Berita Bitcoin · 5 min read

Bitcoin Melemah ke US$92.000 di Tengah Kekhawatiran Perang Dagang AS–Uni Eropa

Senin, 19 Januari 2026
bitcoin
Coinvestasi Ads Promo - Advertise

Bitcoin (BTC), aset kripto terbesar di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar, kembali melemah tajam dan turun ke bawah level US$92.500 pada awal pekan, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi perang tarif antara Amerika Serikat dan Uni Eropa. Tekanan geopolitik tersebut memperburuk sentimen pasar aset kripto yang sebelumnya sudah berada dalam kondisi rapuh.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada Senin (19/1/2026), harga Bitcoin tercatat turun dari kisaran US$95.000 ke level terendah harian di US$92.000, atau melemah lebih dari 2 persen dalam 24 jam terakhir. Hingga artikel ini ditulis, Bitcoin masih bergerak stagnan di area US$92.550 dengan kapitalisasi pasar yang turun ke sekitar US$1,8 triliun.

Grafik harian BTC/USD. Sumber: CoinMarketCap

Koreksi harga Bitcoin turut menyeret pergerakan aset kripto utama lainnya. Ethereum (ETH) tercatat turun sekitar 3 persen ke level US$3.200, sementara BNB (BNB) dan XRP (XRP) masing-masing terkoreksi di kisaran 2–4 persen. Di saat yang sama, Solana (SOL) mencatat penurunan paling dalam dengan koreksi mencapai 6 persen. Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar aset kripto global turun ke sekitar US$3,13 triliun.

Tekanan jual yang terjadi secara cepat memicu gelombang likuidasi besar di pasar derivatif. Data Coinglass menunjukkan lebih dari US$864 juta atau sekitar Rp13,8 triliun posisi terlikuidasi dalam 24 jam terakhir. Mayoritas likuidasi berasal dari posisi long, dengan nilai mencapai US$783 juta, menandakan banyak pelaku pasar yang sebelumnya bertaruh pada kelanjutan tren kenaikan harga. Secara total, lebih dari 240 ribu trader tercatat terdampak oleh likuidasi tersebut.

Total likuidasi kripto harian. Sumber: CoinGlass

Baca juga: Indeks Kripto Kembali ke Zona Rakus untuk Pertama Kali dalam Tiga Bulan

Sentimen Perang Dagang Tekan Selera Risiko Investor

Analis menilai tekanan di pasar kripto dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran bahwa eskalasi konflik dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa akan semakin menekan selera risiko investor. Dikutip dari The Block, Associate Researcher Presto Research, Min Jung, menyebut bahwa pasar kripto saat ini menunjukkan pelemahan yang lebih dalam dibandingkan kelas aset berisiko lainnya.

Menurut Min Jung, meskipun isu perang dagang AS–UE berdampak signifikan terhadap sentimen global, sejumlah aset risiko lain seperti indeks saham Korea Selatan justru bergerak relatif stabil hingga menguat. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa tekanan yang terjadi bersifat spesifik di pasar kripto, dengan investor mulai mengalihkan eksposur ke instrumen risiko lain.

Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menaikkan tarif impor terhadap delapan negara anggota NATO, termasuk Denmark, Jerman, Prancis, dan Inggris. Tarif tersebut direncanakan dimulai dari 10 persen pada 1 Februari dan meningkat hingga 25 persen pada Juni 2026, apabila Denmark menolak permintaan Amerika Serikat terkait penjualan Greenland. Pernyataan ini menuai kecaman dari para pemimpin Eropa yang menilai langkah tersebut berpotensi memicu eskalasi hubungan transatlantik.

Uni Eropa dilaporkan tengah menyiapkan langkah balasan, mulai dari pembatasan layanan perusahaan Amerika di Eropa, penerapan pajak tambahan, hingga pembatasan investasi. Situasi ini menambah ketidakpastian baru bagi pasar keuangan global, termasuk pasar aset kripto.

Analis BTC Markets, Rachael Lucas, menilai bahwa meskipun isu perang tarif memperburuk volatilitas jangka pendek, tekanan fundamental pasar kripto sebenarnya sudah terbentuk sebelumnya. Ia menyoroti mandeknya pembahasan RUU struktur pasar kripto di Amerika Serikat sebagai salah satu faktor utama yang memperlemah sentimen investor. Penundaan ini terjadi setelah Coinbase menarik dukungannya, yang mendorong Komite Perbankan Senat menunda agenda pembahasan tanpa kepastian jadwal lanjutan.

Selain faktor regulasi, Lucas juga mencatat bahwa Bitcoin telah berada dalam fase konsolidasi panjang sejak mencetak rekor tertinggi di kisaran US$126.000 pada Oktober 2025. Tekanan ambil untung yang berkelanjutan, penembusan rata-rata pergerakan 50 pekan, serta aksi jual algoritmik mempercepat koreksi harga.

Jika tekanan makroekonomi global dan ketidakpastian regulasi berlanjut, Lucas memperkirakan Bitcoin berpotensi turun ke kisaran US$67.000 hingga US$74.000. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kondisi saat ini belum dapat disamakan dengan periode crypto winter sebelumnya, mengingat industri aset kripto dinilai semakin matang dan arah regulasi global yang relatif lebih konstruktif dibandingkan siklus sebelumnya.

Baca juga: Reli Bitcoin Angkat Inflow ETF BTC Spot ke Rekor Tertinggi Tiga Bulan, Tembus Rp12 Triliun


Coinvestasi Ads Promo - Advertise

Disclaimer

Seluruh konten berupa data dan atau informasi yang tersedia di Coinvestasi hanya bertujuan sebagai informasi dan referensi. Konten ini bukan saran atau nasihat investasi maupun trading. Seluruh pernyataan dalam artikel tidak dimaksudkan sebagai ajakan, rekomendasi, penawaran, atau dukungan untuk membeli atau menjual aset kripto apa pun.

Perdagangan di pasar keuangan, termasuk aset kripto, mengandung risiko dan dapat menyebabkan kerugian hingga kehilangan seluruh dana. Kamu wajib melakukan riset secara mandiri sebelum mengambil keputusan. Seluruh keputusan investasi atau trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu setelah memahami risiko yang ada.Gunakan hanya platform atau aplikasi aset kripto yang terdaftar dan beroperasi secara legal di Indonesia. Daftar platform aset kripto yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat diakses melalui di sini.

author
Dilla Fauziyah

Editor

arrow

Terpopuler

Loading...
Coinvestasi Ads Promo - Advertise
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...

#SemuaBisaCrypto

Belajar aset crypto dan teknologi blockchain dengan mudah tanpa ribet.

Coinvestasi Update Dapatkan berita terbaru tentang crypto, blockchain, dan web3 langsung di inbox kamu.