Stablecoin Libra Masih Menjadi Ancaman Utama Bitcoin

Wafa Hasnaghina

20th April, 2020

Ekonom dan akademisi John Vaz percaya Libra, Stablecoin dari Facebook masih menjadi lawan yang kuat bagi Bitcoin. Vaz percaya Bitcoin (BTC) masih dalam persaingan yang ketat melawan proyek Libra dari Facebook tersebut.

Vaz mengatakan, Bitcoin memiliki tantangan dalam menimbang jumlah pembayaran dan juga digunakan secara tidak proporsional sebagai wahana spekulasi. Sebaliknya, ia mengatakan Libra sengaja dibangun untuk menimbang jaringan pembayaran tersebut dan dapat dengan cepat muncul sebagai pesaing utama. Walaupun di lain sisi, Libra sendiri memiliki beberapa masalah dengan regulasi yang masih berlangsung hingga saat ini.

“Libra tidak mati, mereka hanya masih dalam masalah regulasi yang buruk”, ujar Vaz.

Selain itu, Vaz juga menolak mata uang digital bank sentral (CBDCs). Ia menggambarkan mereka sebagai “sikap defensif” yang lemah dalam menanggapi ancaman aset kripto yang ditimbulkan oleh kontrol mereka atas pasokan uang dan kredit.

Vaz mengatakan “Kompetitor terberat Bitcoin berasar dari cryptocurrency lainnya”.

Konsep Model Libra “Sangat Menarik”

Sementara Facebook menderita masalah karena ketidakpercayaan publik kepadanya, Vaz mengungkapkan bahwa model yang diusulkan stablecoin Libra merupakan hal yang “sangat menarik”. Model tersebut menekankan pada sekumpulan aset yang menopang stabilitas instrumen, dan jaringan yang ada dapat dimanfaatkan oleh perusahaan teknologi besar. 

Ekonom tersebut berpendapat perusahaan seperti Facebook dapat memanfaatkan basis pengguna yang ada dan transaksi keuangan yang sudah ada dan pernah terjadi.

“Mereka menargetkan pasar yang siap pakai untuk mereka sendiri. Pasar tersebut misalnya orang yang pernah atau sudah pernah melakukan transaksi di Facebook, Messenger, Whatsapp, dan Instagram, serta aplikasi lainnya. Jadi mereka mendapatkan lalu lintas (jaringan) pesan, dan orang-orang tersebut melakukan transaksi ekonomi dengan menggunakan fiat.”

Hal tersebut memungkinkan “dominasi” yang sangat besar atau mungkin lebih besar daripada mata uang digital lain yang sudah lama ada.

Vaz juga memperkirakan target awal Libra adalah negara-negara berkembang dan bukan pasar-pasar maju. Ia juga menambahkan “Mereka (Facebook) akan membubuhkan diri di sana, di mana orang-orang sudah menggunakan aplikasi tersebut dan memiliki kebutuhan untuk pembayaran.”

Baca juga: Bank Sentral Berlomba-lomba Terbitkan Mata Uang Digital

Mata Uang Digital Bank Sentral, Reaksi Defensif Terhadap Aset Crypto

Vaz tidak percaya mata uang digital bank sentral (CBDC) akan menjadi pesaing aset crypto dan stablecoin dan merupakan “sikap defensif” dari pemerintah. Ia mengungkapkan,

“Mereka akan menjadi semacam tindakan pertahanan paling akhir yang akan diperjuangkan oleh bank sentral karena mereka (pemerintahan) tidak menyukai cryptocurrency.”

Daripada ancaman dari bank sentral tersebut terhadap Bitcoin, Vaz lebih percaya Bitcoin dan cryptocurrency lain yang justru merupakan ancaman yang dapat melemahkan kontrol bank atas jumlah uang yang beredar. 

Ia menambahkan, “jelas hal ini akan menghilangkan kemampuan mereka dalam mengontrol perekonomian karena hal-hal seperti Bitcoin. Anda tidak bisa menghasilkan uang dengan cara kredit.”

“Bank dapat meminjamkan uang hingga mungkin delapan atau sembilan kali dengan sistem cadangan fraksional. Hal tersebut membuat banyak bank menciptakan suplai uang besar-besaran pada sistem cadangan fraksional. Namun, sistem seperti Bitcoin, Anda tidak dapat meminjamkan apa yang tidak Anda miliki.”

Ia juga menegaskan, CDBC tidak menawarkan manfaat apapun di luar penyelesaian peer-to-peer, “yang pasti Anda dapatkan secara default dengan cryptocurrency. Konsep mata uang digital bank sentral mungkin lebih tentang bagaimana mereka melacak uang daripada menawarkan utilitasnya.”

Sumber