Pemula
Untuk kamu yang baru mau mulai masuk dan belajar dasar - dasar cryptocurrency dan blockchain.Temukan ragam materi mulai dari Apa itu Cryptocurrency, apa itu Bitcoin, hingga Apa itu NFT.
Berita Bitcoin · 7 min read

Sebuah insiden teknis di exchange terdesentralisasi (DEX) derivatif Paradex menyebabkan harga Bitcoin sempat tercatat anjlok ke level US$0, yang kemudian memicu gelombang likuidasi massal di platform tersebut. Setelah dilakukan penelusuran, gangguan ini diketahui dipicu oleh masalah migrasi basis data yang berdampak langsung pada sistem perdagangan perpetual futures (perps).
Insiden terjadi pada Senin (19/1/2026) ketika sejumlah pengguna melaporkan bahwa harga Bitcoin di Paradex tiba-tiba menampilkan nilai nol, meskipun harga Bitcoin di pasar global tidak mengalami penurunan ekstrem. Gangguan ini turut memengaruhi berbagai komponen ekosistem Paradex, mulai dari blockchain, block explorer, bridge, hingga Application Programming Interface (API).
Masalah pertama kali diumumkan melalui laman status resmi Paradex, tak lama setelah media sosial dipenuhi laporan mengenai terjadinya gelombang likuidasi akibat anjloknya harga Bitcoin secara tidak wajar di platform tersebut.
Baca juga: Produk Investasi Kripto Global Catat Inflow Mingguan Rp34 Triliun, Tertinggi Sepanjang 2026
Tak lama setelah itu, tim Paradex mengonfirmasi telah mengidentifikasi sumber permasalahan dan mulai melakukan pemulihan dengan mekanisme rollback, yakni mengembalikan kondisi blockchain ke keadaan terakhir yang dinilai normal. Paradex Chain sendiri merupakan blockchain yang dibangun menggunakan Starknet stack, yaitu jaringan layer-2 Ethereum yang berfokus pada peningkatan skalabilitas.
Dalam pembaruan status resminya, Paradex menyatakan bahwa mereka akan mengembalikan kondisi jaringan ke blok 1.604.710, yakni titik sebelum proses pemeliharaan basis data dilakukan dan dianggap sebagai kondisi terakhir yang valid.
“Kami telah mengidentifikasi masalah dan akan melakukan rollback kondisi chain ke blok 1.604.710. Ini adalah waktu sebelum pemeliharaan database dan merupakan kondisi terakhir yang diketahui benar. Seluruh akun akan dipulihkan ke kondisi sebelum pemeliharaan database. Kami akan memberikan pembaruan lanjutan seiring proses rollback berlangsung,” tulis Paradex.
Setelah langkah tersebut, Paradex juga membatalkan secara paksa seluruh order terbuka yang masih tersisa guna mencegah dampak lanjutan dari gangguan sistem.
Baca juga: Korea Selatan Tutup Celah Exchange Kripto Asing Lewat Kebijakan Google Play
Paradex mengonfirmasi bahwa proses pemulihan masih berlangsung, namun seluruh dana pengguna dipastikan berada dalam kondisi aman. Pernyataan ini disampaikan untuk meredam kekhawatiran pasar terkait potensi kerugian akibat insiden tersebut.
“Upaya pemulihan masih berlangsung. Kami dapat mengonfirmasi bahwa seluruh dana pengguna berada dalam kondisi aman,” tulis Paradex dalam pembaruannya.
Hingga kini, belum terdapat angka pasti terkait total nilai likuidasi yang terjadi akibat gangguan tersebut. Namun, berdasarkan data DeFiLlama, protokol perps Paradex tercatat memiliki open interest sekitar US$641 juta atau setara Rp10,3 triliun, dengan volume transaksi mencapai sekitar US$37 miliar atau sekitar Rp595 triliun dalam 30 hari terakhir.
Paradex juga menyatakan bahwa seluruh layanan kini telah kembali beroperasi secara normal setelah proses pemulihan selesai dilakukan.
Insiden teknis di Paradex terjadi di tengah periode volatilitas tinggi harga Bitcoin secara global. Sebelumnya, Bitcoin tercatat melemah dari level di atas US$95.000 ke kisaran US$92.000 pada Senin, dengan penurunan sekitar 2% dalam 24 jam terakhir. Tekanan harga ini turut memicu likuidasi besar-besaran di pasar derivatif aset kripto.
Data CoinGlass menunjukkan bahwa total likuidasi di pasar kripto dalam 24 jam terakhir telah melampaui US$875 juta atau sekitar Rp14 triliun, dengan sekitar US$234 juta atau Rp3,7 triliun di antaranya berasal dari posisi Bitcoin. Faktor sentimen makro global, termasuk kembali memanasnya tensi dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa, turut disebut sebagai pemicu tekanan pasar.
Baca juga: Bitcoin Melemah ke US$92.000 di Tengah Kekhawatiran Perang Dagang AS–Uni Eropa
Seluruh konten berupa data dan atau informasi yang tersedia di Coinvestasi hanya bertujuan sebagai informasi dan referensi. Konten ini bukan saran atau nasihat investasi maupun trading. Seluruh pernyataan dalam artikel tidak dimaksudkan sebagai ajakan, rekomendasi, penawaran, atau dukungan untuk membeli atau menjual aset kripto apa pun.
Perdagangan di pasar keuangan, termasuk aset kripto, mengandung risiko dan dapat menyebabkan kerugian hingga kehilangan seluruh dana. Kamu wajib melakukan riset secara mandiri sebelum mengambil keputusan. Seluruh keputusan investasi atau trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu setelah memahami risiko yang ada.Gunakan hanya platform atau aplikasi aset kripto yang terdaftar dan beroperasi secara legal di Indonesia. Daftar platform aset kripto yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat diakses melalui di sini.
Topik
Coinvestasi Update Dapatkan berita terbaru tentang crypto, blockchain, dan web3 langsung di inbox kamu.