Coinvestasi Telegram Group Coinvestasi Telegaram Channel

JPMorgan Sarankan Kepemilikan Bitcoin di Portofolio untuk Lindung Nilai

anisa giovanny     Saturday, February 27 2021

Ahli strategi di perbankan raksasa Wall Street JPMorgan menyarankan bahwa alokasi portofolio satu persen ke Bitcoin akan berfungsi sebagai lindung nilai terhadap fluktuasi kelas aset tradisional seperti saham, obligasi, dan komoditas.

Alokasi persentase kecil disarankan untuk mengurangi risiko penurunan besar dalam nilai aset digital.

Sebelumnya Bitcoin telah turun 20% sejak level tertinggi sepanjang masa di atas $58.000 pada 21 Februari tetapi naik 60% sejak awal tahun ini.

Menurut Bloomberg, ahli strategi JPM Joyce Chang dan Amy Ho menyatakan dalam sebuah catatan kepada klien.

“Dalam portofolio multi-aset, investor kemungkinan dapat menambahkan hingga 1% dari alokasi mereka ke mata uang kripto untuk mencapai keuntungan efisiensi apa pun dalam keseluruhan pengembalian portofolio yang disesuaikan dengan risiko,”

Pengesahan datang setelah investasi besar dalam Bitcoin oleh Paul Tudor Jones, Stan Druckenmiller, Tesla, dan MicroStrategy.

Laporan tersebut menambahkan bahwa BNY Mellon (Bank of New York Mellon Corporation) juga telah mengumumkan rencana untuk menahan, mentransfer, dan menerbitkan aset digital untuk kliennya.

Baca juga: JPMorgan: Di Masa Depan Bitcoin Bisa Raih Harga $650.000

Aset Kripto Diberlakukan Sebagai Sarana Investasi

Dilansir dari Cointelegraph, Analis JPMorgan pun menambahkan bahwa aset kripto harus diperlakukan sebagai sarana investasi dan bukan mendanai mata uang seperti USD atau JPY.

Komentar tersebut tampaknya bertentangan dengan pendapat dari ahli strategi lain di bank investasi yang mengklaim bahwa “aset kripto terus menempati peringkat sebagai lindung nilai termiskin untuk penarikan utama dalam ekuitas.”

Dilansir dari CNBC, Cathie Wood dari Ark Investment Management mengamati bahwa jika semua perusahaan memasukkan 10% dari uang tunai mereka ke Bitcoin, maka akan menambah nilai hingga $200.000 ke harga aset.

Pembelian Cryptocurrency sendiri telah melonjak pada tahun 2021, dan bukan hanya institusi yang memuat crypto saj, investor retail pun terlihat semakin menggeliat untuk memiliki crypto dan bukan hanya Bitcoin saja, namun mulai melirik ke altcoin lain.

Perusahaan perdagangan Robinhood telah melaporkan bahwa sekitar 6 juta pengguna baru membeli cryptocurrency di platform hanya dalam dua bulan pertama tahun ini.

Angka-angka tersebut lebih kecil dibandingkan angka tahun sebelumnya yang menunjukkan bahwa momentum bullish dari sektor ritel masih kuat meskipun ada koreksi yang sangat dalam baru-baru ini.

Bitcoin sendiri tengah  memasuki  fase koreksi di  mana harganya tengah turu,  bahkan di Jumat sore sempat menyentuh ke $45.000, ini membuat Bitcoin kehilangan harga $13.000 dari harga tertinggi sebelumnya yang terjadi pekan lalu.

Baca juga: Bitcoin Koreksi, Pasar Crypto Jatuh dalam Semalam

Bagi banyak investor yang jeli, penurunan ini dapat dijadikan kesempatan untuk membeli lagi.

Namun bagi investor yang tengah rugi mereka mungkin akan berpikir untuk menjual Bitcoin atau semakin mengetatkan manajemen risiko yang telah dibuat sebelumnya.

Penurunan Bitcoin juga membuktikan, meskipun institiusi sudah masuk ke pasar, Bitcoin masih jadi aset yang sangat volatil.

Baca juga: 7 Tips Hindari FOMO, Musuh Besar Para Trader Crypto