Coinvestasi Telegram Group Coinvestasi Telegaram Channel

Blockchain Kian Mengurangi Ketergantungan USD dalam Transaksi Perdagangan

febrian surya     Wednesday, August 19 2020

Tidak ada satu orang pun yang bisa menyangkal bahwa hingga saat ini USD masih menjadi salah satu mata uang terkuat di dunia. Hal ini bisa dibuktikan bahwa USD mendominasi perdagangan dunia seperti minyak bumi, emas, dan komoditas lainnya yang bertransaksi dengan satuan USD.

Bahkan, hal ini juga dialami oleh para pelancong yang sedang menikmati liburan di luar negeri. Di mana, pemegang USD sangat mudah untuk menukarkan mata uang tersebut ke valuta asing lainnya di money changer. Bukan hanya itu saja, USD juga disimpan sebagai cadangan devisa dari banyak negara di dunia, termasuk Indonesia.

Hal yang paling ditakutkan adalah USD banyak disimpan dan dikoleksi oleh investor valas, lalu menjualnya dengan harga yang tinggi. Ini menjadi salah satu penyebab utama yang mengakibatkan perekonomian Indonesia hancur pada 1997. Nilai rupiah saat itu terkoreksi sangat dalam akibat para spekulan memborong USD dalam jumlah yang banyak dan menjualnya dengan harga tinggi.

Namun, kini sejumlah negara mulai mengurangi ketergantungan USD, salah satunya adalah Tiongkok. Dengan semakin banyaknya perusahaan yang bergabung ke dalam platform blockchain dan bertransaksi dengan menggunakan mata uang fiat Yuan.

Hal ini sudah diterapkan oleh para penambang besar bijih besi yang menawarkan produknya ke perusahaan Tiongkok dengan bertransaksi jual-beli tanpa menggunakan mata uang USD. Penggunaan mata uang Yuan memang diharapkan oleh pemerintah Tiongkok untuk semakin banyak digunakan oleh para perusahaan asing dalam melakukan pembayaran. Oleh sebab itu, bank sentral Tiongkok meluncurkan digital Yuan sebagai solusi pembayaran digital secara global.

3 penambang bijih besi terbesar di dunia seperti Rio Tinto, Brasil Vale, dan BHP Group – telah menjalin perdagangan dengan perusahaan manufaktur baja Tiongkok dengan menggunakan Yuan.

Sejumlah penambang kecil bijih besi di pelabuhan Tiongkok juga telah sepakat melakukan perdagangan dengan menggunakan Yuan. Belum lagi, adanya penerbitan Letter of Credit (LoC) yang memungkinkan pembayaran dengan Yuan menjadi lebih cepat dibanding USD yang bisa memakan waktu waktu 5-10 hari menjadi 24 jam saja.

Menurut data World Steel, Tiongkok menjadi negara produsen baja terbesar di dunia dengan menyumbang produksi baja lebih dari 50% secara global pada tahun 2018, dan sebagai negara konsumen baja terbesar di dunia dengan menggunakan 48% dari total hasil output baja dunia pada 2018.

Dalam jangka panjang, mengurangi ketergantungan USD dengan menggunakan mata uang lokal untuk bertransaksi dengan tidak melibatkan USD akan membuat nilai tukar mata uang lokal meningkat dan akan menciptakan sistem ekonomi moneter yang bebas guncangan.

Sumber