Linkedin Share
twitter Share

Bitcoin · 5 min read

9 Mitos Bitcoin yang Keliru, Pemula Wajib Baca!

Ini 9 Mitos Bitcoin yang Keliru! Pemula Wajib Baca

Banyak mitos soal Bitcoin yang ada di luar sana. BTC termasuk aset yang baru, sehingga pengetahuan masyarakat soal aset ini pun masih terbilang minim.

Apalagi BTC tidak diatur oleh otoritas pusat sehingga mitos-mitos atau hal-hal negatif soal Bitcoin susah dikendalikan jika merebak di kalangan masyarakat.

Karena itu, di artikel ini ada 9 mitos yang seringkali membuat masyarakat keliru soal Bitcoin menurut Sylvian Surel, penggiat aset kripto di In Bitcoin We Trust.

Bitcoin Adalah Skema Ponzi

Sejak awal, Bitcoin sangat sering dituduh sebagai Skema Ponzi oleh para kritikusnya. Namun mitos tersebut dapat dipatahkan oleh sebuah laporan dari Kepala Ekonom Bank Dunia Kuashik Basu yang menyatakan jika Bitcoin bukanlah skema ponzi. 

Nilai utama Bitcoin adalah sebagai perbandingan bagi bank sentral untuk meningkatkan prospek mata uang digital dan bagaimana mereka dapat meningkatkan efisiensi dan memotong biaya transaksi.

Orang-orang yang terus berpikir bahwa Bitcoin adalah Skema Ponzi pada tahun 2020 jelas orang-orang yang masih salah informasi dan tentu ini harus segera diluruskan. 

Lagi pula dalam perdagangan Bitcoin ada data-data yang tersedia dan bisa dianalisis untuk menentukan harga aset kripto itu di masa depan.

Sedangkan, dalam skema ponzi jelas ini tidak dapat dilakukan karena modus penipuan ini hanya mengandalkan uang dari anggota-anggotanya.

Baca juga: Apakah Bitcoin Skema Ponzi? Ini Jawabannya

BTC adalah Gelembung Spekulasi

Pada awalnya sangat sedikit orang yang tertarik dengan Bitcoin, namun seiring waktu BTC makin meyakinkan dan diminati oleh orang banyak.  

Namun, setelah harga Bitcoin menyentuh angka $1.000 banyak orang yang merasa terancam dan menuduh Bitcoin sebagai speculation bubble. BTC dianggap terlalu berisiko dan tidak akan pernah naik lagi.

Bahkan BTC pernah dibandingkan dengan Tulip Mania tahun 1636 atau gelembung Dot-com awal 2000-an.  Memang ada beberapa orang yang hanya melihat Bitcoin sebagai alat spekulasi baru untuk menghasilkan keuntungan besar.

Tetapi, ini tidaklah berarti Bitcoin adalah sebuah gelembung spekulatif. Karena meski harganya sedang rendah Bitcoin terus melaju dengan berbagai pengembangan terbaru.  

Bitcoin Pernah Diretas

Kritikus Bitcoin menuduh jika blockchain Bitcoin tidak aman dan pernah diretas. Mitos ini sungguh salah, karena pada kenyataannya Bitcoin belum pernah diretas sepanjang sejarahnya.

Perlu digarisbawahi yang diretas adalah bursa kripto tempat di mana Bitcoin disimpan, bukan blockchain Bitcoinnya.  

Namun, Bitcoin pernah mengalami masalah peranti lunak, tetapi  komunitas pengembang segera tanggap untuk mengatasi masalah tersebut. Bitcoin adalah perangkat lunak sumber terbuka yang sangat aman yang terus ditingkatkan oleh komunitas pengembang.

Baca juga: 5 Kegunaan Teknologi Blockchain Dalam Layanan Keuangan

BTC Terlalu Rumit Dipakai

Bitcoin adalah sistem mata uang elektronik peer-to-peer dengan konspe blockchain yang terdesentralisasi. Untuk mempertahankan sistem tersebut BTC menggunakan sistem kunci kriptografis yang rumit dipahami oleh orang awam.

Komplekstitas ini yang digunakan para kritikus Bitcoin untuk menyebarkan anggapan jika aset kripto ini rumit digunakan. Padahal jika Anda hanya pengguna biasa Bitcoin, ini tidak rumit sama sekali.

Karena Anda dapat menyimpan Bitcoin di wallet web atau dompet seluler dan melakukan transaksi semudah mengirim surel dan seiring waktu penggunaan BTC tentu akan makin mudah.

Bitcoin Tidak Transparan dan Anonim

Pemerintah tidak menyukai Bitcoin karena dianggap tidak transparan dan anonim. Menurut mereka, apa yang dilakukan pada Bitcoin di blockchain tidak dapat dilihat oleh semua orang.

Mitos Bitcoin ini jelas keliru, karena seluruh transaksi Bitcoin di blockchain dapat diakses oleh publik yang terlibat. Di sisi lain, pengguna dapat melakukan transaksi yang tetap anonim selama mereka tidak mengungkapkan address wallet yang mereka gunakan untuk transaksi.

