Dampak Bitcoin Terhadap Lingkungan Tidak Separah yang Dikira

anisa giovanny     Wednesday, November 27 2019

Efek penambangan Bitcoin pada lingkungan sudah lama jadi perdebatan. Baru-baru ini, dilaporkan bahwa penambangan Bitcoin kini mengkonsumsi seperempat persen dari pasokan listrik seluruh dunia, setara atau lebih tinggi daripada banyak negara kecil.

Beberapa peneliti bahkan mengklaim cryptocurrency saja dapat merusak  iklim global. Akhir tahun lalu, sebuah penelitian menyebutkan, bahwa penambangan Bitcoin menggunakan lebih banyak listrik daripada seluruh Denmark.

Baca Juga : Mengupas Kesalahapahaman Tentang Bitcoin

Penambangan Bitcoin Tidak Seburuk yang Dikira

Namun menurut studi terbaru, dampak emisi dari penambangan Bitcoin tidak seburuk yang sebelumnya diyakini.

Susanne Köhler dan Massimo Pizzol, peneliti dari Universitas Aalborg di Denmark mengungkapkan bahwa banyak penelitian sebelumnya mengenai dampak Bitcoin terhadap lingkungan telah membuat keseluruhan asumsi mengenai jumlah emisi karbon yang berasal dari penambangan Bitcoin.

Sayangnya, masih sedikit studi-studi sebelumnya yang berhasil mendapatkan data yang akurat. Köhler percaya kalau kurangnya informasi yang tepat mengenai dampak lingkungan Bitcoin telah menciptakan kekeliruan penafsiran.

Köhler mengklaim jika studi lingkungan terkait Bitcoin sebelumnya mengasumsikan bahwa emisi untuk semua kegiatan penambangan Bitcoin hampir sama, padahal tidak semuanya seperti itu. Berdasarkan asumsi tersebut, emisi karbon untuk penambangan Bitcoin pertahun diperkirakan mencapai 63 megaton CO2.

Sedangkan menurut Köhler, angka sebenarnya hanya mendekati 17,29 megaton per tahun tidak ada setengahnya dari jumlah yang sebelumnya diperkirakan.

“ Satu sisi, kami mendapatkan banyak tanggapan khawatir tentang masalah itu. Tapi di sisi lain ada banyak suara dari komunitas Bitcoin yang mengatakan kalau sebagian besar penambangan menggunakan energi hijau yang tidak berdampak besar, “ ujar Köhler dilansir dari Newscientist.

47% Emisi Karbon Berasal Dari Tiongkok

Laporan Kohler  tersebut bersumber pada studinya di Tiongkok yang disebut “bertanggung jawab” atas 47 persen emisi karbon berbasis penambangan Bitcoin. Apalagi Cina merupakan rumah bagi dua perusahaan produsen alat penambangan Bitcoin terbesar di dunia yaitu Bitmain dan Canaan Creative.

“ Walaupun Tiongkok bertanggung jawab pada banyak penambangan Bitcoin di dunia, tingkat emisi akan bervariasi tergantung di mana perusahaan penambangan itu berasal, “ ujar Kohler lagi.

Ia memberikan contoh, di wilayah Mongolia Dalam sebagian besar pasokan listirknya didukung oleh batu bara. Dengan demikian, menghasilkan lebih dari seperempat total emisi karbon yang berasal dari tambang Bitcoin di Cina. Sedangkan di wilayah Sichuan menghasilkan emisi karbon yang sedikit karena sebagian besar listirknya menggunakan tenaga air dan lebih bergantung pada energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.

Studi dari Köhler ini juga menyajikan daftar tempat teratas yang saat ini bertanggung jawab pada sebagian besar emisi penambangan bitcoin. Tiga dari Tiongkok ( Mongolia Dalam, Xinjian, dan Sichuan) di posisi pertama, kedua dan ketujuh. Alberta di Kanada, Rusia, Washington, New York masuk lima besar.

Namun dari penemuan ini, bukan berarti masalah mengenai dampak lingkungan Bitcoin bisa diatasi dengan mudah. Soalnya, penambangan Bitcoin didesentralisasi dan menyebar ke seluruh dunia.

Köhler dan Pizzol pun mengatakan sulit untuk mendapatkan ukuran yang akurat perihal emisi dan butuh banyak data agar bisa memahami dampak emisi penambangan Bitcoin kepada lingkungan dan perubahan iklim.

Sumber