Mau tau harga Bitcoin terbaik?

Klik di sini
BELI BITCOIN DENGAN HARGA BITCOIN TERBAIK

Dapatkan rekomendasi pembelian bitcoin dengan harga terbaik dari kami

Mau tau harga Bitcoin terbaik?

Klik di sini

Hiperinflasi Makin Dekat, Bitcoin Jadi Penyelamat?

Bank Sentral Amerika atau The Fed diketahui menggelontorkan uang sangat banyak. Hal itu dilakukan guna menyelamatkan ekonomi yang makin merosot karena pandemi.

Namun apakah ini benar-benar langkah penyelamatan atau malah langkah untuk membuat uang fiat semakin tidak bernilai? Apakah Bitcoin pilih yang tepat ketika uang sudah tidak berharga?

Di artikel berikut ini akan diulas lebih lanjut mengenai inflasi, hiperinflasi dan benarkah Bitcoin pilihan yang tepat untuk menyelamatkan diri dari “bencana keuangan” tersebut?


Dalam istilah awam, inflasi dapat diartikan sebagai jumlah uang yang sangat banyak untuk  ukuran jumlah barang dan jasa yang sama.

Misal di 2012 kamu beli roti ukuran 200 gram seharga Rp15.000, kemudian 2014 kamu beli roti dengan ukuran yang sama namun harganya menjadi Rp20.000. Nah ini yang dinamakan inflasi.

Setelah inflasi ada tingkatan lainnya yakni hiperinflasi, ini artinya laju uang hampir tidak terkendali.

Hiperinflasi dapat didefinisikan sebagai inflasi yang terjadi dengan laju lebih dari 50% sebulan.  Jika pakai analogi yang sama, maka kita asumsikan di 2016 harga satu roti itu akan menjadi Rp360.000

Dari sini jika kita pandang lebih luas, kekayaan  dalam mata uang yang hiperinflasi, jumlah barang / jasa yang dapat  dibeli di akhir setiap bulan akan berkurang setengahnya. Karena butuh uang yang sangat banyak untuk mendapatkan sedikit barang. Contohnya roti tadi.

Satu-satunya cara untuk mempertahankan daya beli dalam hiperinflasi adalah dengan memiliki aset langka yang terapresiasi relatif terhadap mata uang tersebut.

Penyebab Inflasi dan Hiperinflasi

Dengan memasukkan likuiditas melalui pasar obligasi, Federal Reserve atau Bank Sentral AS mampu tidak alami menaikkan harga aset dan nilai terukur nominal lainnya. Ini pada akhirnya memberikan ilusi pertumbuhan riil.

Dengan menurunkan suku bunga, Fed pada dasarnya memberi bisnis margin keuntungan yang lebih besar. Ini tampak sebagai pertumbuhan ekonomi, tetapi kenyataannya, itu hanyalah penurunan suku bunga.

Pada grafik di bawah ini, kamu dapat dengan jelas melihat kenaikan nilai dolar AS di bulan Maret, yang menunjukkan deflasi yang kuat.

Namun karena pandemi The Fed pun terus memasukan lebih banyak likuiditas yang kembali membuat dollar terlalu banyak beredar.

Penyisipan likuiditas ini melemahkan nilai dolar sekaligus meningkatkan nilai aset yang diukur dalam dolar, contoh aset yang erat kaitannya dengan dolar adalah Bitcoin.

Selama 12 bulan terakhir saja, neraca Federal Reserve tumbuh dari 4 Triliun menjadi 6,7 Triliun dolar atau lebih dari 41% dari seluruh pasokan dolar yang pernah ada.

Ini diprediksi akan kembali meningkat dengan rencana stimulus baru senilai 1,9 triliun dolar yang diusulkan lebih besar daripada gabungan semua pencetakan uang pada tahun 2020.

Selama deflasi, nilai dolar meningkat, seiring dengan penurunan nilai aset. Selama inflasi, nilai dolar menurun, seiring dengan meningkatnya nilai aset.

Jumlah likuiditas yang sangat banyak menyebabkan harga aset naik secara default, mengingat definisi inflasi adalah lebih banyak dolar untuk jumlah barang yang sama.

Peningkatan besar-besaran dalam jumlah uang beredar M2 sejak Maret

Alih-alih masuk  ke ekonomi yang lebih luas, uang dimasukkan ke dalam aset. Hal ini dapat diilustrasikan dengan perputaran uang.

Perputaran uang adalah ukuran seberapa sering uang berpindah tangan. Pada grafik di bawah ini kamu dapat melihat dengan jelas ketika ekspansi neraca Fed meningkat, kecepatan M2 Money Stock semakin cepat ke bawah.

