Thailand Gunakan Blockchain untuk Distribusi Beras

febrian surya     Saturday, November 30 2019

Salah satu negara penghasil beras terbesar di dunia, Thailand, kian hari kian memperkuat posisinya saja sebagai sebuah negara yang mengadopsi teknologi blockchain, hal ini ditunjukkan dengan terlibatnya beberapa lembaga pemerintah Thailand yang meluncurkan proyek uji coba blockchain guna menguji kelayakan dari teknologi buku besar terdistribusi tersebut.

Saat ini, Kantor Kebijakan dan Strategi Perdagangan Thailand (TPSO) telah mengumumkan akan meluncurkan sebuah solusi dengan pemanfaatan blockchain untuk dapat melacak rantai pasok untuk produk pertanian.

Produk pertanian pertama yang dijadikan proyek uji coba dengan menggunakan blockchain, yaitu beras organik. Seperti yang dilaporkan oleh Nation Thailand.

Tentu saja, hal ini bukan tanpa alasa yang logis. Komoditas beras menjadi komoditas unggulan di negara Thailand untuk diekspor ke negara lain. Direktur Jenderal TPSO,  Pimchanok Vonkorpon, mengatakan bahwa proyek uji coba blockchain untuk melacak distribusi beras organik ini akan segera diluncurkan setelah adanya penerimaan anggaran operasional di departemen untuk tahun fiskal 2020.

Insiatif uji coba blockchain ini akan melacak beras melati atau biasa disebut beras wangi Thai, yaitu beras asli Thailand dari proses produksi hingga kegiatan ekspor.

TPSO, yang memang berada di bawah naungan bidang Departemen Perdagangan, berharap uji coba ini dapat membangun kepercayaan di antara pembeli bahwa beras wangi Thai yang dibeli itu asli dan memang berasal dari produk pertanian Thailand. Hal ini bertujuan untuk mengurangi rasa tidak percaya pembeli terhadap kualitas beras wangi Thai tersebut akibat beras berkualitas tinggi dan rendah dicampur oleh produsen.

Nantinya sekitar 5000 petani dari Provinsi Surin akan berpartisipasi dalam proyek blockchain ini. Hasil uji coba ini juga akan menjadi tolak ukur dan patokan bagi teknologi blockchain untuk diperluas penggunaannya ke produk pertanian lainnya.

Untuk memastikan bahwa beras wangi Thai tersebut benar-benar organik tanpa dicampur dengan beras jenis lainnya, pada proses produksinya akan terdapat kamera pengawas yang akan mengawasi aktivitas petani ketika memanen beras tersebut.

Untuk menjaga keaslian dari setiap petani beras wangi Thai, hasil produksi beras mereka akan disertifikasi dan diunggah di blockchain oleh departemen terkait.

Keaslian beras wangi Thai menjadi suatu hal yang penting, karena beras ini merupakan makanan pokok bagi banyak orang, bukan hanya orang Thailand saja.

Beberapa minggu yang lalu, Fujitsu bermitra dengan startup beras Swiss Exchange untuk mengembangkan platform perdagangan beras. Di Tiongkok, Pemerintah Kota Wuchang bekerja sama dengan tiga anak perusahaan Alibaba untuk melacak dan mengotentikasi beras Wuchang.

Tahun lalu, organisasi non profit, Oxfam, meluncurkan proyek blockchain untuk petani beras di Kamboja yang disebut Blockchain For Livelihoods From Organic Cambodian Rice (BlocRice). Proyek ini bertujuan untuk memperkenalkan pembayaran tanpa uang tunai atau cashless payment, dan sertifikasi melalui smart contract dapat menunjukkan keaslian beras organik dari Kamboja tersebut.

Bagaimana dengan negara penghasil beras terbesar di dunia lainnya? Sebut saja Indonesia, di mana beras merupakan makanan pokok orang Indonesia setiap harinya, bukan hal yang mustahil bahwa langkah yang diambil oleh Thailand akan juga diikuti oleh negara Indonesia di kemudian hari. Hanya waktu yang akan menjawabnya.

Sumber