Coinvestasi Telegram Group Coinvestasi Telegaram Channel

Dapat Return 500%, Tapi Tidak Bisa Baca Smart Contract. Kok Bisa?

Wafa Hasnaghina     Wednesday, September 23 2020

Sebagian besar orang-orang yang melakukan Yield Farming atau yang disebut yield farmers belum memahami cara membaca potensi hasil maupun risiko dari smart contract ekosistem protokol Decentralized Finance (DeFi). Hal ini bertolak belakang dengan keuntungan besar yang mereka hasilkan dari yield farming.

Baca juga: Apa itu Yield Farming? Panduan untuk Pemula!

Menurut data dari survei dari CoinGecko dengan responden sebanyak 1.347 pengguna menemukan fakta bahwa 93% responden mengklaim telah meraup keuntungan finansial setidaknya 500%. 

Di lain sisi, hampir setengah dari responden terlebih yang bermodalkan kurang dari $1.000, menghabiskan biaya gas yang tinggi saat melakukan transaksi yield farming. Tentunya, hal ini tidak menghalangi 59% pengguna untuk terus melakukan yield farming.

Fakta unik yang ditemukan di dalam survei tersebut hanya 40% pengguna DeFi mengklaim bahwa mereka dapat membaca sekaligus menafsirkan smart contract yang ada di dalam protokol.

Yield Farming ini merupakan fenomena global. Hal ini terbukti dengan penyebaran penggunanya di seluruh dunia dengan 31% pengguna berada di Eropa, 28% di Asia, 18% di Amerika Utara, 10% berada di Afrika, 7% di Amerika Selatan, dan 4% berada di Oseania.

Baca juga: Takut Ketinggalan, Trader Cina Pindahkan BTC dan ETH ke DEX untuk Yield Farming

Data tersebut juga menjabarkan bahwa pengguna yield farming 90% didominasi laki-laki dengan 34% di antaranya berusia antara 30-39 tahun, sementara 25% lainnya berusia dua puluh tahunan.

Selain itu, para yield farmers tersebut 82,7%nya memegang Ether disusul Bitcoin dengan 74%.

Meskipun banyak proyek DeFi yang membagikan rewards berupa token tata kelola kepada penggunanya, hanya 11% dari pengguna yang menyatakan keinginannya untuk benar-benar berpartisipasi dalam konsensus protokol platform DeFi yang mereka gunakan. Dengan 54% diantaranya memutuskan untuk memegang token mereka, sementara 32% lainnya melakukan Yield Farming untuk menghasilkan keuntungan dengan cara dijual kembali.

Informasi ini dapat dibaca kembali di sini