Pemula
Untuk kamu yang baru mau mulai masuk dan belajar dasar - dasar cryptocurrency dan blockchain.Temukan ragam materi mulai dari Apa itu Cryptocurrency, apa itu Bitcoin, hingga Apa itu NFT.
Berita Bitcoin · 6 min read

Strategy, perusahaan cadangan Bitcoin yang sebelumnya dikenal sebagai MicroStrategy, kembali menambah kepemilikan aset kriptonya dengan membeli 2.932 Bitcoin senilai sekitar US$264 juta atau setara Rp4,42 triliun. Dengan transaksi terbaru ini, total kepemilikan Bitcoin Strategy kini mencapai 712.647 BTC, semakin mengukuhkan posisinya sebagai pemegang Bitcoin korporasi terbesar di dunia.
Berdasarkan dokumen Form 8-K yang diajukan ke Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) pada Senin (26/1/2026), pembelian tersebut dilakukan dalam periode 20–25 Januari 2026 dengan harga rata-rata US$90.061 per BTC.
Chairman Strategy, Michael Saylor, menyampaikan bahwa secara keseluruhan Bitcoin yang dimiliki perusahaan dibeli dengan harga rata-rata US$76.037 per BTC, dengan total biaya akumulatif sekitar US$54,2 miliar atau setara Rp908 triliun, termasuk biaya dan pengeluaran terkait.
Pada harga pasar saat ini, nilai kepemilikan Bitcoin Strategy diperkirakan mencapai US$62,5 miliar atau sekitar Rp1.048 triliun. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 3,4 persen dari total suplai maksimum Bitcoin yang dibatasi sebanyak 21 juta BTC. Selisih antara harga beli dan harga pasar saat ini membuat Strategy mencatatkan keuntungan belum terealisasi sekitar US$8,3 miliar atau setara Rp139 triliun.
Baca juga: Strategy Catat Kepemilikan 709.715 Bitcoin
Pendanaan untuk pembelian Bitcoin terbaru ini berasal dari hasil penjualan saham biasa Kelas A Strategy (MSTR) serta saham preferen perpetual Stretch (STRC). Sepanjang pekan lalu, perusahaan melepas 1.569.770 lembar saham MSTR dengan nilai sekitar US$257 juta atau Rp4,3 triliun. Hingga 25 Januari 2026, Strategy masih memiliki ruang penerbitan saham MSTR senilai US$8,17 miliar melalui skema penjualan pasar terbuka (at-the-market).
Selain itu, Strategy juga menerbitkan 70.201 lembar saham preferen STRC senilai sekitar US$7 juta atau Rp117 miliar. Total kapasitas STRC yang masih tersedia tercatat mencapai US$3,62 miliar. Instrumen STRC sendiri merupakan saham preferen dengan tingkat bunga variabel dan dividen bulanan kumulatif, yang dirancang agar tetap diperdagangkan di sekitar nilai par.
Meski tetap agresif, pembelian kali ini menunjukkan perlambatan dibandingkan dua pekan sebelumnya, ketika Strategy masing-masing mengalokasikan dana sekitar US$1,2 miliar dan US$2,1 miliar untuk akumulasi Bitcoin. Namun, langkah ini tetap mencerminkan konsistensi strategi perusahaan dalam memanfaatkan fase pelemahan harga Bitcoin, yang sempat turun ke level terendah dalam lima pekan terakhir di bawah US$90.000.
Sebelumnya, pada pertengahan Januari, Strategy mengumumkan pembelian 22.305 BTC senilai sekitar US$2,1 miliar dengan harga rata-rata US$91.519 per BTC. Transaksi tersebut menjadi akumulasi mingguan terbesar perusahaan sejak pembelian 55.500 BTC pada November 2024.
Saat ini, Strategy menjalankan beberapa program penerbitan saham preferen perpetual, termasuk STRK, STRC, STRF, dan STRD, dengan total kapasitas mencapai US$31,5 miliar. Seluruh skema ini berjalan beriringan dengan rencana jangka panjang “42/42 Plan”, yang menargetkan penggalangan dana hingga US$84 miliar melalui penerbitan ekuitas dan obligasi konversi untuk mendukung pembelian Bitcoin hingga 2027.
Di sisi pasar modal, kinerja saham Strategy masih berada di bawah tekanan. Dalam enam bulan terakhir, harga saham MSTR tercatat turun lebih dari 60 persen dari puncaknya pada pertengahan 2025. Kapitalisasi pasar Strategy juga berada di bawah nilai bersih kepemilikan Bitcoin-nya, dengan rasio market cap terhadap net asset value (mNAV) di kisaran 0,83.
Meski demikian, Michael Saylor sebelumnya menegaskan bahwa struktur pendanaan Strategy dirancang untuk mampu bertahan dalam skenario ekstrem, termasuk jika harga Bitcoin anjlok hingga 90 persen dan bertahan di level rendah selama empat hingga lima tahun. Ia mengakui kondisi tersebut tetap akan menekan pemegang saham, namun menegaskan bahwa perusahaan tidak akan dipaksa menjual cadangan Bitcoin yang dimilikinya.
Baca juga: Strategy Kini Kuasai 650.000 Bitcoin
Seluruh konten berupa data dan atau informasi yang tersedia di Coinvestasi hanya bertujuan sebagai informasi dan referensi. Konten ini bukan saran atau nasihat investasi maupun trading. Seluruh pernyataan dalam artikel tidak dimaksudkan sebagai ajakan, rekomendasi, penawaran, atau dukungan untuk membeli atau menjual aset kripto apa pun.
Perdagangan di pasar keuangan, termasuk aset kripto, mengandung risiko dan dapat menyebabkan kerugian hingga kehilangan seluruh dana. Kamu wajib melakukan riset secara mandiri sebelum mengambil keputusan. Seluruh keputusan investasi atau trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu setelah memahami risiko yang ada.Gunakan hanya platform atau aplikasi aset kripto yang terdaftar dan beroperasi secara legal di Indonesia. Daftar platform aset kripto yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat diakses melalui di sini.
Topik
Coinvestasi Update Dapatkan berita terbaru tentang crypto, blockchain, dan web3 langsung di inbox kamu.