Bitcoin Promosikan Pencucian Uang

Ketika harga Bitcoin meroket di akhir 2017, banyak bank menjadi semakin kritis terhadap Bitcoin. Menurut bank-bank besar dunia, Bitcoin mempromosikan pencucian uang. Sekali lagi, ini adalah mitos yang pantas dibantah.

Bitcoin tidak secara khusus digunakan untuk pencucian uang. Berbagai penelitian yang dilakukan selama tahun 2018 telah memastikan bahwa risiko pencucian uang dengan Bitcoin sangat kecil.  

Justru pencucian uang seringkali melibatkan bank-bank besar, seperti Denmark Danske Bank  yang didakwa mencuci US$300 miliar pada era tahun 2000an.

Bitcoin Tidak Lebih dari Penyimpanan Nilai

Bitcoin telah membuktikan dirinya sebagai alat penyimpan nilai bersanding dengan emas.  Seiring berjalannya waktu mitos ini pun terbantah. Karena Bitcoin bisa digunakan sebagai alat pembayaran oleh pedagang.

Misalnya, di Perancis 40 peritel akan menerima BTC sebagai alat pembayaran. Selain itu, ke depannya akan ada penerapan layer 2 blockchain Bitcoin melalui Lightning Network yang memungkinkan penggunaan Bitcoin di tingkatan retail sebagai alat pembayaran atau lainnya.

Bitcoin Berbahaya Bagi Lingkungan

Proof Of Work Bitcoin yang menjadi inti dalam proses penambangan Bitcoin adalah algoritma yang sangat intensif dan membutuhkan daya komputasi besar untuk mendapatkan Bitcoin. Oleh karena itu, banyak yang mengira kalau Bitcoin berbahaya bagi lingkungan.

Padahal menurut penelitian yang dilakuakan oleh  oleh Susanne Köhler dan Massimo Pizzol di Universitas Aalborg, Denmark menunjukkan bahwa dampak Bitcoin pada lingkungan tidak sebesar yang dikira. 

Lebih baik lagi, sebagian besar energi listrik yang dikonsumsi oleh Bitcoin dan Blockchain sebenarnya berasal dari sumber energi terbarukan seperti energi air atau energi panas bumi.

Baca juga: Data Membuktikan 60% Energi untuk Mining Bitcoin Ramah Lingkungan

Harga Bitcoin Stagnan Sejak 2017

Mitos terakhir lebih baru, karena baru berusia sedikit di atas dua tahun. Banyak investor memasuki dunia Bitcoin pada akhir 2017 ketika harganya mencapai angka $20.000 yang merupakan angka tertinggi BTC sejauh ini. Para investor ini kemudian menyerah pad atahun 218 ketika harga BTC turun di angka $4.000.

Namun memiliki anggapan jika harga Bitcoin stagnan, nampaknya tidak benar. Karena jika dilihat harga trendah Bitcoin sejak awal riwayatnya, harganya selalu naik US$0,01 di tahun 2010 sampai US$3.350 di tahun 2019. Di tahun ini bahkan Bitcoin diprediksi akan menyentuh angka $20.000 berkaitan dengan peristiwa halving.

Mitos-mitos Bitcoin tersebut berhasil dipatahkan, meski begitu tidak bisa dipungkiri karena BTC masih terbilang baru tentu masih banyak sekali mitos-mitos yang mungkin akan datang lagi di kemudian hari seiring.

Disclaimer

Konten baik berupa data dan/atau informasi yang tersedia pada Coinvestasi hanya bertujuan untuk memberikan informasi dan referensi, BUKAN saran atau nasihat untuk berinvestasi dan trading. Apa yang disebutkan dalam artikel ini bukan merupakan segala jenis dari hasutan, rekomendasi, penawaran, atau dukungan untuk membeli dan menjual aset kripto apapun.

Perdagangan di semua pasar keuangan termasuk cryptocurrency pasti melibatkan risiko dan bisa mengakibatkan kerugian atau kehilangan dana. Sebelum berinvestasi, lakukan riset secara menyeluruh. seluruh keputusan investasi/trading ada di tangan investor setelah mengetahui segala keuntungan dan risikonya.

Gunakan platform atau aplikasi yang sudah resmi terdaftar dan beroperasi secara legal di Indonesia. Platform jual-beli cryptocurrency yang terdaftar dan diawasi BAPPEBTI dapat dilihat di sini.

Topik

author
Naufal Muhammad

Editor

arrow

Terpopuler

Loading...
Coinvestasi Update Dapatkan berita terbaru tentang crypto, blockchain, dan web3 langsung di inbox kamu.
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...

#SemuaBisaCrypto

Belajar aset crypto dan teknologi blockchain dengan mudah tanpa ribet.

Coinvestasi Update Dapatkan berita terbaru tentang crypto, blockchain, dan web3 langsung di inbox kamu.