Berita Exchange · 6 min read

Apakah Industri Exchange Kripto Hanya Spekulasi? Para Ahli Berikan Pendapatnya

CEX dan DEX di kripto

Pertumbuhan industri exchange kripto juga dibersamai dengan pandangan skeptis yang menyoal bahwa industri exchange kripto baik itu Centralized Exchanges (CEX) dan Decentralized Exchanges (DEX) hanya sebuah spekulasi dan tren semata.

Para pakar exchange kripto pun menjawab dan membantah spekulasi itu melalui sebuah panel diskusi di Coinfest Asia 2023 bertajuk Clash of the Titans: Decentralized vs Centralized Trading.

Panel tersebut dihadiri oleh keempat perwakilan exchange terkemuka, diantaranya CBDO & APAC Director 1inch Samuel Yim, Founder ZKX Naman Sehgal, CEO Tokocrypto Yudhono Rawis, dan CEO Pintu Jeth Soetoyo.

Baca Juga: Beda Bursa Terpusat (CEX) dan Terdesentralisasi (DEX)

Industri Exchange Bukan Hype

Foto: Jeth Soetoyo, Samuel Yim, Amor Maclang, Naman Sehgal, dan Yudhono Rawis. Dok. Istimewa.

CEO Tokocrypto, Yudhono Rawis, tidak melihat industri exchange kripto sebagai spekulasi dan hype sesaat. Menurut Yudho, platform Centralized Exchange (CEX) terus memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam menjembatani antara pelanggan dan pasar kripto.

“CEX telah lama ada dan berperan penting sebagai akses pertama bagi banyak pelanggan selama bertahun-tahun. Dalam tiga tahun terakhir, kami memiliki lebih dari tiga juta pelanggan dan terus tumbuh. Di seluruh Indonesia, jumlah pelanggan terus bertambah hingga lebih dari 15 juta orang. Pertumbuhan ini terus berlanjut, dan investasi tampaknya semakin banyak yang datang, terutama tahun ini,” ungkap Yudhono Rawis. 

Sementara itu, perihal Decentralized Exchange (DEX) di tahun ini juga menunjukan pertumbuhan signifikan. Volume perdagangan pada platform DEX mencatat pertumbuhan hampir dua kali lipat dibandingkan CEX pada kuartal pertama 2023, yakni 33,4% (DEX) dan 16,9% (CEX).

Meskipun begitu, perbandingan volume perdagangan antara CEX dan DEX tetap dominan di atas 90% sepanjang periode yang sama.

Baca juga: Mengenal Exchange Kripto Pertama di Dunia!

Regulasi Miliki Peran Penting

Sementara itu, industri ini juga bukan merupakan spekulasi dilihat dari semakin seriusnya regulator membuat aturan agar industri kripto bisa bertumbuh dan diadopsi berbagai kalangan dengan aman. Salah satu contoh regulasi kripto dapat dilihat di Indonesia.

CEO Pintu, Jeth Soetoyo, menyoroti langkah pemerintah Indonesia yang berhasil meluncurkan bursa kripto pertama di dunia. Bursa kripto Indonesia menerapkan pendekatan yang memisahkan fungsi bursa, kliring, kustodian, dan pialang.

Dalam upaya mengantisipasi insiden serupa dengan FTX, bursa kripto mewajibkan exchange untuk menyimpan 70% dana pelanggan di dalam kustodian.

“Pemerintah telah mengadopsi pendekatan yang memisahkan peran bursa, kliring, kustodian, dan pialang, dengan tujuan untuk meningkatkan akuntabilitas berbagai pemangku kepentingan dalam berbagai aspek bisnis kripto. Langkah ini diambil untuk mencegah insiden seperti yang terjadi dengan FTX di Indonesia,” ungkap Jeth Soetoyo.

Hal serupa juga disampaikan oleh CEO Tokocrypto, Yudhono Rawis. Menurut Yudho, bursa terpusat di Indonesia telah tunduk pada regulasi yang ketat dalam hal keamanan dan perlindungan konsumen. 

Sementara itu, Sehgal berpandangan bahwa regulasi sejatinya akan mengikuti inovasi. Dia juga meyakini, perkembangan platform DEX saat ini telah cukup signifikan. Sehgal menyebutkan pihaknya telah bekerja sama dengan delapan mitra untuk mengembangkan inovasi pada platformnya.

“Regulasi kemungkinan akan datang seiring berjalannya waktu, karena regulasi biasanya mengikuti perkembangan industri dan inovasi,” ungkap Sehgal.

Baca juga: 9 Tips Memilih Bitcoin Wallet (Dompet Bitcoin) Terbaik

Tantangan Bagi Industri Exchange

Agar industri ini terus tumbuh dan melepaskan diri dari spekulasi yang bermunculan dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak untuk menyelesaikan tantangan, salah satunya terkait masalah keamanan dan risiko peretasan.

Risiko peretasan menjadi tantangan besar bagi setiap platform, termasuk DEX dan CEX. Insiden peretasan pada platform keuangan terdesentralisasi (DeFi) telah menimbulkan keraguan atas sejauh mana desentralisasi dapat memberikan keamanan. 

Ada kekhawatiran tentang kerentanan yang dimanfaatkan oleh peretas dalam platform terdesentralisasi. Para korban bertanya-tanya siapa yang bertanggung jawab jika dana mereka dicuri, bahkan jika mereka mengelola kunci pribadi dengan benar. 

Sama halnya dengan platform CEX yang juga rentan menjadi korban peretasan. Sebagai contoh, exchange asal Jepang yakni Mt. Gox sempat menjadi korban peretasan yang mengakibatkan pencurian sekitar 850.000 Bitcoin. Meskipun demikian, laporan Chainalysis mengungkapkan, sebagian besar peretasan saat ini lebih cenderung menargetkan protokol DeFi. 

Baca Juga: Tokenplace Gabungkan CEX dan DEX di Satu Platform

Disclaimer

Konten baik berupa data dan/atau informasi yang tersedia pada Coinvestasi hanya bertujuan untuk memberikan informasi dan referensi, BUKAN saran atau nasihat untuk berinvestasi dan trading. Apa yang disebutkan dalam artikel ini bukan merupakan segala jenis dari hasutan, rekomendasi, penawaran, atau dukungan untuk membeli dan menjual aset kripto apapun.

Perdagangan di semua pasar keuangan termasuk cryptocurrency pasti melibatkan risiko dan bisa mengakibatkan kerugian atau kehilangan dana. Sebelum berinvestasi, lakukan riset secara menyeluruh. seluruh keputusan investasi/trading ada di tangan investor setelah mengetahui segala keuntungan dan risikonya.

Gunakan platform atau aplikasi yang sudah resmi terdaftar dan beroperasi secara legal di Indonesia. Platform jual-beli cryptocurrency yang terdaftar dan diawasi BAPPEBTI dapat dilihat di sini.

author
Anggita Hutami

Editor

arrow

Terpopuler

Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...

#SemuaBisaCrypto

Belajar aset crypto dan teknologi blockchain dengan mudah tanpa ribet.

Coinvestasi Update Dapatkan berita terbaru tentang crypto, blockchain, dan web3 langsung di inbox kamu.