Pemula
Untuk kamu yang baru mau mulai masuk dan belajar dasar - dasar cryptocurrency dan blockchain.Temukan ragam materi mulai dari Apa itu Cryptocurrency, apa itu Bitcoin, hingga Apa itu NFT.
Berita Bitcoin · 7 min read

Harga Bitcoin (BTC) masih tertahan di kisaran US$88.000, di saat emas dan perak justru terus mencetak rekor harga tertinggi sepanjang masa. Situasi ini memunculkan tanda tanya di kalangan pelaku pasar, ke mana arah Bitcoin selanjutnya ketika aset lindung nilai tradisional sedang “berpesta” di tengah gejolak ekonomi global.
Data CoinMarketCap pada Selasa (27/1/2026) menunjukkan Bitcoin memang sempat bangkit dari level terendah pekan ini di sekitar US$86.000 ke US$88.600. Namun, kenaikan tersebut masih terbatas, hanya sekitar 2 persen dalam 24 jam terakhir, dan belum cukup kuat untuk membawa harga kembali menembus US$90.000, level yang terakhir disentuh pada akhir pekan lalu.

Tekanan terhadap Bitcoin muncul seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi penutupan pemerintahan Amerika Serikat pada 31 Januari mendatang. Risiko ini dinilai dapat memperketat likuiditas global, kondisi yang biasanya memicu aksi jual pada aset berisiko seperti kripto. Pola panic selling yang kerap terjadi saat akhir pekan pun kembali terlihat.
Baca juga: Bitcoin Turun ke US$86.000, Investor Pilih Wait and See Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed
Di sisi lain, pasar justru ramai memburu aset yang dianggap lebih aman. Ketegangan geopolitik yang belum mereda, ditambah wacana kebijakan perdagangan yang lebih agresif dari Presiden AS Donald Trump, mendorong minat investor ke emas dan perak. Pelemahan dolar AS membuat harga logam mulia semakin menarik bagi pembeli global, sementara pembelian berkelanjutan dari bank sentral turut menopang reli harga.
Hasilnya, emas melesat menembus US$5.000 hingga US$5.100 per ons untuk pertama kalinya dalam sejarah, sementara perak sempat menyentuh US$118. Meski sempat terkoreksi, emas masih bertahan di sekitar US$5.043 atau naik 1,3 persen secara harian, sedangkan perak berada di kisaran US$108 dengan kenaikan sekitar 7 persen.
Perbedaan karakter aset menjadi faktor penting di balik kontras ini. Saat volatilitas meningkat, emas dan perak dipandang sebagai tempat berlindung nilai. Sebaliknya, Bitcoin masih lebih sering diposisikan sebagai aset pertumbuhan atau spekulatif. Ketika risiko meningkat, sebagian dana memilih mengurangi eksposur kripto dan berpindah ke aset yang dianggap lebih stabil.
Pelemahan dolar AS turut menjadi sorotan. Indeks dolar (DXY) turun ke level terendah sejak September, menyusul laporan adanya intervensi bersama antara Federal Reserve dan Bank of Japan untuk menopang nilai yen. Secara teori, kondisi ini seharusnya menguntungkan Bitcoin. Namun, absennya respons kenaikan yang signifikan justru membuat pelaku pasar semakin berhati-hati.
Mengutip CoinDesk, analis Swissblock menilai pergerakan harga Bitcoin saat ini masih mencerminkan tekanan jangka pendek. Mereka memperingatkan bahwa jika harga turun menembus area support US$84.500, Bitcoin berpotensi mengalami koreksi lebih dalam hingga ke kisaran US$74.000. Meski begitu, jika level support tersebut mampu bertahan dan tekanan risiko mereda, kondisi ini justru bisa menjadi peluang masuk bagi investor jangka menengah.
Pandangan serupa disampaikan analis Bitfinex. Mereka memperkirakan Bitcoin masih akan bergerak mendatar dalam rentang US$85.000 hingga US$94.500. Aktivitas di pasar opsi menunjukkan bahwa pelaku pasar lebih fokus mengantisipasi risiko jangka pendek, tanpa melihat adanya gangguan besar pada struktur pasar jangka panjang.
Tekanan tambahan juga datang dari arus keluar ETF Bitcoin spot yang masih berlanjut. Dalam sepekan terakhir, total dana keluar tercatat melampaui US$1,3 miliar, menandakan bahwa minat risiko dari investor institusional masih terbatas.
Selama ketidakpastian makro dan regulasi masih membayangi, Direktur Riset Kripto Charles Schwab, Jim Ferraioli, memperkirakan Bitcoin akan terus bergerak dalam rentang sempit, dari kisaran rendah US$80.000 hingga pertengahan US$90.000. Dalam kondisi seperti ini, banyak investor institusional memilih menunggu, sementara perhatian pasar masih tertuju pada emas dan perak yang terus mencetak sejarah baru.
Ke depan, arah Bitcoin diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh aktivitas jaringan, pergerakan wallet besar, serta perkembangan kebijakan dan regulasi. Sebagian trader melihat peluang pergerakan tajam ke dua arah, sementara yang lain mengingatkan bahwa pemulihan kuat kripto baru akan terjadi jika selera risiko global benar-benar kembali.
Baca juga: ETF Bitcoin AS Cetak Outflow Tertinggi, Sentuh Rp16 Triliun Sehari
Seluruh konten berupa data dan atau informasi yang tersedia di Coinvestasi hanya bertujuan sebagai informasi dan referensi. Konten ini bukan saran atau nasihat investasi maupun trading. Seluruh pernyataan dalam artikel tidak dimaksudkan sebagai ajakan, rekomendasi, penawaran, atau dukungan untuk membeli atau menjual aset kripto apa pun.
Perdagangan di pasar keuangan, termasuk aset kripto, mengandung risiko dan dapat menyebabkan kerugian hingga kehilangan seluruh dana. Kamu wajib melakukan riset secara mandiri sebelum mengambil keputusan. Seluruh keputusan investasi atau trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu setelah memahami risiko yang ada.Gunakan hanya platform atau aplikasi aset kripto yang terdaftar dan beroperasi secara legal di Indonesia. Daftar platform aset kripto yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat diakses melalui di sini.
Coinvestasi Update Dapatkan berita terbaru tentang crypto, blockchain, dan web3 langsung di inbox kamu.