Peningkatan besar-besaran dalam jumlah uang beredar M2 sejak Maret 2020.

Fenomena ini memiliki implikasi kemasyarakatan yang sangat besar. Ini berarti kesenjangan kekayaan meningkat, karena uang yang baru dibuat diletakkan di tangan orang kaya dan dimasukkan ke dalam aset, tidak pernah  masuk ke kalangan dengan ekonomi menengah hingga ke bawah.

Pada saat yang sama, rata-rata orang yang memiliki rekening tabungan semakin lemah daya belinya. Hal ini menunjukkan paradoks, The Fed yang seolah-olah mencetak uang menguntungkan masyarakat, tetapi justru sebaliknya.

Namun, pada akhirnya, uang yang baru dibuat kemungkinan akan pindah ke ekonomi yang lebih luas seiring waktu karena orang kaya menjual aset untuk membeli barang / jasa.

Bagaimanapun, aset pada akhirnya dibeli bukan untuk kepemilikan aset itu sendiri, tetapi dengan harapan dapat membeli lebih banyak barang dengan apresiasi nilai aset tersebut.

Inflasi dan hiperinflasi yang sudah di depan mata ini mau tidak mau membuat masyarakat perlu mencari alternatif lain, dan yang saat ini tengah mendapatklan pamor adalah Bitcoin.  Kenapa Bitcoin? Mari kita ulas alasannya.

Bitcoin Terbatas dan Terdesentralisasi

Menjadi protokol terprogram yang ada melalui internet, jumlah pasokan bitcoin dapat diaudit kapan saja, oleh siapa saja. Ini membuatnya sangat langka. Hanya akan ada 21 juta bitcoin yang ada, dengan koin terakhir ditambang sekitar tahun 2140.

Aspek kunci lain dari bitcoin yang membedakannya dari aset lain adalah siklus halving setiap empat tahun sekali ketika halving ini terjadi, permintaan bisa tetap sama tetapi harga akan naik pada umumnya.

Dorongan awal inilah yang memberikan momentum kenaikan harga Bitcoin. Ini terjadi pada 2012, 2016, dan terakhir pada Mei 2020.

Grafik di bawah ini menggambarkan pasokan bitcoin (garis biru) terhadap laju pasokan koin baru yang berkurang seiring waktu (garis oranye).

Persediaan yang berkurang ini dapat dimasukkan ke dalam perspektif dengan mempertimbangkan hal-hal berikut: ada 18,5 juta koin setelah 12 tahun keberadaannya, tetapi koin terakhir akan memakan waktu hampir 40 tahun untuk dimasukkan ke dalam persediaan.

Selain itu bitcoin terdesentralisasi karena bekerja di jaringan blockchain, artinya tidak ada orang atau organisasi yang berkuasa dalam mengontrol bitcoin. Sehingga bitcoin dapat bekerja secara alami tanpa manipulasi dari pemerintah.


Banyak plihan aset yang bisa melindungi kekayaan dari mata uang fiat yang terus tergerus. Bisa emas, bitcoin, crypto lain dan sebagainya.

Apapun pilihan tempat pelindung aset semua ada risiko dan keuntungannya. Sebelum memilih ada baiknya lakukan riset lebih dahulu agar dapat mengatur startegi yang tepat dalam melindungi aset yang dimiliki.

Baca Juga: 7 Teknik Trading Bitcoin Untuk Mendapatkan Keuntungan

Pertanyaan penting

Inflasi?

Inflasi dapat diartikan sebagai jumlah uang yang sangat banyak untuk ukuran jumlah barang dan jasa yang sama.

Hiperinflasi?

Hiperinflasi dapat didefinisikan sebagai inflasi yang terjadi dengan laju lebih dari 50% sebulan.

Bagaimana cara mempertahakan daya beli dalam Hiperinflasi?

Memiliki aset langka yang terapresiasi relatif terhadap mata uang tersebut..

Apa penyebab Inflasi dan Hiperinflasi?

Jumlah likuiditas yang sangat banyak menyebabkan harga aset naik secara default, mengingat definisi inflasi adalah lebih banyak dolar untuk jumlah barang yang sama.

Apa itu Perputaran Uang?

Perputaran uang adalah ukuran seberapa sering uang berpindah tangan.

Dhila Rizqia

Dhila seorang lulusan studi komunikasi dan media yang memiliki ketertarikan besar pada dunia investasi khususnya bitcoin dan cryptocurrency.

Dhila seorang lulusan studi komunikasi dan media yang memiliki ketertarikan besar pada dunia investasi khususnya bitcoin dan cryptocurrency.