Mayoritas Kejahatan pada Sektor Keuangan Terjadi dalam Uang Fiat

Rossetti Syarief

21st March, 2022

Awal bulan ini, Penilaian Risiko Pencucian Uang Nasional oleh Departemen Keuangan AS merilis laporan tiga tahunan yang membahas secara mendalam tentang pencucian uang.

Data yang dilansir Departemen Keuangan menyebutkan, mata uang digital secara rinci mencatat jumlah pengguna dan kapitalisasi pasar aset digital dengan peningkatan secara signifikan sejak penilaian risiko sebelumnya pada tahun 2018.

Namun, laporan Treasury ini mengungkapkan bahwa, mata uang fiat dan jaringan tradisional lah yang ternyata menyumbang lebih banyak (secara mayoritas) aliran kriminal daripada mata uang digital seperti cryptocurrency.

“Penggunaan aset digital untuk pencucian uang masih jauh di bawah mata uang fiat dan metode yang lebih tradisional,” kata Departemen Keuangan AS.

Namun demikian, penggunaan mata uang digital sebagai pembayaran untuk narkoba online, pencucian dana kriminal, dan untuk penghindaran sanksi dilaporkan telah meningkat.

Kriminal dalam Sektor Keuangan, Uang Fiat Vs. Crypto

Laporan Departemen Keuangan AS baru-baru ini tampaknya sejalan dengan laporan kejahatan yang dimuat Chainalysis dalam periode yang sama. 

Laporan (Chainalysis) tersebut juga menyebutkan bahwa lebih banyak dana dikirim ke blockchain address kriminal pada tahun 2021 daripada tahun lainnya.

Menurut Chainalysis, bagian uang ilegal dalam crypto hanya 0,15% dari semua transaksi pada tahun 2021, turun dari 0,62% pada tahun 2020 dan 3,37% pada tahun 2019.

Sementara itu, setelah invasi Rusia ke Ukraina yang menyebabkan pemerintah barat memberlakukan sanksi ketat terhadap Rusia, kekhawatiran atas potensi individu yang menggunakan mata uang crypto untuk menghindari sanksi pun bermunculan.

Investor takut mata uang crypto berpotensi disalah gunakan atau mengundang oknum kriminal untuk melakukan aksi penipuan di dalam sektor.

Ditambah lagi, sederet serangan ransomware (dimana informasi sensitif korban dienkripsi dan hanya akan didekripsi setelah pembayaran uang tebusan) pun ikut meningkat di masa pandemi.  

Tebusan yang diminta sering kali diminta berupa mata uang crypto, terutama Bitcoin, karena dianggap tak terlacak. Dana tersebut kemudian disalurkan melalui bursa crypto asing dengan beberapa tindakan anti pencucian uang sebelum diuangkan.

Serangan Ransomware mendapatkan daya tarik pada tahun 2020 ketika Chainalysis melaporkan lebih dari $406 juta dibayarkan ke pelacak sektor tersebut.

Jadi, meski Departemen Keuangan AS mencatat mayoritas kejahatan dalam sektor keuangan terjadi di mata uang fiat. Investor crypto juga harus tetap berhati-hati karena teknologi di dalam cryptocurrency bisa saja dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab.

Baca Juga: 10 Pencurian Crypto Terbesar yang Pernah Ada

Rossetti Syarief

Rossetti memiliki minat menulis sejak SMA dan diperdalam di dunia perkuliahan. Saat ini sedang mendalami bidang ekonomi, terutama yang berkaitan dengan investasi dan cryptocurrency.

Rossetti memiliki minat menulis sejak SMA dan diperdalam di dunia perkuliahan. Saat ini sedang mendalami bidang ekonomi, terutama yang berkaitan dengan investasi dan cryptocurrency.