Pemula
Untuk kamu yang baru mau mulai masuk dan belajar dasar - dasar cryptocurrency dan blockchain.Temukan ragam materi mulai dari Apa itu Cryptocurrency, apa itu Bitcoin, hingga Apa itu NFT.
Berita Bitcoin · 8 min read

Strategy, perusahaan milik Michael Saylor yang sebelumnya dikenal sebagai MicroStrategy, tampaknya terburu-buru masuk pasar sebelum harga Bitcoin jatuh tajam pekan lalu. Langkah pembelian tersebut dinilai membuat perusahaan melewatkan kesempatan untuk membeli di level harga yang lebih rendah saat pasar kripto mengalami penurunan besar.
Dalam keterangan resmi yang dirilis pada Senin (13/10/2025), Strategy mengonfirmasi pembelian tambahan sebanyak 220 BTC senilai US$27,2 juta atau sekitar Rp450 miliar dengan harga rata-rata US$123.561 per koin selama periode 6–12 Oktober. Dana pembelian ini berasal dari hasil penjualan saham preferen perusahaan, termasuk STRF, STRK, dan STRD, yang menghasilkan total pendanaan sebesar US$27,3 juta.
Rangkaian penawaran saham tersebut menjadi salah satu sumber pembiayaan utama bagi strategi akumulasi Bitcoin perusahaan, mencerminkan praktik jangka panjang Strategy dalam mengonversi hasil penjualan ekuitas menjadi aset digital.
Dengan akuisisi terbaru ini, total kepemilikan Strategy kini mencapai 640.250 BTC, menjadikannya perusahaan publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar di dunia bersama sejumlah entitas aset digital lain yang menerapkan model cadangan serupa. Rata-rata harga akumulasi perusahaan sejak memulai strategi ini pada 2020 tercatat sekitar US$74.000 per BTC.
Baca juga: Bank Asal Tiongkok Galang Dana Hampir Rp10 Triliun untuk Investasi BNB
Sejumlah analis menilai keputusan pembelian tersebut tidak dilakukan pada waktu yang ideal. Hanya dua hari setelah transaksi selesai, harga Bitcoin anjlok dari kisaran US$123.000 menjadi US$104.000 pada 10 Oktober lalu, salah satu flash crash terbesar dalam sejarah pasar kripto yang memicu likuidasi posisi leverage lebih dari US$19,29 miliar atau sekitar Rp320 triliun hanya dalam sehari.
Kejatuhan tajam itu dipicu oleh pengumuman Presiden AS Donald Trump mengenai rencana kenaikan tarif impor hingga 100% untuk barang asal Tiongkok, sebagai respons terhadap kebijakan pembatasan ekspor logam tanah jarang oleh Beijing. Kebijakan tersebut kembali menyalakan kekhawatiran perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia.
Pada titik terendahnya, harga Bitcoin sempat turun hampir 16% di bawah harga rata-rata pembelian Strategy. Bahkan ketika pasar mulai pulih pada akhir pekan, perusahaan masih berpotensi membeli Bitcoin di kisaran US$110.000–US$115.000, atau sekitar 7–10% lebih murah dari harga beli terakhirnya.
Baca juga: Likuidasi Kripto Terbesar Sepanjang Sejarah, Rp320 Triliun Lenyap dalam Sehari
Seluruh konten berupa data dan atau informasi yang tersedia di Coinvestasi hanya bertujuan sebagai informasi dan referensi. Konten ini bukan saran atau nasihat investasi maupun trading. Seluruh pernyataan dalam artikel tidak dimaksudkan sebagai ajakan, rekomendasi, penawaran, atau dukungan untuk membeli atau menjual aset kripto apa pun.
Perdagangan di pasar keuangan, termasuk aset kripto, mengandung risiko dan dapat menyebabkan kerugian hingga kehilangan seluruh dana. Kamu wajib melakukan riset secara mandiri sebelum mengambil keputusan. Seluruh keputusan investasi atau trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu setelah memahami risiko yang ada.Gunakan hanya platform atau aplikasi aset kripto yang terdaftar dan beroperasi secara legal di Indonesia. Daftar platform aset kripto yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat diakses melalui di sini.
Topik
Coinvestasi Update Dapatkan berita terbaru tentang crypto, blockchain, dan web3 langsung di inbox kamu.