Pemula
Untuk kamu yang baru mau mulai masuk dan belajar dasar - dasar cryptocurrency dan blockchain.Temukan ragam materi mulai dari Apa itu Cryptocurrency, apa itu Bitcoin, hingga Apa itu NFT.
Berita Bitcoin · 5 min read

Harga Bitcoin (BTC) kembali melemah pada perdagangan awal pekan dan turun ke kisaran US$86.000, seiring meningkatnya kehati-hatian pasar menjelang keputusan suku bunga pertama Federal Reserve (The Fed) di 2026 serta memanasnya tensi makroekonomi global.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada Senin (26/1/2026), harga Bitcoin sempat bergerak di area US$89.000 sebelum terkoreksi lebih dalam ke level terendah harian di US$86.000, dengan penurunan hampir 2 persen dalam 24 jam terakhir. Hingga artikel ini ditulis, BTC tercatat mengalami rebound terbatas ke kisaran US$87.200, dengan kapitalisasi pasar sekitar US$1,74 triliun.

Tekanan jual juga menjalar ke aset kripto utama lainnya. Ethereum (ETH) turun ke kisaran US$2.800, sementara Solana (SOL), XRP, dan BNB masing-masing terkoreksi di rentang 3–5 persen.
Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto global kini berada di sekitar US$2,95 triliun, turun sekitar 2 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Sentimen pasar kripto masih berada dalam kondisi rapuh. Dalam tujuh hari terakhir, mayoritas aset kripto utama tercatat bergerak di zona merah, mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar terhadap berbagai faktor eksternal. Indeks Fear and Greed kripto saat ini berada di level 20 dari 100, mengindikasikan kondisi extreme fear yang membuat investor cenderung menahan diri untuk masuk ke pasar.

Baca juga: Bitcoin Turun ke US$87.000, Tertekan Gejolak Pasar Global
Penurunan harga tersebut turut memicu likuidasi besar-besaran di pasar derivatif. Data CoinGlass mencatat sekitar US$605 miliar posisi long yang bertaruh kenaikan harga justru dilikuidasi dalam 24 jam terakhir, dengan long Ethereum menyumbang sekitar US$202 juta dan Bitcoin sekitar US$179 juta.

Tekanan jual ini memperpanjang fase koreksi yang telah berlangsung selama sepekan terakhir, di tengah kombinasi sentimen negatif dari risiko politik Amerika Serikat, gejolak pasar mata uang global, hingga antisipasi laporan keuangan perusahaan teknologi raksasa.
Pelaku pasar juga mencermati potensi intervensi yen Jepang setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi memperingatkan adanya pergerakan nilai tukar yang dinilai “tidak normal”. Pernyataan tersebut muncul usai penguatan tajam yen pada akhir pekan lalu, yang memicu kewaspadaan di kalangan pelaku pasar Asia, meskipun otoritas Jepang belum mengonfirmasi langkah intervensi resmi.
Di sisi lain, risiko politik di Amerika Serikat turut menambah tekanan sentimen. Mengutip laporan CoinDesk, Pemimpin Mayoritas Senat dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, menyatakan partainya akan memblokir rancangan undang-undang belanja pemerintah kecuali pendanaan Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) dicabut. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan terjadinya partial government shutdown dalam waktu dekat.
Situasi semacam ini kerap berdampak pada pengetatan likuiditas jangka pendek dan membebani aset berisiko, terutama ketika posisi pasar sudah relatif padat. Secara historis, Bitcoin kerap mengalami tekanan jual menjelang potensi shutdown pemerintah AS, sebelum akhirnya mencatatkan pemulihan pada fase berikutnya.
Baca juga: OJK Catat 72% Exchange Kripto Lokal Masih Merugi
Selain faktor politik dan makro, perhatian pasar juga tertuju pada keputusan suku bunga The Fed. Meski bank sentral AS diperkirakan akan menahan suku bunga, pelaku pasar akan mencermati secara ketat pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell dalam konferensi pers pascakeputusan. Nada komunikasi dan arah kebijakan The Fed dinilai berpotensi memicu volatilitas lanjutan di berbagai kelas aset, termasuk kripto.
Fokus pasar juga mengarah ke pekan yang padat agenda dengan rilis laporan keuangan sejumlah perusahaan teknologi besar yang tergabung dalam kelompok Magnificent Seven, seperti Microsoft, Meta Platforms, Tesla, dan Apple.
Investor akan mencermati sejauh mana kinerja serta pandangan perusahaan-perusahaan tersebut terhadap perkembangan industri kecerdasan buatan (AI). Mengingat Bitcoin semakin diperlakukan sebagai aset berisiko, pergerakannya dinilai berpotensi ikut dipengaruhi oleh sentimen dari sektor teknologi global.
Baca juga: Smart Money Borong Bitcoin Rp54 Triliun Saat Investor Ritel Pilih Jualan
Seluruh konten berupa data dan atau informasi yang tersedia di Coinvestasi hanya bertujuan sebagai informasi dan referensi. Konten ini bukan saran atau nasihat investasi maupun trading. Seluruh pernyataan dalam artikel tidak dimaksudkan sebagai ajakan, rekomendasi, penawaran, atau dukungan untuk membeli atau menjual aset kripto apa pun.
Perdagangan di pasar keuangan, termasuk aset kripto, mengandung risiko dan dapat menyebabkan kerugian hingga kehilangan seluruh dana. Kamu wajib melakukan riset secara mandiri sebelum mengambil keputusan. Seluruh keputusan investasi atau trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu setelah memahami risiko yang ada.Gunakan hanya platform atau aplikasi aset kripto yang terdaftar dan beroperasi secara legal di Indonesia. Daftar platform aset kripto yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat diakses melalui di sini.
Coinvestasi Update Dapatkan berita terbaru tentang crypto, blockchain, dan web3 langsung di inbox kamu.