Mengusung “VPN untuk DNA Anda”, Degenics Menjawab Masalah Penyalahgunaan Data Uji Genetika

Naufal Muhammad

23rd January, 2021

Pada bulan Januari 2021, Degenics meluncurkan platform pengujian DNA berbasis blockchain, dengan berkolaborasi bersama Blocksphere. Degenics direncanakan mempergunakan teknologi dari ekosistem Polkadot, termasuk KILT Protocol, untuk sistem kredensial untuk ekosistem laboratorium dan produk genetikanya.

Degenics Luncurkan Platform Pengujian DNA

Platform ini menjadi sarana pertemuan pengguna dari segala latar belakang yang ingin menguji data genetik pribadi secara rahasia dan untuk laboratorium pengujian genetika. Teknologi yang dipergunakan diyakini dapat menjamin data uji genetika tetap aman.

Maksud dari pernyataan tersebut adalah, data yang dihasilkan akan tetap dimiliki sepenuhnya oleh setiap individu yang mengujikannya. Namun dengan kepemilikan ini akan tetap ada insentif bagi laboratorium yang terlibat di dalamnya. 

Baca juga: Mendorong Monetisasi Data yang Adil dan Transparan dengan Teknologi Blockchain

Pasar pengujian genetika pribadi di dunia sendiri saat ini masih bernilai $12 milyar. Namun terdapat penelitian yang memprediksi nilainya akan tumbuh hingga $21 milyar pada Tahun 2027.

“Saat ini data genetika dan genom yang diujikan oleh masyarakat dimiliki dan dimonetisasi oleh perusahaan. Hal tersebut bertentangan dengan prinsip kepemilikan data pribadi yang dilindungi oleh undang-undang ITE perihal privasi data. Resiko masa depannya juga banyak, dari resiko peretasan hingga penjualan data tanpa persetujuan pemilik genom.” ujar Pandu Sastrowardoyo, inisiator Degenics.

Potensi Permasalah Data Genetika

Degenics dirancang untuk mencegah penyalahgunaan data genetik, pelanggaran privasi, masalah keamanan, dan praktik penjualan data genetik tanpa persetujuan. Ada banyak perdebatan tentang penggunaan data genetik oleh bisnis untuk mengklasifikasikan, melacak, atau menganalisis individu.

Pelanggaran ini termasuk penggunaan pengujian gen untuk menghitung premi asuransi dan bahkan untuk pembobolan data dalam mengenalisis kecocokan calon karyawan. Kekhawatiran lainnya termasuk penjualan kembali data genetik Anda ke perusahaan farmasi untuk penelitian, dan penggunaan pasangan DNA-KYC tanpa izin untuk menuntut kerabat atas kejahatan.  

Selain itu, potensi permasalahan lain adalah peretasan, yang sudah terjadi kepada salah satu perusahaan penyedia jasa pengetesan genetik. Pandu Sastrowardoyo, CIO Blocksphere Indonesia dan Supervisory Board Asosiasi Blockchain Indonesia, percaya bahwa permasalahan dapat diselesaikan dengan teknologi blockchain.

Blockchain Sebagai Solusi

Atribut transparansi, kekekalan data, dan desentralisasi dari teknologi blockchain memungkinkan kendali penuh dari pemilik genom. Kendali ini akan sangat berguna dalam menentukan apakah data genetika miliknya digunakan oleh pihak lain.

Baca juga: Kelebihan dan Kekurangan Desentralisasi di Blockchain

Transparansi, penjagaan data, dan desentralisasi memungkinkan kendali pengguna penuh dalam menentukan penggunaan genom. Bahkan, Degenics memungkinkan pengguna menjalani pengujian genetik tanpa harus memberikan nama atau data pribadi lainnya.

Dari sudut pandang pengguna, data genetik yang telah disimpan di blockchain bersifat anonim, berdaulat, dan dapat digunakan kembali berkali-kali. Sehingga data yang tersimpan tetap transparan dan aman terjaga.

Keuntungan bagi Laboratorium

Degenics juga memungkinkan laboratorium pengujian genetik berskala kecil untuk bergabung dengan pasar pengujian genetik global. Selain itu, platform ini juga memungkinkan laboratorium untuk bekerja sama dengan laboratorium lainnya.

Karena pandemi Covid-19, banyak laboratorium yang meningkatkan fasilitas pengujian genetik mereka melalui investasi dalam PCR dan teknologi yang lebih maju. Degenics memungkinkan laboratorium untuk menggunakan fasilitas ini untuk menawarkan pengujian genetik pribadi dengan paradigma “pasar”.

Mekanisme: Jembatan Fisik ke Digital

Untuk menguji DNA secara anonim, pasien yang menggunakan Degenics hanya perlu mengambil dua sampel DNA. Caranya adalah melalui metode “buccal swab” atau mengambil sampel sel mulut dengan cotton bud.

Kemudian pengguna mengakses dApp (aplikasi terdesentralisasi) untuk mendapatkan produk pengujian genetik dan rekomendasi laboratorium dari smart contract. Pengguna kemudian mengirimkan sampel DNA mereka ke laboratorium, dengan amplop yang hanya berisi kunci publik tanpa informasi pribadi.

Baca juga: 3 Pilar Teknologi Blockchain

Laboratorium yang terpilih kemudian memproses sampel tersebut. Hasil tes dan genom kemudian dienkripsi dengan public key pengguna dan disimpan di penyimpanan yang terdesentralisasi.

Sistem ini memungkinkan pengguna untuk mempertahankan kendali penuh atas data terenkripsi mereka. Hanya private key pengguna yang dapat mendekripsi hasil tes baru kemudian data bisa diakses laboratorium lain bila pengguna memberikan izin.

Tim Degenics juga berencana untuk memperluas konsep “jembatan fisik-ke-digital” ini untuk kasus di luar pasar pengujian genetik, termasuk pengujian penyakit dan rekam medis elektronik.

Inisiasi dan Ajakan Bertindak

Degenics diprakarsai oleh Pandu Sastrowardoyo, Jean Daniel Gauthier, Gilang Bhagaskara, dan Aaron Ting. Inisiatif ini telah mendapatkan investasi awal untuk pengembangan dApp blockchainnya, yang akan diluncurkan secara luas pada bulan April.

Degenics juga bersaing dalam beberapa kompetisi aplikasi blockchain, termasuk Kompetisi Blockchain & Fintech Asia pada Bulan Januari, dan ETHDenver pada bulan Februari 2021. Degenics mengajak laboratorium, universitas, serta startup bioteknologi untuk mendaftar uji sistem beta tertutup melalui https://degenics.com.

Naufal Muhammad

Muhammad Naufal merupakan seorang penggemar bidang makroekonomi dan keuangan. Pada saat ini fokus utama tertuju pada bidang teknologi keuangan terutama trading dan investasi crypto.

Muhammad Naufal merupakan seorang penggemar bidang makroekonomi dan keuangan. Pada saat ini fokus utama tertuju pada bidang teknologi keuangan terutama trading dan investasi crypto.