Riset Terbaru Tunjukan Bitcoin akan Jadi Bubble

Rossetti Syarief

23rd September, 2021

Bitcoin sedang memasuki harga rentan belakangan ini. Terakhir kali Bitcoin mencapai puncak harga, diisukan karena bantuan dari siklus hutang milik China. Bahkan, riset terbaru menyebutkan harga Bitcoin akan menjadi bubble dalam waktu dekat.

Hal ini tentu sangat diwanti-wanti, karena peristiwa yang menyinggung hutang China tempo hari tidak menutup kemungkinan memang mendikte aksi harga Bitcoin. 

Hal itu kemudian di konfirmasi oleh Material Scientist melalui cuitannya di Twitter.

Mereka menyatakan jika hasil riset terbarunya melihat korelasi kuat antara siklus harga Bitcoin dan siklus hutang China. Keduanya memang berkaitan bahkan tak menutup kemungkinan Bitcoin akan kembali bubble tahun ini.

Tak lama dari perilisan cuitan tersebut, pernyataan mereka langsung menimbulkan reaksi beragam dan keraguan pada warganet.

Dengan Bitcoin yang mencapai All-High-Time pada April 2021, tentu mengundang harapan lain dari sebagian orang. Dengan pernyataan tersebut, harapan dengan cepat berganti menjadi keraguan.

Satu followersnya juga menyinggung ketika Bitcoin menjual kepemilikan setelahnya setiap kali puncak siklus hutang di China, dengan April 2021 tidak terkecuali sebagai yang tertinggi sepanjang masa.

Namun selain pengaruh hutang dari China, riset terbaru menemukan ada indikator lain yang kuat dan menyebabkan Bitcoin akan alami Bubble di penghujung tahun ini.

Bisnis Masih Maju Mundur Adopsi Blockchain

Di atas kertas, blockchain terdengar hebat. Di sisi keuangan persamaan, ini adalah cara untuk mempercepat validasi dan penyelesaian pembayaran. 

Daripada menunggu hingga satu minggu untuk melakukan transaksi pembayaran, mereka dapat diselesaikan hanya dalam hitungan detik atau menit. 

Blockchain adalah jawabannya. Blockchain sudah memiliki aplikasi nonfinansial, seperti Blockchain berbasis Smart Contract yang bisa menjadi kunci untuk membuka kemacetan rantai pasokan suatu hari nanti.

Namun, apa yang terdengar hebat di atas kertas tidak selalu berarti kesuksesan di dunia nyata. 

Blockchain terus menderita dari Catch-22. Bisnis tidak akan mengadopsinya sampai teknologinya terbukti dalam skala luas.

Lagi pula, tidak ada bisnis yang akan meninggalkan infrastruktur yang ada dan terbukti untuk mencoba sesuatu yang dianggap ‘kelinci percobaan’ meski itu mengiming-imingkan sesuatu yang lebih efektif. 

Sampai blockchain matang, bisnis besar akan menjaga jarak dan terus menunda. Pemasukkan pun sulit berkembang dengan keraguan-keraguan semacam itu.

Akses Masuk Yang Mudah

Selain utilitas minimal, keluhan terbesar terhadap aset crypto adalah tidak adanya penghalang untuk masuk. 

Siapapun yang memiliki uang untuk membeli aset dan memiliki waktu untuk membuat kode, dapat mengembangkan blockchain dan membeli coin atau token semaunya.

Menurut CoinMarketCap, ada hampir 10.000 cryptocurrency yang berbeda dalam sistemnya. Meskipun banyak yang tidak diperdagangkan, itu tetap menjadi jumlah pesaing potensial bagi Bitcoin.

Singkatnya, ruang crypto terus-menerus diencerkan oleh jumlah persaingan yang tidak terbatas. 

Dengan sistem seperti ini, harga akan melambung sesuai transaksi dan berkemungkinan tiba-tiba bubble akan pecah karena menghilangnya para trader secara gaib.

Rossetti Syarief

Rossetti memiliki minat menulis dalam berbagai sisi. Seperti menulis jurnal, artikel edukasi, artikel pemasaran, dan juga berita harian. Saat ini sedang mendalami bidang ekonomi terutama investasi dan cryptocurrency agar bisa menulis dari sudut pandang tersebut dengan baik

Rossetti memiliki minat menulis dalam berbagai sisi. Seperti menulis jurnal, artikel edukasi, artikel pemasaran, dan juga berita harian. Saat ini sedang mendalami bidang ekonomi terutama investasi dan cryptocurrency agar bisa menulis dari sudut pandang tersebut dengan baik