Ternyata Teknologi Blockchain Bisa Digunakan dalam Beramal Lho!

Dhila Rizqia

5th May, 2021

Bisakah kita menyumbangkan crypto untuk beramal?

Menurut laporan dari Fidelity Charitable, tahun 2017 merupakan rekor sumbangan crypto. Organisasi ini menerima $69 juta dalam cryptocurrency seperti Bitcoin, 10 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Fidelity percaya bahwa kenaikan nilai Bitcoin pada tahun 2017 menjadi faktor meningkatnya jumlah donasi dalam crypto ini. Katanya, dengan menerima crypto sebagai bentuk donasi telah membuka pintu untuk orang-orang yang sebelumnya belum bisa berkontribusi.

Saat ini pun setelah Palu dan Donggala dilanda musibah gempa dan Tsunami beberapa waktu lalu, Pundi X bekerja sama dengan NU Care melakukan penggalangan dana dengan cryptocurrency untuk para korban. Pundi X bersama Infinetworks dan Asosiasi Blockchain Indonesia akan mendonasikan token Pundi X senilai US$10.000 kepada NU Care.

Apakah Crypto Bisa Ditambang untuk Beramal?

Selama lebih dari 59 hari pada awal tahun 2018, UNICEF meluncurkan sebuah insiasi bernama Game Chaingers, yang bertujuan untuk menginspirasi golongan muda untuk berkontribusi ke masyarakat. Badan amal ini menarik perhatian orang-orang yang memiliki graphic card yang sangat kuat dalam PC mereka, seperti gamers, untuk menggunakan kapasitas komputasi mereka untuk menambang ethereum.

Lebih dari 12.000 komputer terlibat dalam hal ini dan berhasil mengumpulkan 85 ETH. Jumlah yang terkumpul tersebut kemudian disumbangkan untuk anak-anak korban perang di Syiria. Bagi badan-badan amal, hal ini bisa menarik orang-orang yang ingin berkontribusi namun tidak dalam bentuk finansial.

Namun, skema seperti ini belum sempurna. Mining sendiri membutuhkan daya yang sangat besar dan bisa merusak lingkungan, yang berarti badan amal dapat menyebabkan lebih banyak hal buruk dari pada hal baik. UNICEF pun menekankan bahwa insiasi yang dilakukannya tidak berdampak pada penggunaan listrik tambahan, sehingga mencegah peserta dari tagihan listrik yang besar.

Bagaimana Caranya Kita Tahu Donasi Telah Digunakan dengan Baik?

Seringkali terjadi skandal dalam pemberian donasi, seperti alokasi dana yang tidak transparan. Dengan menggunakan blockchain dan cryptocurrency bisa meningkakan transparansi dan akuntabilitas.

Tidak seperti badan amal konvensional, di mana progress dari suatu program sulit untuk diverifikasi, smart contracts pada blockchain bisa digunakan untuk memastikan bahwa donasi yang diberikan hanya bisa disalurkan ke organisasi ketika mereka bisa membuktikan bahwa yang mereka lakukan dapat memberi dampak yang baik. Kegagalan dalam mencapai target bahkan dapat menyebabkan donasinya dicabut.

Konsep seperti ini sudah diuji oleh St Mungo’s. badan amal untuk tunawisma di London. St Mungo’s bekerja sama dengan platform blockchain bernama Alice untuk meluncurkan penggalangan dana dengan tujuan mengumpulkan $66.000 untuk membantu 15 orang tunawisma membangun kembali hidupnya. Pada program ini, para donator dapat memantau progress para tunawisma dengan diverifikasinya progress oleh pihak berwenang setempat.

Kenapa Beberapa Orang Sulit Mempercayai Badan Amal?

Korupsi dapat menjadi isu yang sangat besar bagi organisasi-organisasi amal, dana yang terkumpul yang dikirimkan ke negara-negara miskin tidak selalu sampai ditangan penerima yang seharusnya. Beberapa badan amal juga dituduh kurang transparan, entah karena tidak dapat memberikan detail seberapa banyak uang dari donasi yang dugunakan untuk membayar pegawai dan biaya administrasi, atau karena menolak untuk memberitahu seberapa banyak uang dari donasi yang masih mereka simpan.

Teknologi blockchain memungkinkan keuangan untuk dapat di audit secara terbuka, memastikan badan amal tetap dapat dipercaya. Sifatnya yang terdesentralisasi dapat menyingkirkan bank, sehingga dana yang terkumpul bisa langsung disalurkan kepada yang membutuhkan tanpa perantara.

Namun bukan berarti blockchain bisa memecahkan seluruh masalah yang ada dalam sector amal, atau bahwa teknologi blockchain dianggap dapat sepenuhnya menggantikan badan amal. Program kampanye yang dilakukan oleh St Mungo’s hanya memperoleh kesuksesan yang biasa saja – menolong tiga tunawisma – dan badan amal memiliki peran penting dalam menyoroti isu sosial dan mengkampanyekan kepada masyarakat untuk berkontribusi pada isu tersebut.

Bisakah Blockchain Mengurangi Biaya Admin dalam Kegiatan Amal?

Mungkin saja. Sekarang ini biaya admin dan kegiatan penggalangan dana adalah dua biaya terbesar dalam amal.

Melalui blockchain, badan amal dapat memotong biaya transaksi terkait menerima pembayaran dari donator dan mengirimkannya kepada yang membutuhkan. Hal ini dapat membantu memaksimalkan dampak dari dana yang terkumpul, terlebih lagi bila transaksi terjadi dalam ranah internasional.

Organisasi blockchain tidak membuat platform sendiri untuk meningkatkan kesadaran dan menerima donasi, namun mereka mengembangkan API yang dapat disesuaikan dan diadaptasi oleh organisasi non-profit yang lebih kecil untuk membantu mereka memperluas jangkauan dan mengurangi pengeluaran untuk mengembangkan infrastruktur teknis.

Baca Juga: Kenali 4 Aplikasi Blockchain dalam Dunia Nyata

Dengan Pembayaran Donasi yang Transparan, Siapa yang Diuntungkan?

Selain para donatur bisa tenang karena uang yang mereka keluarkan digunakan untuk tujuan yang baik, hal ini juga memastikan badan amal tidak terputus dari pendanaannya.

Tahun lalu, Charity Finance Group di Inggris menyatakan terdpat lebih dari 300 badan amal – banyak dari mereka yang sah – dipotong pendanaannya karena tuduhan terlibat dalam aliran dana illegal. Seringkali hal ini disebabkan karena mereka ingin mengirimkan bantuan kepada orang-orang di negara yang mana terdapat banyak teroris. Rekening mereka ditutup oleh bank yang takut didenda karena gagal menghalangi pendanaan kelompok teroris.

Blockchain membuka jalan yang untuk catatan yang jelas tentang uang yang masuk dan keluar dari organisasi untuk dapat dicatat pada ledger abadi.

Dhila Rizqia

Dhila seorang lulusan studi komunikasi dan media yang memiliki ketertarikan besar pada dunia investasi khususnya bitcoin dan cryptocurrency.

Dhila seorang lulusan studi komunikasi dan media yang memiliki ketertarikan besar pada dunia investasi khususnya bitcoin dan cryptocurrency.