Ini Perbedaan Bull Run Bitcoin Saat Ini dengan 2017 Silam

Wafa Hasnaghina

4th December, 2020

Setelah menunggu cukup lama, harga Bitcoin (BTC) kembali ke kisaran harga yang sama seperti 3 tahun silam. BTC Mendekati all-time-high yang pernah ia torehkan 3 tahun silam. Pencapaian Bitcoin ini membuat pasar crypto subur dan bahkan membuat altcoin lain mendapatkan keuntungan hingga 200% atau bahkan lebih.

Para analis beranggapan kenaikan Bitcoin ini berbeda dibandingkan dengan tahun 2017 silam, mengingat saat ini sejumlah besar infrastruktur adopsi Bitcoin telah dibangun. 

Misalnya saja, pembukaan layanan derivatif seperti kontrak berjangka CME dan CBOE yang diatur secara ketat pada bursa pertukaran crypto. Ditambah pembelian adopsi oleh investor institusional untuk dapat menyebar luaskan adopsi crypto ke masyarakat umum. 

Tidak sampai disitu, platform dengan kapitalisasi pasar miliaran dolar Decentralized Finance (DeFi) semakin menjamur. Layanan yang ditawarkan juga tidak tanggung-tanggung, misalnya saja sistem peminjaman, pertukaran sintetis, dan sistem perolehan bunga tanpa pihak ketiga membuat masyarakat dunia semakin tertarik memasuki industri ini.

Dibandingkan dengan 2017, saat ini pertumbuhan Bitcoin dan crypto juga didukung oleh akses data yang lebih luas, seperti data terkait harga dan peringkat kapitalisasi pasar. Hal ini akan membantu investor lebih memahami kondisi pasar yang ada dan membandingkannya dengan harga dan nilai pada 2017 silam.

Apa yang Berubah dari 2017 Silam?

Jika melihat peringkat kapitalisasi pasar teratas mata uang crypto, cenderung masih sama. Hal unik dapat dilihat pada kapitalisasi pasar Ether (ETH) dan XRP yang jumlahnya relatif sama. Ini terjadi lantaran adanya penerbitan koin baru yang menjadikan pasokan semakin banyak. Misalnya saja, jumlah Bitcoin beredar dalam 3 tahun terakhir bertambah sekitar 10,8% dengan inflasi mencapai 17,9% dalam periode waktu yang sama.

Sayanganya, beberapa mata uang crypto yang berjaya pada 2017 silam, ada yang mengalami kerugian besar, seperti IOTA yang kehilangan 91% kapitalisasi pasarnya, Bitcoin Cash (BCH) dengan 84%, Litecoin (LTC) dengan 73%, dan Cardano (ADA) yang mengalami kerugian 70%. 

Di sisi lain, pesaing ETH seperti Cardano, EOS, NEO, Ethereum Classi (ETC), dan QTUM belum mampu menyaingi kapitalisasi pasar terdahulu. Justru disusul oleh koin dan token interoperabilitas seperti Chainlink (LINK) dan Polkadot (DOT) yang merupakan pendatang baru di industri ini. 

Koin 3 teratas saat ini sebenarnya hanya mengalami peningkatan sebesar 7% selama tiga tahun terakhir. Jika melihat Bitcoin, orang akan cenderung berasumsi bahwa Bitcoin meningkat pesat tetapi dominasinya hanya meningkat 2% mejadi kisaran 63% selama 3 tahun terakhir. 

Peristiwa ini merupakan efek samping dar bertambahnya koin dan token baru di pasaran. Terlebih, banyak muncul token dari bursa pertukaran ternama seperti Binance Coin (BNB), munculnya stablecoin seperti Libra, dan token dari sektor DeFi.

Baca juga: Aset Digital Sebagai Kenormalan Baru

Investor Institusional Dapat Memengaruhi Harga di Masa Mendatang

Seperti yang disebutkan sebelumnya, layanan CBOE maupun CME futures belum ada pada Desember 2017 silam, apalagi dengan likuiditas yang ada saat ini. Ini mengindikasikan adanya adopsi dan efektifitas yang terus meningkat pada Bitcoin.

Baru-baru ini, bahkan CEO BlackRock Larry Fink optimis, Bitcoin akan menjadi kelas aset utama.

Baca juga: Bitcoin Sebagai Aset Cadangan Dibandingkan Saham atau Properti

Instrumen derivatif memberi Bitcoin dan Ether keunggulan kompetitif yang sangat besar untuk dana investor profesional. Ketua regulator CFTC AS, Heath Tarbert, mengatakan ETH berjangka yang teregulasi akan dapat diluncurkan segera.

Secara teori, peristiwa ini akan memperbesar dominasi koin-koin tersebut pada market nantinya.

Faktor-faktor Utama yang akan Memengaruhi Kenaikan Harga Berikutnya

Terdapat beberapa analisis dan kesimpulan dari para analis dalam memprediksi harga berdasarkan perubahan pada pasar ini.

Menurut Lindy effect, harapan hidup beberapa teknologi sebanding dengan usianya, dan semakin lama kelangsungan hidupnya, semakin lama pula teknologi tersebut dapat diprediksi.

Jika paradigma ini diterapkan pada sektor tersebut, orang dapat menyimpulkan bahwa semakin lama sebuah cryptocurrency tetap berada di top-12, semakin tinggi kemungkinannya akan tetap relevan tiga tahun kemudian.

Misalnya, narasi “penghancur” Bitcoin dan Ethereum yang sangat populer pada tahun 2017 dan 2018 silam ketika blockchain pesaing diperkirakan akan dapat mengambil alih kepemimpinan industri ini lewat throughput mereka yang lebih cepat, biaya yang lebih murah, dan penskalaan yang ditingkatkan atau ‘penggunaan dunia nyata.’

Meskipun narasi tersebut mungkin terdengar sangat mewah di tahun 2017 silam, waktu telah membuktikan bahwa efek jaringan tetap berlaku dan teknologi terbaik tidak selalu menang.

Fenomena unik lainnya pada sektor crypto yang harus diwaspadai oleh investor adalah hard fork dan klon basis kode. Melihat kembali pada tahun 2017, Bitcoin Cash (BCH), Bitcoin Gold (BTG), Ethereum Classic (ETC), dan DASH melakukan fork atau merilis klon yang cukup kompetitif. Awalnya, mereka berhasil mendapatkan simpati masyarakat dan terus menunjukan keuntungannya melalui tinjauan harga. Namun, harga dan kapitalisasi pasar mereka saat ini menunjukkan bahwa kesuksesan mereka berumur pendek.

Total pasokan koin dan tingkat penerbitan mata uang kripto juga dapat memengaruhi kinerja harganya. Cryptocurrency dengan pasokan tinggi mungkin akan mengalami kesulitan dalam mengejar harga. Hal ini berlaku untuk XRP, Chainlink (LINK), Polkadot (DOT), Stellar (XLM), Tron (TRX), dan Tezos (XTZ).

Meskipun masing-masing memiliki banyak platform yang dapat digunakan di dunia nyata yang berhasil meyakinkan dan membuat kemitraan yang mengesankan, pasokan koin mereka yang besar membuat pergerakan harga yang tajam menjadi sulit.

Dilihat dari peningkatan penggunaan pada tahun 2020, sektor-sektor yang kemungkinan besar akan mengalami peningkatan keuntungan terlihat pada teknologi oracle, interkonektivitas, token pertukaran desentralisasi (DEX), pinjaman non-kustodian, dan penyediaan likuiditas.

Informasi ini dapat dibaca kembali di sini