Berita Bitcoin · 5 min read

Bitcoin Turun ke US$87.000, Tertekan Gejolak Pasar Global

Rabu, 21 Januari 2026
Bitcoin
Coinvestasi Ads Promo - Advertise

Bitcoin (BTC), aset kripto terbesar di dunia, mengalami tekanan signifikan hingga sempat menyentuh level US$87.000 atau sekitar Rp1,38 miliar. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian makro global yang mengguncang pasar keuangan, khususnya pasar saham Amerika Serikat dan pasar obligasi Jepang. Kondisi tersebut mendorong investor global mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada Rabu (21/1/2026), harga Bitcoin tercatat turun sekitar 4 persen dalam 24 jam terakhir. Aset ini terus melemah dari kisaran US$92.000 sebelum menyentuh level terendah harian di US$87.000, lalu mengalami pemulihan terbatas ke area US$88.900. Dengan pergerakan tersebut, kapitalisasi pasar Bitcoin kini berada di sekitar US$1,77 triliun atau setara Rp28 ribu triliun.

Grafik harga BTC/USD. Sumber: CoinMarketCap

Tekanan tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Ethereum (ETH) tercatat turun sekitar 7 persen ke level US$2.950 atau sekitar Rp46,9 juta. Sementara itu, XRP melemah 3 persen, sedangkan BNB dan Solana (SOL) masing-masing terkoreksi sekitar 5 persen, menandakan tekanan yang merata di pasar aset kripto utama.

Secara luas, kapitalisasi pasar kripto kini berada di US$3 triliun, mencatat penurunan hingga 3% dalam 24 jam terakhir.

Baca juga: Bitcoin Rontok ke US$85.000, Ini Penyebabnya!

Tekanan Global Picu Aksi Jual Aset Berisiko

Pelemahan pasar kripto berlangsung seiring dengan koreksi tajam di pasar saham Amerika Serikat. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite sama-sama ditutup turun lebih dari 2 persen, sementara Dow Jones Industrial Average melemah 1,76 persen. Menurut laporan CNBC, ini menjadi sesi perdagangan terburuk bagi ketiga indeks utama AS sejak Oktober 2025.

Dampaknya juga terasa pada saham-saham yang terkait langsung dengan industri kripto. Saham exchange kripto Coinbase ditutup turun 5,6 persen, sementara Circle, penerbit stablecoin, terkoreksi 7,5 persen. Strategy, perusahaan publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar di dunia, melemah 7,8 persen. Adapun BitMine Immersion, yang dikenal sebagai pemegang treasury Ethereum terbesar, anjlok hingga 9,4 persen.

Sejumlah analis menilai penurunan ini dipicu oleh kombinasi tekanan makroekonomi global dan pelepasan posisi berleverage di pasar derivatif. Mengutip The Block, Chief Investment Officer Kronos Research, Vincent Liu, menjelaskan bahwa kondisi makro yang tidak kondusif memicu aksi risk-off, yang kemudian diperparah oleh proses pembersihan leverage dan likuidasi berantai di pasar kripto.

Dalam 24 jam terakhir, total likuidasi di pasar kripto tercatat mencapai sekitar US$1,07 miliar atau setara Rp17 triliun, berdasarkan data agregat Coinglass. Dari jumlah tersebut, sekitar US$999 juta atau sekitar Rp15,9 triliun berasal dari posisi long. Likuidasi terjadi ketika posisi trader ditutup secara paksa akibat kerugian besar atau ketidakmampuan memenuhi persyaratan margin.

Liu menambahkan bahwa meningkatnya ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa, pelemahan pasar obligasi Jepang, serta berkurangnya eksposur dana pensiun terhadap obligasi pemerintah AS turut menekan aset berisiko secara global, termasuk kripto.

Tekanan pasar semakin dalam akibat gejolak di Jepang. Head of Research Presto Research, Peter Chung, menyebut fenomena ini sebagai fase “jual Amerika”, di mana saham, obligasi pemerintah AS, dolar AS, dan Bitcoin sama-sama mengalami tekanan, sementara emas justru menguat. Menurutnya, sumber kepanikan pasar kali ini bukan berasal dari Amerika Serikat, melainkan dari Jepang, menyusul aksi jual besar-besaran pada obligasi pemerintah negara tersebut.

Lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang menjadi salah satu pemicu utama kepanikan global. Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun melonjak hampir 19 basis poin dalam dua hari, kenaikan tertajam sejak 2022. Sementara itu, imbal hasil tenor 30 tahun mencatat kenaikan harian terbesar sejak 2003, sebagaimana dilaporkan Reuters. Pemerintah Jepang melalui Menteri Keuangan Satsuki Katayama telah mengimbau pelaku pasar untuk tetap tenang.

Ke depan, perkembangan situasi ini dinilai sangat bergantung pada hasil pemilu cepat Jepang yang dijadwalkan pada 8 Februari mendatang. Chung menilai hasil pemilu tersebut berpotensi memicu dua skenario ekstrem, mulai dari krisis pasar obligasi seperti yang terjadi di Inggris pada 2022, hingga dominasi kebijakan fiskal yang memaksa bank sentral Jepang kembali ke pelonggaran moneter dan pengendalian kurva imbal hasil. Saat ini, pasar prediksi Polymarket lebih condong pada skenario kedua dengan probabilitas sekitar 91 persen.

Baca juga: Bitcoin Melemah ke US$92.000 di Tengah Kekhawatiran Perang Dagang AS–Uni Eropa

Coinvestasi Ads Promo - Advertise

Disclaimer

Seluruh konten berupa data dan atau informasi yang tersedia di Coinvestasi hanya bertujuan sebagai informasi dan referensi. Konten ini bukan saran atau nasihat investasi maupun trading. Seluruh pernyataan dalam artikel tidak dimaksudkan sebagai ajakan, rekomendasi, penawaran, atau dukungan untuk membeli atau menjual aset kripto apa pun.

Perdagangan di pasar keuangan, termasuk aset kripto, mengandung risiko dan dapat menyebabkan kerugian hingga kehilangan seluruh dana. Kamu wajib melakukan riset secara mandiri sebelum mengambil keputusan. Seluruh keputusan investasi atau trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu setelah memahami risiko yang ada.Gunakan hanya platform atau aplikasi aset kripto yang terdaftar dan beroperasi secara legal di Indonesia. Daftar platform aset kripto yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat diakses melalui di sini.

author
Dilla Fauziyah

Editor

arrow

Terpopuler

Loading...
Coinvestasi Ads Promo - Advertise
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...

#SemuaBisaCrypto

Belajar aset crypto dan teknologi blockchain dengan mudah tanpa ribet.

Coinvestasi Update Dapatkan berita terbaru tentang crypto, blockchain, dan web3 langsung di inbox kamu.