Dampak Perang, Transaksi Crypto di Rusia Turun 50%

Anisa Giovanny

4th March, 2022

Ketika Ukraina membuka donasi dan mengumpulkan 50.000 Bitcoin dari langkah tersebut, nasib Rusia justru sebaliknya.

Berdasarkan data dari analitik blockchain, negara tersebut malah kehilangan transaksi Bitcoin dan crypto di bursa.

Hal ini mematahkan anggapan bahwa dengan perang ini, negara beribukota di Moskow itu beralih ke aset digital untuk menghindari sanksi.

Data dari Chainalysis menunjukkan bahwa volume perdagangan crypto berdenominasi rubel hanya $34,1 juta pada hari Kamis 3 Maret, sekitar setengah nilai dari transaksi sebelumnya pada 24 Februari di $70,7.

Dengan ini pada akhirnya industri aset digital di negara pimpinan Putin itu ikut terpengaruh dan ikut terperosok bersama dengan Rubel, mata uang resmi negara yang ikut anjlok.

“Volume Rusia sejauh ini relatif kecil, menunjukkan bahwa tindakan harga lebih karena posisi investor untuk perkiraan kenaikan permintaan dari Rusia, bukan daripada permintaan itu sendiri, ” kata analis Citigroup Alexander Saunders

Para ahli menolak gagasan bahwa crypto dapat digunakan untuk membantu negara tersebut menghindari sanksi ekonomi tetapi, Amerika Serikat dan Uni Eropa masih meningkatkan pengawasan peraturan mereka terhadap aset digital.

Baru-baru ini, negara bagian New York meningkatkan kapasitas pengawasan blockchain untuk mencegah cryptocurrency atau digunakan untuk mendukung kepentingan negara di Eropa Timur itu.

Dikutip dari Cointelegraph, Gubernur NY Kathy Hochul mengeluarkan perintah eksekutif pada 27 Februari.

Ia mengarahkan lembaga negara untuk melakukan divestasi dari lembaga dan perusahaan Rusia, serta entitas yang memberi mereka dukungan.

“New York dengan bangga menjadi rumah bagi penduduk Ukraina terbesar di negara itu dan kami akan menggunakan aset teknologi kami untuk melindungi rakyat kami dan menunjukkan kepada Rusia bahwa kami akan meminta pertanggungjawaban mereka, “ kata Hochul.

Baca juga: Imbas Perang Rusia-Ukraina, Bitcoin Menuju 50 Ribu Dollar?

Terlambat Manfaatkan Likuiditas Aset Crypto

Ari Redbord, kepala urusan hukum dan pemerintahan di penyelidik kejahatan kripto TRM Labs, menyatakan bahwa sudah terlambat bagi aset kripto untuk dapat menyediakan likuiditas yang cukup untuk negara negara di bagian utara Asia itu.

Baca juga: Bank Rusia Terancam Dihapus dari SWIFT

“Negara itu tidak dapat menggunakan crypto untuk menggantikan ratusan miliar dolar yang berpotensi diblokir atau dibekukan.”

Dalam menghadapi tindakan regulasi yang membayangi dari komunitas internasional, banyak bursa kripto terkemuka dunia telah memutuskan untuk memasukkan individu dan organisasi yang terkena sanksi ke daftar hitam.

Anisa Giovanny

Anisa tertarik dengan dunia tulis menulis dan copyediting sejak bangku SMA dan diperdalam di dunia perkuliahan. Saat ini tertarik dan tengah mendalami bidang ekonomi terutama terkait investasi dan cryptocurrency

Anisa tertarik dengan dunia tulis menulis dan copyediting sejak bangku SMA dan diperdalam di dunia perkuliahan. Saat ini tertarik dan tengah mendalami bidang ekonomi terutama terkait investasi dan cryptocurrency