Coinvestasi (Banner Ads - Promo Coupon)

Berita NFT · 8 min read

3 Hal yang Bisa Membuat NFT Menjadi Bubble

3 Hal yang Bisa Membuat NFT Menjadi Bubble

NFT jadi perbincangan hangat secara luas, apalagi setelah banyak NFT terjual dengan harga fantastis seperti karya Beeple berjudul Everydays: The First 5000 Days yang terjual $69,346,250 setara dengan sembilan triliun Rupiah.

Terinspirasi dari Beeple, NFT buatan orang Indonesia yakni Ghozali juga berhasil raih popularitas dan terjual puluhan juta rupiah. Selain keduanya masih banyak karya digital yang terjual dengan harga yang mencengangkan.

Melihat fenomena ini tentu muncul beragam pertanyaan dan kekhawatiran. Utamanya soal apakah NFT ini hanya trend semata atau akan menjadi bubble, kondisi di mana sebuah aset yang sudah bernilai tinggi akan turun dengan cepat dan hilang dari pasaran. 

Sangat mungkin NFT menjadi bubble apabila hal-hal di bawah ini terus terjadi dan tidak segera diatasi. Apa saja hal yang bisa membuat NFT menjadi buble?

Pasar NFT Terus Turun

Pasar NFT nyatanya mulai terlihat tenang dalam beberapa waktu terakhir.

Menurut Bloomberg, nilai perdagangan rata-rata dari NFT telah turun drastis akhir-akhir ini, menurun dari rekor $6.900 pada awal tahun menjadi di bawah $2.000 dari data tracker NFT NonFungible. 

Data penjualan NFT dalam satu bulan. Sumber: NFT Tracker.

Penjualan utama NFT juga turun secara nyata dalam satu bulan terakhir, menurut data tercatat penjualan NFT turun 29% dan 1,17% penjualan dalam USD.

Sedangkan penjualan utama yakni penjualan yang berlangsung di website proyek NFT  turun 73%, dan dalam USD turun 49%. 

Menurut data Financial Times, volume transaksi harian untuk NFT di OpenSea turun 80% menjadi $50 juta di bulan Maret, dibandingkan dengan $284 juta di bulan Februari.

Penurunan Volume OpenSea. Sumber: Financial Times

Di OpenSea, pelacak NFT DappRadar juga menunjukkan penurunan jumlah trader dan volume secara keseluruhan.

Volume perdagangan keseluruhan telah anjlok hampir 67 persen dalam 30 hari  selama Maret. menjadi $2,6 miliar,  dengan trader turun 23 persen menjadi 489.796 pengguna.

Yang lebih luar biasa adalah, bahkan selama “penjualan NFT yang hebat” jutaan dolar dan cryptocurrency masih memiliki sirkulasi yang kuat di OpenSea setiap hari.

Orang-orang masih menghabiskan rata-rata ribuan dan ratusan ribu dolar untuk NFT, tetapi penelitian menunjukkan bahwa hal tersebut telah menurun.

Penurunan juga dapat dikaitkan dengan peningkatan pengawasan dari regulator AS.

Menurut artikel Bloomberg, Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) menyatakan minggu ini bahwa mereka sedang menyelidiki apakah NFT adalah sekuritas dan harus diatur.

Menjadi Skema Ponzi

Selain nilainya yang turun, NFT juga masih memiliki sentimen negatif, misalnya untuk pencucian uang.

Dengan NFT pencucian uang bisa dengan mudah dilakukan karena pembeli dan penjual tidak bisa terlacak sepenuhnya apabila mereka menggunakan identitas anonim.

NFT juga disebut mirip skema ponzi, dikutip dari The Conversation. Hal ini didasari karena beberapa kesamaan yang dimiliki, misalnya pembeli pertama akan mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi dari pada pembeli terakhir yang sudah tertinggal tren NFT yang ia beli.

Ketika itu terjadi maka pembeli terakhir tidak akan mendapatkan keuntungan apa-apa, karena NFT yang ia beli tidak memiliki peminat lagi.

Baca juga: 7 Game NFT Android Terbaik Layak Dicoba

Tidak Memiliki Nilai Fundamental

Harus diakui masih banyak NFT yang tidak memiliki nilai fundamental dan kegunaan yang jelas. Hanya berupa gambar acak yang dibeli pengguna karena FOMO.

Apabila NFT terus-menerus seperti ini maka sangat mungkin bubble akan terjadi, dan karya NFT yang memiliki fungsi jelas ikut terseret ke dalam sentimen negatif ini dan pada akhirnya akan membuat market NFT hancur.

Dampak NFT bubble apabila terjadi juga tidak akan berefek pada NFT saja, tetapi bisa menyebar ke aset crypto secara umum, karena untuk membeli NFT dibutuhkan crypto lain sebagai alat transaksi. 

Semakin besar gelembungnya, semakin luas penularannya saat pecah.

“ Ini mungkin merupakan pendewaan, puncak dari paradigma semua bubble. Ini sangat mengkhawatirkan saya bahkan jika saya sepenuhnya memahami dinamika yang mendorong orang-orang muda pada khususnya membeli NFT,” kata Michael Every, kepala riset pasar keuangan Rabobank untuk Asia-Pasifik.

Untuk meredam kekhawatiran akan bubble NFT, Evan Cohen, pendiri Vincent pun memberikan saran. 

 “Jangan membelinya karena ini adalah NFT, beli karena suka seninya atau beli karena menurut kamu koleksinya keren atau komunitasnya keren. Kamu ingin berpartisipasi untuk aset, bukan teknologi dasar yang mendukung ini, “ katanya. 

Hingga saat ini NFT memang masih menjadi hal yang penuh spekulasi.

Ketiga hal tersebut menunjukkan bahwa industri ini belum stabil dan dikelilingi sentimen negatif yang bisa merusak ekosistem dan membuat NFT bubble apabila tidak segera diatasi oleh para penggiat industri NFT.

Disclaimer

Konten baik berupa data dan/atau informasi yang tersedia pada Coinvestasi hanya bertujuan untuk memberikan informasi dan referensi, BUKAN saran atau nasihat untuk berinvestasi dan trading. Apa yang disebutkan dalam artikel ini bukan merupakan segala jenis dari hasutan, rekomendasi, penawaran, atau dukungan untuk membeli dan menjual aset kripto apapun.

Perdagangan di semua pasar keuangan termasuk cryptocurrency pasti melibatkan risiko dan bisa mengakibatkan kerugian atau kehilangan dana. Sebelum berinvestasi, lakukan riset secara menyeluruh. seluruh keputusan investasi/trading ada di tangan investor setelah mengetahui segala keuntungan dan risikonya.

Gunakan platform atau aplikasi yang sudah resmi terdaftar dan beroperasi secara legal di Indonesia. Platform jual-beli cryptocurrency yang terdaftar dan diawasi BAPPEBTI dapat dilihat di sini.

author
Anisa Giovanny

Editor

arrow

Terpopuler

Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...

#SemuaBisaCrypto

Belajar aset crypto dan teknologi blockchain dengan mudah tanpa ribet.

Coinvestasi Update Dapatkan berita terbaru tentang crypto, blockchain, dan web3 langsung di inbox kamu.