apa itu Bitcoin, hingga Apa itu NFT.
Berita Industri · 8 min read

Pada tanggal 2 Mei, perusahaan investasi kripto asal Eropa CoinShares menerbitkan laporan terbarunya.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa pasar aset digital mengalami sentimen bearish dalam dua minggu berturut-turut, yang menghasilkan arus keluar sebesar U$72 juta (Rp1,06 triliun).
Analis Coinshares, James Butterfill, meyakini kenaikan suku bunga The Fed sebagai penyebab lonjakan arus keluar kripto.
Baca Juga: Harga Bitcoin Rebound Setelah Saham First Republic Bank Anjlok

Arus keluar pasar kripto terjadi dari semua penyedia layanan di seluruh dunia, Jerman dan Kanada mencatatkan arus keluar kripto tertinggi. Masing-masing sebesar US$40 juta (Rp587 miliar) dan US$14 juta (Rp205 miliar).
Menurut data CoinShares pada 28 April, Bitcoin dan Ethereum mencatat arus keluar terbesarnya sejak September 2022, masing-masing sebesar US$46 juta (Rp675,194 miliar) dan US$19 juta (Rp279 miliar).
Arus keluar short Bitcoin mencapai US$7,8 juta (Rp114,410 miliar) minggu ini. Meskipun begitu, arus masuk YTD didominasi oleh short Bitcoin sebesar US$119 juta (Rp1,75 triliun).
Sementara itu, sejumlah altcoin justru mencatat arus keluar yang relatif lebih kecil. Solana, Algorand, dan Polygon masing-masing mencatat arus keluar sebesar US$0.2 juta (Rp2,94 miliar), US$0.17 juta (Rp2,49 miliar) dan US$0.14 juta (Rp2,06 miliar).
Arus keluar sebesar US$2,5 juta (Rp36,7 miliar) terjadi pada Ekuitas Blockchain minggu lalu akibat sentimen negatif, namun secara keseluruhan arus bersih YTD masih positif dengan total US$27 juta (Rp397,2 miliar).
Baca Juga: Sell In May dan Pengaruhnya Terhadap Harga Bitcoin

Aset digital mengalami sentimen bearish selama dua minggu berturut-turut. Menurut laporan analis Coinshares, James Butterfill, volume pasar kripto secara keseluruhan masih relatif rendah, sekitar 50% di bawah rata-rata tahunan.
Harga Bitcoin mengalami penurunan signifikan dalam dua pekan terakhir. Gejolak ini menyebab likuidasi kontrak berjangka BTC senilai US$340 juta (4,99 miliar)
Namun, Bitcoin telah mengalami kenaikan harga sebesar 72% sepanjang tahun ini, 9% lebih unggul dibandingkan kenaikan pada indeks S&P 500.
Sementara itu, volume produk investasi Exchange Traded Product (ETP) mencapai US$1,7 miliar minggu lalu, naik 16% dari rata-rata tahunan.
ETP mencakup berbagai jenis produk investasi yang diperdagangkan di bursa saham seperti Exchange Traded Fund (ETF), Exchange Traded Commodity (ETC), dan Exchange Traded Note (ETN).
Produk investasi ETP umumnya dirancang untuk melacak kinerja aset tertentu seperti indeks saham, komoditas, atau mata uang, dan dapat dibeli dan dijual seperti saham biasa melalui bursa saham.
Baca Juga: 9 Perbedaan Bitcoin dan Saham, Mana yang Lebih Untung?
Seluruh konten berupa data dan atau informasi yang tersedia di Coinvestasi hanya bertujuan sebagai informasi dan referensi. Konten ini bukan saran atau nasihat investasi maupun trading. Seluruh pernyataan dalam artikel tidak dimaksudkan sebagai ajakan, rekomendasi, penawaran, atau dukungan untuk membeli atau menjual aset kripto apa pun.
Perdagangan di pasar keuangan, termasuk aset kripto, mengandung risiko dan dapat menyebabkan kerugian hingga kehilangan seluruh dana. Kamu wajib melakukan riset secara mandiri sebelum mengambil keputusan. Seluruh keputusan investasi atau trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu setelah memahami risiko yang ada.Gunakan hanya platform atau aplikasi aset kripto yang terdaftar dan beroperasi secara legal di Indonesia. Daftar platform aset kripto yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat diakses melalui di sini.
Topik
Coinvestasi Update Dapatkan berita terbaru tentang crypto, blockchain, dan web3 langsung di inbox kamu.