Coinvestasi Telegram Group Coinvestasi Telegaram Channel

Tokenisasi Adalah Kunci Bisnis Keberlanjutan Bagi Bisnis Model Platform

febrian surya     Wednesday, July 29 2020

Setiap investor yang menanamkan modalnya ke suatu bisnis, pasti mencari keuntungan dari model bisnis yang berkelanjutan. Umumnya, model bisnis berkelanjutan ini banyak kita bisa ditemui pada sektor teknologi. Salah satu contohnya adalah cryptocurency dan blockchain.

Di mana, tokenisasi yang identik dengan cryptocurrency dan blockchain dinilai memiliki prospek yang cerah di masa depan dan menjadi kunci bisnis berkelanjutan dari model bisnis platform di dunia. Karena hal ini mempengaruhi terciptanya ekonomi digital di mana platform memiliki peranan yang penting dalam membantu ekosistem keuangan secara digital.

Oleh karenannya, pertumbuhan tokenisasi juga dipengaruhi oleh jaringan maupun ekosistem di sebuah negara misalnya jaringan untuk penggunaan aplikasi untuk pengiriman barang, jasa transportasi online, dll. Agar bisa bertahan di bisnis platform, setiap pemilik bisnis memberikan banyaknya promo bagi pengguna dan mitra seperti diskon, pembayaran jasa yang lebih tinggi, dan lain sebagainya.

Tokenisasi layaknya sebuah aset nyata, kamu ubah ke dalam bentuk token. Misalnya, kamu memiliki uang tunai, kamu bisa tukarkan ke dalam token atau uang digital untuk menaiki wahana di tempat hiburan. Itulah cara sederhana dari tokenisasi.

Namun bila kamu ingin menjual token tersebut, kamu membutuhkan platform yang mendukung smart contract, text editor, dan alamat wallet Ethereum. Dengan masuk ke pasar kripto, tokenmu tersebut bisa saja naik atau turun sewaktu-waktu mengikuti volume permintaan dan penawaran yang ada di pasar.

Walaupun kelihatan menarik dan digadang-gadang menjadi suatu bisnis keberlanjutan namun tokenisasi memiliki kekurangan yakni secara hukum. Di mana, mengubah sebuah benda nyata menjadi aset digital dengan melindungi pengguna dengan smart contract dan blockchain dirasa kurang menyakinkan secara yurisdiksi.

Oleh karenanya, hal ini menjadi kekurangan dari tokenisasi di mana kepemilikan antara aset nyata dan aset digital masih dipisahkan, sehingga tidak bisa diterima secara yurisdiksi.

Tantangan terbesar dari tokenisasi adalah regulasi atau payung hukum yang masih belum begitu jelas. Di mana, penggunaannya bisa disesuaikan dengan jenis token secara yurisdiksi. Hal ini dikarenakan pertumbuhan bisnis bukan hanya dilihat dari bisnisnya saja, melainkan juga keamanan para penggunanya. Untuk itu, kepentingan bersama harus di atas kepentingan pribadi.

Gerakan tokenisasi juga didorong dengan semakin melemahnya ekonomi dan sulitnya bepergian saat ini dari satu tempat ke tempat lainnya. Sehingga, tokenisasi bisa menjadi opsi untuk hal tersebut namun juga diperlukan regulasi yang jelas terkait penggunaannya. Termasuk sulitnya startup untuk mendapatkan pendanaan dari investor, tetapi dengan tokenisasi hal tersebut bisa diatasi melalui ICO.

Sumber