Teknologi Blockchain Dapat Digunakan Melawan Perdagangan Manusia

By Aulia Medina     Wednesday, April 10 2019

Putri Eugenie dari Britania Raya dan Duta anti perdagangan manusia John Richmond baru-baru ini berbicara mengenai menggunakan teknologi semacam aplikasi smartphone dan blockchain untuk melacak perdagangan manusia, Reuters melaporkan pada 8 April.

Pada saat konferensi press di Vienna, Austria oleh Organization for Security and Co-operation in Europe (OSCE), para ahli mencatat bahwa meningkatnya penggunaan internet telah memperluas kemampuan pelacak untuk mengeksploitasi potensi target.

Memanfaatkan Kemanjuan Teknologi

Namun, Putri Eugenie, cucu dari Ratu Elizabeth mengatakan bahwa teknologi juga dapat membantu melawan perdagangan. Eugenie yang menemukan Anti-Slavery Collective di Britania pada 2017, mengatakan:

“Saya telah belajar mengenai bagaimana blockchain memiliki pengaruh besar dalam pengelolaan rantai pasokan dan bagaimana aplikasi di Britania dapat menolong publik untuk melaporkan perbudakan modern di tempat pencucian mobil.”

Eugenie membandingkan dengan inisiatif yang digagas oleh Coca Cola, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, dan aplikasi Safe Car Wash. Hal ini dimulai sejak Maret 2018 dan bertujuan untuk menggunakan teknologi blockchain untuk menciptakan registrasi pekerja yang aman. Kerja sama ini bertujuan untuk mengatasi masalah pekerja yang dipaksa menggunakan validasi blockchain dan kemampuan notaris digital untuk menciptakan registrasi aman untuk pekerja dan kontrak mereka.

Baca juga: https://coinvestasi.com/berita/google-bitcoin-jadi-keyword-paling-dicari/

Aplikasi Safe Car Wash menemukan hampir 1000 kasus perbudakan di perusahaan pencucian mobil di Inggris. Aplikasi ini diluncurkan oleh  Church of England dan Catholic Church di Inggris dan Wales pada Juni lalu yang memungkinkan pengguna memasukan lokasi mereka dan memasukan beberapa indikator terjadinya perbudakan, seperti perusahaan hanya menerima uang tunai atau pekerja merasa ketakutan.  

Dijuluki Global Slavery Index oleh kelompok hak asasi manusia, Walk Free Foundation, Reuters melaporkan bahwa ada 136,000 pekerja budak di Britania Raya, yang mana 10 kali lipat lebih tinggi dari tahun 2013.

Duta anti perdagangan manusia, Richmond mencatat bahwa teknologi sendiri tidak dapat menghentikan perdagangan manusia, dia mengatakan, “Tidak ada algoritma atau aplikasi yang dapat menghentikan perdagangan manusia.” Richmond memang mengatakan hal itu, namun:

“Tapi ada alat teknologi yang dapat menolong orang-orang untuk melakukan pekerjaan mereka lebih baik lagi, Ini adalah pekerjaan lambat, melelahkan, hari demi hari, yang dapat membantu membuat perbedaan.”

Awal tahun ini, Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat meluluskan undang-undang yang akan membentuk komisi untuk belajar mengenai bagaimana cryptocurrency dan pasar online dapat digunakan untuk melacak perdagangan sex dan obat-obatan.

Sumber