Berita Altcoins · 5 min read

Intip Alasan Mengapa Render (RNDR) Dianggap sebagai Kendaraan GPU

Rabu, 28 Januari 2026
render pluang
Coinvestasi Ads Promo - Advertise

Render (RNDR) menjadi salah satu aset kripto infrastruktur yang paling sering dikaitkan dengan lonjakan kebutuhan kecerdasan buatan (AI) global. Perannya kerap dianalogikan sebagai kendaraan pengangkut daya komputasi GPU, yang menghubungkan pasokan tenaga grafis dari berbagai lokasi dengan pihak yang membutuhkan komputasi AI dan rendering dalam skala besar.

Memasuki 2026, tantangan utama pengembangan AI tidak lagi terletak pada algoritma atau model bahasa, melainkan pada keterbatasan infrastruktur fisik. Setiap proses pembuatan gambar berbasis AI, pelatihan model, hingga analisis data berskala besar bergantung pada unit pemrosesan grafis atau GPU. Di tengah lonjakan permintaan tersebut, dunia justru menghadapi krisis pasokan chip, dengan antrean produksi GPU yang memanjang dan dominasi pasokan oleh data center raksasa teknologi.

Di titik inilah peran infrastruktur menjadi krusial. Dua nama yang berada di garis depan transformasi ini adalah Render Network (RNDR) dan The Graph (GRT). Keduanya tidak membangun aplikasi AI secara langsung, tetapi menyediakan fondasi komputasi dan data yang membuat seluruh ekosistem AI dapat berjalan.

Ketika valuasi saham produsen chip seperti Nvidia sudah mencerminkan ekspektasi pertumbuhan yang tinggi, aset kripto infrastruktur menawarkan jalur alternatif untuk mendapatkan eksposur terhadap “mesin” penggerak revolusi AI. Artikel ini akan membedah mengapa pendekatan DePIN dipandang sebagai masa depan infrastruktur internet, serta bagaimana eksposur terhadap sektor ini dapat diakses melalui aplikasi Pluang, sebuah exchange kripto Indonesia yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan atau Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).

Baca juga: Aplikasi Jual Beli Bitcoin Legal di Indonesia pada 2026

Mengapa Dunia Kekurangan GPU?

Untuk memahami relevansi Render Network (RNDR), penting melihat tekanan struktural yang sedang dialami industri teknologi global saat ini.

Lonjakan Permintaan Komputasi AI

Narasi ledakan AI bukan sekadar tren sementara. Pertumbuhan penggunaan model AI mendorong kebutuhan daya komputasi dalam skala besar, mulai dari pelatihan model hingga pemrosesan visual resolusi tinggi. Permintaan komputasi AI tercatat meningkat berlipat ganda setiap tahun, sementara peningkatan efisiensi perangkat keras tidak lagi secepat satu dekade lalu.

Keterbatasan Pasokan Chip

Di sisi lain, kapasitas produksi GPU tidak mampu mengejar lonjakan permintaan. Pembangunan fasilitas manufaktur chip baru membutuhkan waktu bertahun-tahun serta investasi yang sangat besar. Kondisi ini menciptakan ketimpangan struktural antara pasokan dan permintaan, dengan antrean pemesanan GPU yang memanjang dan dominasi pasokan oleh data center milik perusahaan teknologi besar.

Daya Komputasi yang Tidak Termanfaatkan

Di tengah krisis pasokan tersebut, terdapat ironi berupa jutaan GPU yang sebenarnya tidak digunakan secara optimal di seluruh dunia, antara lain GPU pada PC gaming yang tidak aktif di luar jam penggunaan, GPU pada workstation desainer grafis yang menganggur pada malam hari, hingga GPU di data center skala kecil yang beroperasi jauh di bawah kapasitas maksimal.

Kapasitas komputasi ini bersifat laten dan terfragmentasi. Render Network hadir untuk mengonsolidasikan daya komputasi tersebut menjadi satu jaringan terdesentralisasi yang dapat dimanfaatkan secara global.

Baca juga: 5 Aplikasi Kripto Terpercaya di 2025

Bagaimana Render Network Menghubungkan GPU Global

Render Network bekerja dengan prinsip serupa sistem logistik berbagi sumber daya. Jaringan ini mempertemukan pemilik GPU dengan pihak yang membutuhkan daya komputasi, tanpa harus membangun infrastruktur fisik baru.

Mekanisme kerja Render Network melibatkan:

  • Penyedia daya komputasi (node operator): individu atau entitas yang menghubungkan GPU mereka ke jaringan ketika tidak digunakan.
  • Pengguna jaringan: kreator konten, studio animasi, hingga pengembang AI yang membutuhkan daya render atau komputasi AI.
  • Distribusi tugas: pekerjaan komputasi dipecah menjadi bagian-bagian kecil dan didistribusikan ke ribuan GPU secara paralel.
  • Skema imbalan: pengguna membayar layanan menggunakan token RNDR, yang kemudian diterima oleh penyedia GPU sebagai kompensasi.

Model ini menawarkan sejumlah keunggulan struktural, termasuk:

  • Biaya lebih efisien karena memanfaatkan perangkat keras yang sudah ada.
  • Skalabilitas jaringan mengikuti pertumbuhan jumlah partisipan.
  • Ekspansi fungsi dari sekadar rendering grafis ke komputasi AI, menjadikan RNDR sebagai komponen penting dalam ekosistem AI terdesentralisasi.

Di aplikasi Pluang, RNDR diposisikan sebagai salah satu aset kripto infrastruktur dengan likuiditas tinggi, yang merepresentasikan eksposur terhadap kebutuhan komputasi AI global.

