Taiwan Gunakan Teknologi Web3, Tahan Serangan Siber China

Anisa Giovanny

13th August, 2022

Taiwan meningkatkan pertahanan keamanan sibernya terhadap serangan siber China dan musuh lainnya. Kementrian Urusan Digital Taiwan telah mengadopsi teknologi IPFS untuk melindungi infrastrukturnya.

InterPlanetary File System (IPFS), dirancang oleh Juan Benet pada 2014, adalah teknologi Web3 yang merupakan jaringan peer-to-peer terdesentralisasi yang memungkinkan pengguna mencadangkan, menyimpan file dan situs web dengan menghostingnya di seluruh jaringan node, untuk menghilangkan titik kegagalan terpusat dan menghindari upaya sensor.

Berita peningkatan IPFS datang setelah kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi yang membuat hubungan China dan Taiwan kembali memanas. 

Dalam sebuah wawancara dengan Central News Agency (CNA) yang dikelola pemerintah pada hari Selasa 9 Agustus 2022 waktu setempat, Menteri Digital Audrey Tang mengatakan bahwa kementerian meluncurkan proyek baru pada hari yang sama ketika China memulai latihan militer di dekat Taiwan, setelah kunjungan Pelosi.

“Sejauh ini, belum berhasil diserang sama sekali, dan tidak pernah macet sedetik pun, ini menggunakan struktur Web3 yang terkait dengan komunitas blockchain global dan jaringan tulang punggung Web2 global,” kata Tang. 

Menurutnya jika teknologi itu terserang, maka Ethereum dan NFT akan terpengaruh, dan itu hampir tidak mungkin. Ide menggunakan IPFS, kata Tang, muncul setelah Rusia menginvasi Ukraina dan menggunakan serangan siber untuk menyerang infrastruktur Ukraina.

Serangan Siber Taiwan Meningkat Setelah Pelosi Datang

Menurut Tang, volume serangan siber terhadap unit pemerintah Taiwan pada hari Selasa, sebelum dan selama kedatangan Pelosi, melampaui 15.000 gigabit, 23 kali lebih tinggi dari rekor harian sebelumnya. 

Implementasi teknologi Web3 merupakan langkah positif menuju implementasi teknologi yang sedang berkembang. Meskipun Tang memang menyoroti risiko aset Web3 lainnya seperti crypto dalam aktivitas seperti pencucian uang.

Hubungan Taiwan dengan crypto sendiri masih pasang surut. Baru-baru ini, negara tersebut secara tidak langsung melarang pembelian cryptocurrency dengan kartu kredit setelah kepala regulator keuangan membandingkan cryptocurrency dengan perjudian online.

Meskipun demikian, negara tersebut, seperti banyak negara lain di seluruh dunia, sedang menguji coba mata uang digital bank sentralnya sendiri (CBDC). Saat ini, Bank Sentral telah mendistribusikan mata uang digitalnya ke lima bank Taiwan.

Baca juga: Beda CBDC dan Cryptocurency

Anisa Giovanny

Anisa tertarik dengan dunia tulis menulis dan copyediting sejak bangku SMA dan diperdalam di dunia perkuliahan. Saat ini tertarik dan tengah mendalami bidang ekonomi terutama terkait investasi dan cryptocurrency

Anisa tertarik dengan dunia tulis menulis dan copyediting sejak bangku SMA dan diperdalam di dunia perkuliahan. Saat ini tertarik dan tengah mendalami bidang ekonomi terutama terkait investasi dan cryptocurrency