Pemula
Untuk kamu yang baru mau mulai masuk dan belajar dasar - dasar cryptocurrency dan blockchain.Temukan ragam materi mulai dari Apa itu Cryptocurrency, apa itu Bitcoin, hingga Apa itu NFT.
Berita Exchange · 8 min read

Setiap akhir tahun, pasar keuangan global memasuki fase yang tidak lazim. Aktivitas perdagangan menurun. Banyak institusi menutup pembukuan. Market maker mengurangi eksposur. Pelaku ritel mengalihkan perhatian ke agenda liburan dan aktivitas personal. Kondisi ini dikenal sebagai holiday effect.
Pasar kripto ikut terdampak. Bahkan, dalam banyak kasus, dampaknya lebih ekstrem. Berbeda dengan pasar saham atau valuta asing, pasar kripto beroperasi tanpa henti. Tidak ada jeda Natal atau Tahun Baru. Saat partisipasi pelaku pasar menurun, volatilitas justru meningkat.
Kondisi ini membuat periode libur akhir tahun menjadi salah satu fase paling berisiko untuk aktivitas trading kripto, terutama bagi trader ritel dan pengguna leverage.
Baca juga: 7 Fakta Menarik Karakter Investor Kripto Indonesia
Likuiditas menjadi fondasi utama pergerakan harga yang stabil. Saat likuiditas menipis, harga bergerak lebih tajam dan tidak proporsional. Order berukuran relatif kecil pun dapat memicu lonjakan atau penurunan harga yang signifikan.
Menurut Binance, penurunan likuiditas selama periode liburan terjadi karena beberapa faktor yang saling berkaitan. Institusi keuangan mengurangi posisi untuk menekan risiko mark-to-market di akhir tahun. Market maker menarik sebagian modal dari order book. Aktivitas trader manusia menurun dan lebih banyak digantikan oleh sistem algoritmik. Partisipasi ritel melemah karena fokus terpecah ke aktivitas di luar pasar.
Kombinasi faktor tersebut membuat order book menjadi tipis dan jarak antar harga melebar. Kondisi ini membuka ruang bagi lonjakan harga tajam, flash wick, dan likuidasi berantai.
Baca juga: Surat Akhir Tahun Co-CEO Binance: Adopsi Kripto Makin Mainstream, Likuiditas Terkonsentrasi
Fenomena ini bukan sekadar teori. Data historis menunjukkan pola yang konsisten. Pada Desember 2020, Bitcoin turun dari US$24.000 ke US$21.900 menjelang Natal, lalu melonjak hingga US$28.000 sebelum Tahun Baru.
Pada 26 Desember 2023, Bitcoin bergerak lebih dari 7 persen hanya dalam satu jam akibat dangkalnya likuiditas di pasar derivatif. Akhir pekan Thanksgiving juga kerap memicu flash wick dan likuidasi massal, terutama pada kontrak perpetual altcoin.
Pergerakan semacam ini bukan sinyal perubahan tren. Ini merupakan konsekuensi struktural dari pasar yang kekurangan partisipan aktif.
Narasi Santa Claus rally sering muncul di periode akhir tahun. Konsep ini berasal dari pasar tradisional. Namun, dalam konteks kripto, narasi tersebut tidak konsisten dan kerap menyesatkan.
Reli saat liburan tidak selalu mencerminkan kekuatan pasar. Kenaikan harga dapat terjadi semata-mata karena kekosongan likuiditas. Sebaliknya, penurunan tajam tidak otomatis menandakan pelemahan fundamental.
Pasar kripto memiliki basis likuiditas yang relatif lebih tipis dan tingkat leverage yang jauh lebih tinggi. Kombinasi ini membuat pergerakan harga selama liburan berisiko disalahartikan jika tidak dibaca dalam konteks struktur pasar.
Trader ritel paling rentan terdampak kondisi ini karena beberapa pola perilaku umum:
Situasi ini menghukum pendekatan trading yang reaktif dan berbasis impuls.
Baca juga: Binance Rilis Laporan Year in Review 2025, Rangkum Aktivitas Pengguna Sepanjang Tahun
Dalam kondisi likuiditas tipis, fokus utama adalah menjaga modal, bukan mengejar peluang, di antaranya:
Yang tidak kalah penting, tidak melakukan trading adalah pilihan yang sah. Bertahan di stablecoin, spot Bitcoin, atau menunggu likuiditas kembali normal di Januari merupakan strategi yang umum digunakan pelaku profesional.
Baca juga: Binance Tembus 300 Juta Pengguna Global, Ini Rahasianya
Beberapa pendekatan analitis dapat membantu membaca kondisi pasar selama liburan, termasuk:
Alat-alat ini tidak menghilangkan risiko, tetapi membantu menggeser pendekatan dari spekulasi ke pengelolaan risiko.
Dalam kerangka siklus pasar kripto, periode liburan bukan fase akumulasi maupun distribusi yang jelas. Ini merupakan fase anomali likuiditas.
Siklus jangka panjang kripto tetap mengikuti pola akumulasi, bull market, distribusi, dan bear market. Volatilitas di masa liburan umumnya bersifat sementara dan tidak merefleksikan posisi siklus yang sesungguhnya.
Memahami konteks ini membantu trader menghindari kesalahan membaca sinyal jangka pendek sebagai perubahan tren struktural.
Baca juga: 7 Peristiwa Penting Kripto Sepanjang 2025
Konten baik berupa data dan/atau informasi yang tersedia pada Coinvestasi hanya bertujuan untuk memberikan informasi dan referensi, BUKAN saran atau nasihat untuk berinvestasi dan trading. Apa yang disebutkan dalam artikel ini bukan merupakan segala jenis dari hasutan, rekomendasi, penawaran, atau dukungan untuk membeli dan menjual aset kripto apapun.
Perdagangan di semua pasar keuangan termasuk cryptocurrency pasti melibatkan risiko dan bisa mengakibatkan kerugian atau kehilangan dana. Sebelum berinvestasi, lakukan riset secara menyeluruh. seluruh keputusan investasi/trading ada di tangan investor setelah mengetahui segala keuntungan dan risikonya.
Gunakan platform atau aplikasi yang sudah resmi terdaftar dan beroperasi secara legal di Indonesia. Platform jual-beli cryptocurrency yang terdaftar dan diawasi BAPPEBTI dapat dilihat di sini.
Topik
Coinvestasi Update Dapatkan berita terbaru tentang crypto, blockchain, dan web3 langsung di inbox kamu.