Berita Bitcoin · 8 min read

3 Faktor Pendorong Bitcoin Terbang ke US$95.000

Rabu, 14 Januari 2026
bitcoin
Coinvestasi Ads Promo - Advertise

Bitcoin (BTC), aset kripto terbesar di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar, kembali menguat dan menembus level US$95.000, mencatatkan posisi tertinggi dalam hampir dua bulan terakhir. Kenaikan ini terjadi di tengah kombinasi faktor makroekonomi global yang relatif kondusif, tekanan likuidasi di pasar derivatif, serta respons pasar yang semakin matang terhadap ketidakpastian regulasi di Amerika Serikat.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada Rabu (14/1/2026), harga Bitcoin melonjak dari kisaran US$91.000 ke level tertinggi harian di US$95.800, atau naik lebih dari 4 persen dalam 24 jam terakhir. Hingga artikel ini ditulis, Bitcoin mengalami koreksi terbatas dan diperdagangkan di sekitar US$95.300.

Harga BTC/USD dalam 24 jam terakhir. Sumber: CoinMarketCap

Reli Bitcoin turut diikuti oleh penguatan aset kripto utama lainnya. Ethereum (ETH) tercatat naik hingga 7 persen ke kisaran US$3.300, sementara XRP (XRP), BNB (BNB), dan Solana (SOL) masing-masing menguat hingga sekitar 5 persen.

Secara keseluruhan, total kapitalisasi pasar aset kripto naik lebih dari 4 persen menjadi sekitar US$3,2 triliun.

Indeks Fear and Greed kripto yang mengukur sentimen pasar kini berada di skor 48 dari 100, menunjukkan sikap netral setelah sebelumnya berada di fase ketakutan selama berbulan-bulan.

Indeks Fear and Greed kripto. Sumber: Alternative.me

Baca juga: 5 Kripto Paling Banyak Dimiliki Investor Indonesia di 2025

Inflasi AS Stabil Dorong Ekspektasi Kebijakan Moneter yang Melonggar

Pemicu utama reli Bitcoin datang dari rilis data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk Desember 2025. Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan inflasi tahunan bertahan di level 2,7 persen, sesuai ekspektasi pasar dan tidak berubah dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan inflasi bulanan tercatat moderat, baik untuk inflasi utama maupun inflasi inti. Kondisi ini membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS serta nilai dolar bergerak relatif stabil, sekaligus memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve tidak akan mengambil langkah pengetatan tambahan dalam waktu dekat.

Stabilnya inflasi memberi ruang bagi pelaku pasar untuk kembali meningkatkan eksposur ke aset berisiko, termasuk aset kripto, setelah periode konsolidasi yang cukup panjang di akhir 2025. Selain itu, pasar mulai kembali berspekulasi bahwa penurunan suku bunga berpotensi terjadi pada paruh kedua 2026, seiring tanda-tanda perlambatan ekonomi.

Baca juga: Trader Bitcoin Awali 2026 dengan Taruhan Harga Tembus US$100.000

Likuidasi Posisi Short Mempercepat Reli Harga

Selain faktor makro, pergerakan harga Bitcoin kali ini juga dipercepat oleh tekanan teknikal di pasar derivatif. Data CoinGlass mencatat sekitar US$587 juta posisi short aset kripto dilikuidasi dalam 24 jam terakhir, dengan sekitar US$292 juta berasal dari posisi short Bitcoin.

Gelombang likuidasi ini terjadi setelah Bitcoin berhasil menembus area resistance teknikal di kisaran US$94.500. Penembusan tersebut memaksa trader yang sebelumnya mengambil posisi bearish untuk menutup posisi mereka, sehingga menciptakan tekanan beli tambahan dalam waktu singkat.

Likuidasi kripto dalam 24 jam terakhir. Sumber: CoinGlass

Kondisi ini menunjukkan bahwa reli Bitcoin tidak sepenuhnya didorong oleh permintaan spot, tetapi juga oleh dinamika pasar derivatif yang sensitif terhadap level harga kunci dan pergerakan volatilitas jangka pendek.

Baca juga: Founder Jan3 Sebut 2025 sebagai Bear Market, Bitcoin Siap Masuki Bull Run Baru

Pasar Makin Kebal terhadap Ketidakpastian Regulasi AS

Faktor lain yang menopang kenaikan Bitcoin adalah sikap pasar yang relatif tenang terhadap perkembangan regulasi di Amerika Serikat. Komite Senat AS, termasuk Komite Pertanian dan Perbankan, memutuskan menunda pembahasan lanjutan CLARITY Act hingga akhir Januari. RUU tersebut sebelumnya diharapkan memberikan kejelasan struktur pasar aset kripto di AS.

Penundaan ini disebabkan oleh belum tercapainya kesepakatan terkait insentif stablecoin, pengawasan sektor DeFi, serta pembagian kewenangan antar lembaga. Namun berbeda dengan respons pasar pada isu regulasi sebelumnya, kali ini penundaan tersebut tidak memicu tekanan jual signifikan.

Sejumlah analis menilai CLARITY Act kini lebih dipandang sebagai proses integrasi jangka panjang ketimbang risiko biner yang dapat langsung mengguncang harga. Respons pasar ini mengindikasikan bahwa Bitcoin semakin diposisikan sebagai aset dengan karakter “institutional-grade”, di mana dinamika regulasi tidak lagi menjadi pemicu kepanikan jangka pendek.

Baca juga: 7 Prediksi Harga Bitcoin di 2026


Coinvestasi Ads Promo - Advertise

Disclaimer

Seluruh konten berupa data dan atau informasi yang tersedia di Coinvestasi hanya bertujuan sebagai informasi dan referensi. Konten ini bukan saran atau nasihat investasi maupun trading. Seluruh pernyataan dalam artikel tidak dimaksudkan sebagai ajakan, rekomendasi, penawaran, atau dukungan untuk membeli atau menjual aset kripto apa pun.

Perdagangan di pasar keuangan, termasuk aset kripto, mengandung risiko dan dapat menyebabkan kerugian hingga kehilangan seluruh dana. Kamu wajib melakukan riset secara mandiri sebelum mengambil keputusan. Seluruh keputusan investasi atau trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu setelah memahami risiko yang ada.Gunakan hanya platform atau aplikasi aset kripto yang terdaftar dan beroperasi secara legal di Indonesia. Daftar platform aset kripto yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat diakses melalui di sini.

author
Dilla Fauziyah

Editor

arrow

Terpopuler

Loading...
Coinvestasi Ads Promo - Advertise
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...

#SemuaBisaCrypto

Belajar aset crypto dan teknologi blockchain dengan mudah tanpa ribet.

Coinvestasi Update Dapatkan berita terbaru tentang crypto, blockchain, dan web3 langsung di inbox kamu.