Mata kuliah tentang Blockchain seperti apa ya? Ini Konsep Awalnya!

Naufal Muhammad

5th May, 2021

Seperti hampir setiap perusahaan dan institusi saat ini, universitas juga tidak mau ketinggalan kemajuan teknologi blockchain.

Di beberapa kampus, permintaan mata kuliah terkait blockchain meningkat. Pada 2014, Stern School of Business di Universitas New York menjadi institusi akademik pertama yang menawarkan mata kuliah cryptocurrency. Saat ini, hampir sebagian kampus top dunia mengajarkan kelas mengenai blockchain. Hasilnya, kampus-kampus ini bersaing dengan mengumumkan inisiatif, kursus-kursus, dan kemitraan dengan nama-nama besar.

Lihat juga artikel: Kuliah Jurusan Blockchain? New York University Aja!

Tetapi universitas harus melakukan pendekatan pada blockchain dengan hati-hati. Tidak seperti teknologi yang sedang tren sekarang seperti virtual reality atau mobil otomatis, blockchain memiliki tantangan yang membuat program pendidikan menjadi sulit. Untuk dilihat memiliki pemikiran ke depan, universitas berisiko menciptakan program yang cenderung usang, gagal memberikan pendidikan yang berharga dalam jangka panjang.

Hal yang paling penting bahwa blockchain tidak mudah diajarkan secara benar. Tidak ada kurikulum yang tersedia, sedikit buku panduan, dan area yang penuh dengan kesalahan informasi, membuatnya sulit untuk mengetahui mana yang lebih kredibel. Protokol berkembang dengan sangat cepat, dan sulit untuk membedakan antara white paper dan kenyataan. Memiliki begitu banyak perhatian di sekitar blockchain secara spesifik membingkainya sebagai pengembangan yang ajaib daripada hasil penelitian teknologi komputer selama puluhan tahun.

Matt Blaze, seorang profesor di Universitas Pennsylvania dan peneliti keamanan cyber, menunjukkan bahwa dorongan untuk program gelar dalam blockchain adalah bagian dari tren spesialisasi yang berlebihan oleh beberapa sekolah teknik. Konsepnya terdengar bagus di atas kertas tetapi tidak memenuhi janji mereka. Meskipun niat terbaik, tren berubah, dan siswa terjebak dalam jalur karier yang sempit.

Untuk menghindari jebakan ini, universitas harus mengambil pendekatan yang tidak biasa mereka lakukan. Ini melibatkan tiga pilar:

  • Berfokus pada konsep inti daripada aspek teknologi yang lebih trendi
  • Membimbing siswa untuk memahami kebutuhan industri nyata
  • Menciptakan kurikulum yang memiliki tanggal kadaluarsa yang ketat

Kunci untuk subjek yang terus berubah adalah fokus pada konsep-konsep inti sambil mengabaikan diskusi-diskusi yang tidak relevan namun populer pada masanya. Dalam hal blockchain, itu berarti penyelidikan mendalam tentang rekayasa keamanan, cryptography, dan konsep tata kelola – serta psikologi dan konteks bagaimana orang membuat keputusan. Sejauh ini, topik-topik ini telah diberikan oleh komunitas startup tetapi sebagian besar diabaikan. Sementara blockchain adalah subjek yang sangat teknis dan matematis, membangun sesuatu yang bermanfaat dengannya juga membutuhkan pemahaman yang luas tentang perilaku manusia.

Kedua, universitas dapat membantu memfokuskan kembali para wirausaha dan developer blockchain pada masalah-masalah aktual yang dihadapi bisnis. Untuk itu, sekolah harus menyesuaikan program pendidikan untuk jenjang karir yang berbeda. Blockchain berhubungan dengan hukum, teknik, dan keuangan dengan cara yang tidak terduga, jadi menganalisis dan mengarahkan dampaknya harus melalui berbagai perspektif. Seorang peneliti lingkungan mungkin paling bersemangat tentang kemampuan untuk memiliki jaringan sensor polusi terdesentralisasi, sedangkan pengacara pajak mungkin paling tertarik pada manfaat dari sifat kekekalan (immutability) blockchain.

Baca juga artikel: Rencana Jack Ma Membangun Institut Pelatihan Teknologi di Indonesia

Kesimpulan

Pada akhirnya, untuk mengikuti bidang yang berkembang pesat, instruktur perlu memperbarui setidaknya 80 persen materi mereka setiap semester. Sesuatu yang tidak memadai menjadi relevan. (Misalnya, semester terakhir fokusnya adalah pada utility token, tetapi semester ini diskusi telah beralih ke security token). Pendekatan cryptography, proses pengambilan keputusan kolektif, dan sistem organisasi data semuanya berkembang dengan cepat juga. Dan itu saja tidak cukup – mereka harus tetap terhubung dengan masalah yang dihadapi developer, pengusaha, dan peneliti. Yang paling penting universitas dapat mengajar mahasiswa bagaimana mengarungi kemajukan teknologi untuk diri mereka sendiri.

Blockchain memperoleh manfaat besar dari keterlibatan akademik yang lebih banyak karena universitas dapat memberikan kontribusi yang signifikan. Ini termasuk bekerja pada isu-isu mendasar yang berkaitan dengan keamanan, stabilitas, dan infrastruktur. Universitas menghasilkan penelitian tentang blockchain yang bermanfaat bagi setiap orang karena dapat dipercaya, dapat diandalkan, dan bebas dari konflik kepentingan.

Kenyataan bahwa Anda bisa mendapatkan pendidikan ekonomi dasar di hampir semua universitas telah membantu mendorong pertumbuhan industri keuangan selama abad terakhir. Jika blockchain pernah mencapai potensinya, maka perlu diajarkan dengan cara yang dapat diukur. Membangun dunia terdesentralisasi dan sepenuhnya digital akan membutuhkan jutaan pikiran baru yang bekerja di dalamnya – dan universitas akan menjadi kunci untuk mewujudkannya.

Sumber: Venture Beat

Naufal Muhammad

Muhammad Naufal merupakan seorang penggemar bidang makroekonomi dan keuangan. Pada saat ini fokus utama tertuju pada bidang teknologi keuangan terutama trading dan investasi crypto.

Muhammad Naufal merupakan seorang penggemar bidang makroekonomi dan keuangan. Pada saat ini fokus utama tertuju pada bidang teknologi keuangan terutama trading dan investasi crypto.