Ethereum Classic Diperbicangkan Setelah Serangan 51%

Wafa Hasnaghina

8th August, 2020

Ethereum Classic (ETC), fork atau cabang protokol Ethereum yang tidak membekukan dananya setelah terjadi peretasan DAO, menjadi sorotan selama seminggu terakhir. Hal ini terkait dengan serangan 51% yang terjadi pada akhir Juli dan awal Agustus ini di dalam jaringan blockchain tersebut.

Hal ini kembali membuat khawatir, pasalnya terjadi serangan kedua pada 5 Agustus lalu. Pada serangan pertama yang dilaporkan oleh mining pool Ethermine dan Binance. Menurut data yang ada, sekitar 800.000 ETC atau sekitar Rp84 juta mengalami double-spent, sementara serangan itu diperkirakan menelan biaya setara $204.000 Bitcoin.

Lebih lanjut, dua serangan 51% terjadi dalam seminggu, membuat banyak orang mempertanyakan nilai intrinsik ETC, yang masih merupakan mata uang crypto terbesar yang masuk ke 25 besar berdasarkan kapitalisasi pasar menurut data dari CryptoSlate.

Serangan 51% atau 51% Attacks adalah peristiwa yang terjadi ketika satu entitas berhasil mendapatkan lebih dari setengah dari kekuatan hashing jaringan blockchain, yang menyebabkan entitas tersebut memiliki kekuatan untuk reorganisasi jaringan atau bahkan merusaknya.

Lebih lagi, Serangan 51% ini dapat membuat “pembelanjaan ganda”, ketika mata uang crypto (yang mengalami hal ini) dapat digunakan secara efektif sebanyak dua kali untuk mengelabui penyedia layanan atau pengguna lainnya.

Baca juga: Charlie Lee dari Litecoin: Crypto Terdesentralisasi ‘Harus Rentan Terhadap Serangan 51%’

Analis, Setelah Serangan 51%: Ethereum Classic Seharusnya Bernilai $0

Investor makro Dan Tapiero, yang mendirikan Gold Bullion Int  dan baru-baru ini membuka identitasnya sebagai bull Bitcoin mempertanyakan nilai dari Ethereum Classic setelah serangan 51% ini. Ia memberikan cuitannya di Twitter,

Pertanyaan menohok dari Tapiero ini juga digaungkan oleh Mati Greenspan, mantan analis senior di eToro dan pendiri Quantum Economics. Ia memberikan tanggapan di Twitternya, “Bagaimana ETC dapat memiliki nilai?”.

Cuitan Greenspan ini menarik perhatian para pengikutnya, dengan beberapa balasan yang juga setuju terkait dengan sentimen tersebut.

Vitalik Buterin, pendiri Ethereum, mengomentari masalah tersebut dalam cuitan pada 5 Agustus lalu. Mengacu dengan acara proof of stake (staking) bekerja lebih aman daripada proof of work (mining) dalam beberapa kasus, 

“ETC seharusnya beralih ke metode proof of stake. Bahkan mengingat budaya di dalamnya yang menghindari risiko, pada titik ini sepertinya membuat lompatan (beberapa perubahan) tampaknya berisiko lebih rendah daripada tidak menciptakannya sama sekali. ” 

Tidak Semua Kehilangan Harapan

Meskipun ETC mungkin berada di posisi yang buruk, ia berhasil memperkenalkan sistemnya yang meningkat bernama “Phoenix” pada bulan Juni lalu. Hal ini berarti Ethereum Classic telah mencapai kesamaan protokol dengan jaringan Ethereum. 

Ini berarti bahwa aplikasi yang dibuat untuk Ethereum, kompatibel dengan saudaranya tersebut. Seperti tanggapan dari Terry Culver, CEO ETC Labs pada bulan Mei lalu sebelum adanya peningkatan ini,

“Peningkatan ini menunjukkan adanya pengembangan yang lebih kuat sedang berlangsung pada Ethereum Classic. Mengingat ini adalah hardfork ketiga pada tahun lalu; hal ini juga mencerminkan konsensus komunitas yang kuat di antara para pemangku kepentingan ETC. 

Peningkatan ini juga menandai titik baling yang sangat penting bagi Ethereum Classic. Sekarang komunitas berada pada posisi untuk mendorong lebih banyak, kolaborasi, dan memberikan kontribusi teknis baru kepada komunitas ETC dan ETH.”

Informasi ini dapat dibaca kembali di sini