Dari Komputasi ke Data

Namun, daya komputasi hanyalah satu sisi dari infrastruktur AI. GPU dapat memproses miliaran parameter dan menjalankan model kompleks, tetapi tanpa akses terhadap data yang rapi dan mudah dibaca, kecerdasan buatan tetap bekerja dalam ruang hampa. Di sinilah lapisan infrastruktur berikutnya menjadi krusial, yakni data.

Jika Render Network (RNDR) berfungsi sebagai penyedia tenaga komputasi bagi AI, maka The Graph (GRT) hadir sebagai pengelola dan penyedia data yang memungkinkan AI memahami dan menafsirkan aktivitas di jaringan blockchain secara efisien.

Blockchain menyimpan data dalam jumlah besar, tetapi tidak dirancang untuk pencarian cepat dan efisien. Mengambil data spesifik langsung dari blockchain membutuhkan proses pemindaian yang kompleks dan memakan waktu.

The Graph menyelesaikan masalah ini melalui sistem pengindeksan data, dengan mekanisme:

  • Subgraph: antarmuka data terbuka yang dibuat pengembang untuk menyusun informasi blockchain.
  • Indexer: operator node yang mengelola dan menyajikan data secara terstruktur.
  • Konsumen data: aplikasi dan AI Agent yang membayar akses data menggunakan token GRT.

Dalam era AI, peran The Graph menjadi semakin krusial. AI Agent membutuhkan data on-chain yang cepat dan akurat untuk menjalankan fungsi seperti analisis pasar, pemantauan likuiditas, dan pengambilan keputusan otomatis. Setiap permintaan data menciptakan aktivitas ekonomi di jaringan The Graph, mendorong permintaan organik terhadap token GRT.

Baca juga: Pluang Rilis Aura AI, Fitur Analisis Kripto dan Saham Berbasis AI Pertama di Indonesia

Mengapa Infrastruktur AI Menjadi Tesis Investasi

Dalam setiap siklus inovasi teknologi, penyedia infrastruktur cenderung berada pada posisi yang lebih stabil dibandingkan pengembang aplikasi. Ribuan aplikasi AI dapat muncul dan menghilang, tetapi seluruhnya tetap membutuhkan GPU dan data untuk beroperasi.

Ketimpangan antara pasokan dan permintaan infrastruktur fisik diperkirakan belum akan teratasi dalam jangka pendek. Selama periode ini, solusi DePIN seperti Render Network berfungsi sebagai katup pelepas tekanan bagi industri teknologi global.

Investasi pada RNDR dan GRT di Pluang mencerminkan eksposur terhadap kebutuhan dasar ekosistem AI, bukan sekadar spekulasi atas aplikasi tertentu.

Strategi dan Risiko yang Perlu Dipertimbangkan

Karena volatilitas aset kripto infrastruktur relatif tinggi, pendekatan disiplin menjadi krusial, antara lain:

  • Akumulasi bertahap melalui pembelian berkala untuk meredam fluktuasi harga.
  • Pemisahan alokasi khusus untuk aset infrastruktur, terpisah dari aset berisiko tinggi lainnya.
  • Pemantauan korelasi dengan sektor semikonduktor global, mengingat RNDR kerap bergerak seiring sentimen terhadap saham produsen GPU.

Meski menawarkan utilitas nyata, aset DePIN tetap memiliki risiko, antara lain:

  • Penurunan harga GPU fisik yang dapat mengurangi insentif penyewaan.
  • Kompleksitas teknis dalam pengelolaan jaringan terdesentralisasi.
  • Ketidakpastian regulasi lintas negara yang berpotensi memengaruhi partisipasi node operator.

Membangun Eksposur ke Infrastruktur Internet Masa Depan

Perkembangan DePIN menandai pergeseran internet dari sekadar jaringan informasi menjadi jaringan sumber daya fisik. Render Network mengubah GPU yang tidak terpakai menjadi superkomputer global, sementara The Graph menyusun data blockchain agar dapat diakses secara efisien oleh AI.

Bagi investor yang ingin mendapatkan eksposur terhadap pertumbuhan AI tanpa harus mengejar valuasi saham teknologi yang telah melambung tinggi, aset kripto infrastruktur seperti RNDR dan GRT menawarkan pendekatan alternatif berbasis utilitas nyata dan permintaan struktural.

Baca juga: Intip Daftar 29 Pedagang Aset Kripto Berizin OJK!

Coinvestasi Ads Promo - Advertise

Disclaimer

Seluruh konten berupa data dan atau informasi yang tersedia di Coinvestasi hanya bertujuan sebagai informasi dan referensi. Konten ini bukan saran atau nasihat investasi maupun trading. Seluruh pernyataan dalam artikel tidak dimaksudkan sebagai ajakan, rekomendasi, penawaran, atau dukungan untuk membeli atau menjual aset kripto apa pun.

Perdagangan di pasar keuangan, termasuk aset kripto, mengandung risiko dan dapat menyebabkan kerugian hingga kehilangan seluruh dana. Kamu wajib melakukan riset secara mandiri sebelum mengambil keputusan. Seluruh keputusan investasi atau trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu setelah memahami risiko yang ada.Gunakan hanya platform atau aplikasi aset kripto yang terdaftar dan beroperasi secara legal di Indonesia. Daftar platform aset kripto yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat diakses melalui di sini.

author
Dilla Fauziyah

Editor

arrow

Terpopuler

Loading...
Coinvestasi Ads Promo - Advertise
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...

#SemuaBisaCrypto

Belajar aset crypto dan teknologi blockchain dengan mudah tanpa ribet.

Coinvestasi Update Dapatkan berita terbaru tentang crypto, blockchain, dan web3 langsung di inbox kamu.