Pemula
Untuk kamu yang baru mau mulai masuk dan belajar dasar - dasar cryptocurrency dan blockchain.Temukan ragam materi mulai dari Apa itu Cryptocurrency, apa itu Bitcoin, hingga Apa itu NFT.
Stablecoin · 6 min read

Harga emas mencetak rekor tertinggi sepanjang masa setelah menembus level US$5.000 per ons pada akhir pekan lalu. Momentum kenaikan ini bertepatan dengan laporan terbaru Tether yang menunjukkan bahwa pertumbuhan suplai token emas digital miliknya, Tether Gold (XAUT), kini melaju jauh lebih cepat dibandingkan stablecoin andalannya, USDT.
Dalam laporan yang dipublikasikan pada Senin (26/1/2026), Tether mengungkap adanya pergeseran minat investor ke aset lindung nilai berbasis emas di tengah meningkatnya ketidakpastian sistem moneter global. Laporan tersebut dirilis saat harga emas melesat hingga melampaui US$5.100 per ons, mencerminkan lonjakan permintaan terhadap aset safe haven.
Berdasarkan laporan firma akuntansi BDO Italia, hingga 31 Desember 2025 Tether telah mencetak sekitar 375.000 token XAUT. Jumlah ini meningkat 38% dibandingkan tiga bulan sebelumnya. Sebagai pembanding, kapitalisasi pasar USDT hanya tumbuh sekitar 7% dalam periode yang sama menjadi US$187 miliar atau sekitar Rp3.134 triliun, menurut data CoinGecko.
Dengan demikian, laju pertumbuhan suplai XAUT tercatat sekitar lima kali lebih cepat dibandingkan USDT sepanjang kuartal IV 2025. Tren ini mencerminkan meningkatnya minat investor untuk memperoleh eksposur emas secara digital, seiring reli harga emas yang untuk pertama kalinya menembus level psikologis US$5.000 per ons.
Baca juga: Tether Jadi Pemegang Emas Terbesar di Luar Bank Sentral, Segini Jumlahnya
CEO Tether, Paolo Ardoino, menyatakan bahwa XAUT dirancang untuk mengurangi ketidakpastian di saat kepercayaan terhadap sistem moneter tradisional mulai melemah. Pernyataan tersebut mengisyaratkan strategi lindung nilai terhadap risiko pelemahan nilai mata uang, yang dipicu oleh membengkaknya utang pemerintah dan tekanan inflasi yang masih berlanjut di berbagai negara.
Tether Gold didukung oleh emas fisik yang disimpan di brankas Swiss. Per Senin, nilai pasar XAUT tercatat mencapai US$2,64 miliar atau sekitar Rp44,2 triliun. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan setahun sebelumnya yang masih berada di kisaran US$677 juta. Dengan kapitalisasi tersebut, XAUT kini masuk dalam jajaran 50 aset kripto terbesar secara global.
Di segmen tokenisasi emas, XAUT bersaing langsung dengan PAX Gold (PAXG), produk token emas senilai sekitar US$2 miliar yang diterbitkan Paxos sejak September 2019. Meski diluncurkan beberapa bulan lebih lambat, Tether berhasil membangun posisi dominan sebagai penerbit token emas terbesar di pasar.
Baca juga: Tether Sebut Token XAUT Didukung 7,7 Ton Emas Fisik
Selain diposisikan sebagai penyimpan nilai, Tether juga berupaya mendorong pemanfaatan emas sebagai alat pembayaran. Awal bulan ini, perusahaan memperkenalkan istilah “Scudo” yang merepresentasikan 1/1.000 ons troy emas, sebagai satuan nilai turunan dari Tether Gold.
Laporan BDO Italia juga mencatat bahwa Tether menjual sekitar 173.400 XAUT sepanjang kuartal IV 2025, lebih dari tiga kali lipat dibandingkan total penjualan dalam enam bulan sebelumnya. Dengan harga emas saat ini, jumlah tersebut setara dengan eksposur emas senilai sekitar US$882 juta atau sekitar Rp14,8 triliun.
Sementara itu, Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, sebelumnya menyebut bahwa permintaan stablecoin terhadap obligasi pemerintah AS berpotensi menekan biaya pinjaman negara. Namun, data Tether menunjukkan bahwa penerbit stablecoin tidak hanya mengandalkan surat utang negara, tetapi juga mulai mengadopsi aset alternatif seperti emas sebagai penopang nilai.
Pada September lalu, Tether mengumumkan rencana peluncuran USAT, stablecoin yang diatur penuh di Amerika Serikat dan dirancang untuk mematuhi GENIUS Act. Kerangka regulasi tersebut mewajibkan stablecoin didukung oleh kas dan obligasi pemerintah AS.
Meski demikian, laporan atestasi BDO Italia bukan merupakan audit keuangan penuh. Hal ini telah lama menjadi sorotan regulator dan pengamat industri. Dalam laporan per 30 September, BDO Italia mencatat bahwa sekitar US$12,9 miliar aset logam mulia, terutama emas batangan, digunakan untuk mendukung sekitar US$181 miliar token Tether berbasis fiat.
Analis JPMorgan sebelumnya sempat memperingatkan bahwa Tether berpotensi harus melepas sebagian cadangan emasnya demi kepatuhan regulasi. Saat itu, harga emas masih berada di kisaran US$2.950 per ons, jauh di bawah level saat ini.
Lonjakan harga emas dan pertumbuhan agresif XAUT menunjukkan bahwa tokenisasi aset riil semakin mendapat tempat di tengah dinamika global, sekaligus menandai perubahan strategi Tether yang tidak lagi semata bertumpu pada dolar AS.
Baca juga: CEO Tether Ungkap Cadangan USDT Mencakup Bitcoin dan Emas
Seluruh konten berupa data dan atau informasi yang tersedia di Coinvestasi hanya bertujuan sebagai informasi dan referensi. Konten ini bukan saran atau nasihat investasi maupun trading. Seluruh pernyataan dalam artikel tidak dimaksudkan sebagai ajakan, rekomendasi, penawaran, atau dukungan untuk membeli atau menjual aset kripto apa pun.
Perdagangan di pasar keuangan, termasuk aset kripto, mengandung risiko dan dapat menyebabkan kerugian hingga kehilangan seluruh dana. Kamu wajib melakukan riset secara mandiri sebelum mengambil keputusan. Seluruh keputusan investasi atau trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu setelah memahami risiko yang ada.Gunakan hanya platform atau aplikasi aset kripto yang terdaftar dan beroperasi secara legal di Indonesia. Daftar platform aset kripto yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat diakses melalui di sini.
Topik
Coinvestasi Update Dapatkan berita terbaru tentang crypto, blockchain, dan web3 langsung di inbox kamu.