Berita Mining · 5 min read

Data Membuktikan 60% Energi untuk Mining Bitcoin Ramah Lingkungan

Data Membuktikan 60% Energi untuk Mining Bitcoin Ramah Lingkungan

Bitcoin Mining Council, sebuah forum dewan pengawas kegiatan Mining Bitcoin yang berisi oleh relawan dan didukung oleh CEO MicroStrategy, Michael Saylor dan CEO Tesla, Elon Musk, baru mempublikasi laporan terkait data Bitcoin Mining

Tercatat bahwa saat ini sekitar 60% energi yang digunakan untuk menambang Bitcoin adalah energi yang ramah lingkungan atau dapat diperbaharui. 

Data Membuktikan 60% Mining Bitcoin Ramah Lingkungan 

Dalam laporan yang berisi survei yang diambil dari sekitar 50% partisipan Mining Bitcoin di seluruh dunia, tercatat bahwa sebagian besar penambang bergantung pada energi dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui. 

Tercatat bahwa dari Januari 2022 hingga Maret 2022, 58,4% penambang Bitcoin melakukan Mining Bitcoin dengan energi yang dapat diperbaharui. 

Angka tersebut adalah peningkatan yang signifikan dari Tahun 2021, menandakan bahwa lebih banyak penambang yang sadar akan dampak Mining Bitcoin terhadap lingkungan. 

Jika dibandingkan dengan tahun lalu di bulan yang sama tercatat bahwa kegunaan energi ramah lingkungan mengalami apresiasi sekitar 36,8% dan secara keseluruhan menggambarkan kenaikan 59% dari tahun 2021 ke tahun 2022. 

Baca juga: Penggunaan Energi Ramah Lingkungan Naik! Benarkah?

Perdebatan mengenai kegunaan energi yang tidak ramah lingkungan serta bagaimana Bitcoin dan crypto merusak lingkungan dibuat ramai di pertengahan 2021 oleh Elon Musk, CEO Tesla. 

Pernyataan bahwa Bitcoin tidak ramah lingkungan juga menjadi alasan terbentuknya Bitcoin Mining Council yang juga didukung oleh Elon Musk

Setelah banyaknya kesadaran tentang dampak lingkungan dari Mining Bitcoin, banyak penambang atau miners yang mengganti sumber energinya.

Laporan yang dibentuk oleh Bitcoin Mining Council juga menyatakan bahwa bersama perubahan sumber energi ini, terjadi peningkatan dalam efisiensi penggunaan energi. 

Tercatat bahwa efisiensi penggunaan energi dalam penambangan Bitcoin mengalami kenaikan hingga 63% dan penggunaan energi mengalami penurunan hingga 25% dari kuartal pertama 2021 hingga kuartal pertama 2022. 

Banyak analis yang menyatakan bahwa perubahan ini terjadi karena penggunaan energi dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui.

Saat ini dua sumber daya alam yang paling sering digunakan adalah dari sumber panas matahari dan angin. 

Bersama data ini, asumsi bahwa Bitcoin dan crypto merusak lingkungan, mulai mengalami perubahan, terutama jika melihat lebih banyak blockchain lain sebagai alternatif Bitcoin. 

Blockchain Ramah Lingkungan Alternatif Bitcoin 

Saat ini narasi bahwa crypto merusak lingkungan adalah sebuah narasi yang salah akibat telah banyaknya inovasi yang dilakukan dalam teknologi ledger terutama blockchain. 

Terdapat banyak crypto yang menggunakan energi lebih efisien dan dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui jauh dari Bitcoin. 

Beberapa blockchain membutuhkan puluhan bahkan ribuan kali lipat konsumsi energi yang lebih kecil dibandingkan Bitcoin dan beberapa blockchain generasi pertama lainnya. 

Beberapa contohnya adalah Algorand, Harmony, dan Hedera yang secara teknis bukan sebuah blockchain namun masuk ke kategori teknologi ledger. 

Algorand (ALGO) membutuhkan energi sekitar 0.00001 kilowatt per jam per transaksi yang merupakan salah satu blockchain dengan konsumsi energi paling rendah. 

Harmony (ONE) dan Hedera (HBAR) membutuhkan energi sekitar 0.001 kilowatt per jam per transaksi yang juga tergolong rendah dibandingkan mayoritas blockchain yang ada saat ini. 

Bitcoin sendiri menggunakan biaya transaksi sekitar 200 hingga 2.000 kilowatt per jam per transaksi yang merupakan blockchain dengan konsumsi energi tertinggi saat ini. 

Sebagai pembanding, Visa, salah satu perusahaan jasa keuangan yang juga digunakan oleh banyak bank, menggunakan konsumsi energi sekitar 0.0015 kilowatt per jam per transaksi. 

Melihat data tersebut, sangat wajar banyak pencinta lingkungan yang menyerang Bitcoin karena masih tidak efisien dan kalah dengan efisiensi sistem tersentralisasi seperti Visa. 

Lama-kelamaan kritik tersebut jika diutarakan terhadap crypto secara menyeluruh akan tidak valid karena banyaknya inovasi terutama dengan adanya blockchain seperti Algorand. 

Mayoritas blockchain yang efisiensi energinya tinggi tersebut juga menggunakan energi dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui. 

Jadi kesimpulannya untuk saat ini Bitcoin dan mayoritas crypto mulai mengarah ke penggunaan energi dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan ramah lingkungan. 

Sehingga data dari Bitcoin Mining Council memperkuat dan mendukung pertumbuhan crypto secara menyeluruh, terutama dalam persaingannya dengan sistem tersentralisasi yaitu perbankan. 

Disclaimer

Konten baik berupa data dan/atau informasi yang tersedia pada Coinvestasi hanya bertujuan untuk memberikan informasi dan referensi, BUKAN saran atau nasihat untuk berinvestasi dan trading. Apa yang disebutkan dalam artikel ini bukan merupakan segala jenis dari hasutan, rekomendasi, penawaran, atau dukungan untuk membeli dan menjual aset kripto apapun.

Perdagangan di semua pasar keuangan termasuk cryptocurrency pasti melibatkan risiko dan bisa mengakibatkan kerugian atau kehilangan dana. Sebelum berinvestasi, lakukan riset secara menyeluruh. seluruh keputusan investasi/trading ada di tangan investor setelah mengetahui segala keuntungan dan risikonya.

Gunakan platform atau aplikasi yang sudah resmi terdaftar dan beroperasi secara legal di Indonesia. Platform jual-beli cryptocurrency yang terdaftar dan diawasi BAPPEBTI dapat dilihat di sini.

author
Naufal Muhammad

Editor

arrow

Terpopuler

Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...

#SemuaBisaCrypto

Belajar aset crypto dan teknologi blockchain dengan mudah tanpa ribet.

Coinvestasi Update Dapatkan berita terbaru tentang crypto, blockchain, dan web3 langsung di inbox kamu.