Mau tau harga Bitcoin terbaik?

Klik di sini
BELI BITCOIN DENGAN HARGA BITCOIN TERBAIK

Dapatkan rekomendasi pembelian bitcoin dengan harga terbaik dari kami

Mau tau harga Bitcoin terbaik?

Klik di sini

Kenapa Crypto Dilarang? Ini 5 Alasannya

Dibalik nama tenar Bitcoin dan cryptocurrency serta meningkatkan pengguna dan adopsi kripto skala global. Pada realitanya belum semua negara bersifat ramah terhadap crypto.

Tercatat Mesir, Irak, Qatar, Oman, Maroko, Aljazair, Tunisia, Bahrain, dan Bolivia secara implisit telah melarang mata uang digital dengan membatasi kemampuan bank untuk menangani kripto, atau melarang pertukaran mata uang kripto menurut laporan Law Library Congress yang dipublikasikan pada November 2021.

Baca juga: 10 Negara ini Resmi Larang Cryptocurrency

Jumlah negara dan yurisdiksi yang telah melarang kripto baik sepenuhnya atau implisit telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2018, ketika organisasi tersebut pertama kali menerbitkan laporan tentang masalah tersebut.

Ada lima alasan yang setidaknya menjadi alasan kenapa crypto dilarang. Simak ulasannya berikut ini. 

Tidak Ada Nilai Intrinsik 

Bitcoin dan crypto dilarang salah satu penyebabnya adalah tidak memiliki nilai intrinsik. Hal ini berbeda dengan saham yang nilai intrinsiknya bisa dilihat dari aset fisik perusahaan, laporan keuangan, dan prospek aset di masa depan.

Mata uang fiat pun memiliki nilai intrinsik dari bahan baku pembuatan uang yang digunakan. Bitcoin dan crypto tidak memiliki aset fisik, nilainya masih bergantung pada kelangkaan.

Lalu bagaimana Bitcoin dan crypto bisa bernilai? Hal ini dapat terjadi karena kepercayaan dan dukungan dari para penggunanya. 

Terlalu Volatil dan Spekulatif

Alasan kedua crypto dilarang karena harganya terlalu volatil, Bitcoin misalnya bisa kehilangan setengah harganya kurang dari satu tahun. Saat ini harga Bitcoin anjlok di $20.000 setelah menyentuh harga tertinggi di November 2022 di harga $68.000.

Hal tersebut membuat crypto dilarang karena tidak aman dijadikan aset karena nilainya berubah tidak menentu dan sulit diprediksi. Karena sulit diprediksi ini banyak proses transaksi crypto yang didasarkan pada spekulasi yang cenderung berisiko tinggi bagi para investor yang asal menempatkan dana.

Ketika spekulasi salah, maka sangat rentan para investor kehilangan dana dalam waktu singkat, jika ini dialami oleh mayoritas penduduk negara, maka ekonomi negara bisa terpengaruh. 

Baca juga: Kenapa Harga Bitcoin Fluktuatif? Ini 7 Alasannya!

Mengacaukan Sistem Pembayaran Domestik 

Crypto dilarang di China salah satunya disebabkan karena kekhawatiran crypto mengacaukan sistem pembayaran domestik yang telah mereka susun.

Kekhawatiran ini telah terbukti dalam tindakan kerasnya terhadap Ant Financial dan raksasa teknologi lainnya yang mendominasi pembayaran ritel domestik dan membuat uang bank sentral semakin tidak relevan karena banyak orang yang memilih menggunakan crypto sebagai alat pembayaran.

Adanya crypto ini juga ditakutkan akan menghambat mata uang digital bank sentral China yakni digital renminbi atau digital yuan. 

Baca juga: Bank Sentral Eropa Menyerukan Regulasi Proaktif Stablecoin

Pencucian Uang

Transaksi cryptocurrency bersifat anonim dan hanya terdiri dari serangkaian huruf dan nomor acak. Sifatnya yang anonim ini membuat crypto kerap dijadikan tempat pencucian uang atau transaksi gelap karena pemerintah dan otoritas tidak bisa melacak ke mana transaksi itu sampai.

Bitcoin juga masih digunakan sebagai alat pembayaran untuk peretasan di internet, hal ini semakin memicu sentimen negatif kepada Bitcoin dan crypto secara umum sehingga pemerintah masih sulit percaya terhadap aset ini. 

Kontrol yang Sulit Dilakukan

Seluruh transaksi mata uang fiat bisa dikontrol oleh pemerintah melalui bank sentral dengan mengontrol mata uang, pemerintah bisa mengatur seberapa besar arus kas masuk dan keluar. 

Hal ini lah yang tidak ditemukan di crypto, bekerja di jaringan blockchain yang terdesentralisasi dan membuatnya sulit dikontrol. Pemerintah juga tidak memiliki kuasa untuk mengurangi atau menambahkan jumlah aset beredar di dalam blockchain. 

Dengan crypto pemerintah juga tidak bisa menghindari pembatasan arus keuangan lintas batas. Hal ini telah dialami China, pada 2015-16, ketika China mencoba mengendalikan arus keluar modal besar-besaran dan menahan depresiasi mata uang yang tajam.

Dalam kondisi tersebut permintaan Bitcoin dari dalam China justru melonjak karena orang menggunakannya untuk mengambil uang dari negara itu dan menghindari kendali pemerintah. 


Larangan crypto di sejumlah negara ini juga bisa menjadi pemantik semangat para pembuat proyek crypto untuk melibatkan regulator dan berperan aktif dalam mematuhi peraturan negara terkait aset crypto.

Terlepas dari berbagai alasan yang membuat crypto dilarang, tidak bisa dipungkiri teknologi dibalik crypto yakni Blockchain menjadi angin segar di industri untuk memberikan manfaat yang lebih luas.

Kehadiran crypto yang tidak selalu disambut baik pun ada kenyataannya menjadi faktor pendorong banyak  bank sentral mulai mempelajari industri keuangan digital agar tidak kalah saing dengan kemajuan crypto yang kian pesat. 

Top exchange
Lihat semua

Anisa Giovanny

Anisa tertarik dengan dunia tulis menulis dan copyediting sejak bangku SMA dan diperdalam di dunia perkuliahan. Saat ini tertarik dan tengah mendalami bidang ekonomi terutama terkait investasi dan cryptocurrency

Anisa tertarik dengan dunia tulis menulis dan copyediting sejak bangku SMA dan diperdalam di dunia perkuliahan. Saat ini tertarik dan tengah mendalami bidang ekonomi terutama terkait investasi dan cryptocurrency

Panduan Terkait
Rekomendasi aplikasi beli bitcoin