Saham Dibawah Tekanan, Level Kritis Harus Dilewati Bitcoin

Wafa Hasnaghina

8th December, 2020

Saham AS sedang dalam proses koreksi, hal ini dikaitkan dengan kekhawatiran seputar pandemi yang semakin parah. Melihat kondisi ini, harga Bitcoin (BTC) mengalami penurunan dan berada di kisaran $18.800 saat penulisan dilakukan. Penurunan ini dilakukan Bitcoin setelah, mata uang crypto terbesar menurut kapitalisasi pasar tersebut belum mampu menembus level resistance di $19.500.

Kasus COVID-19 di AS dan Eropa terus melonjak meskipun ada peraturan terkait dengan pembatasan fisik dan sosial yang ketat. Swedia, misalnya, yang sejauh ini bergantung pada kegiatan sosial menerapkan serangkaian pembatasan baru.

Sejak 30 Oktober lalu, dalam enam minggu, Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 13,46%. Indeks pasar saham utama AS lainnya, seperti S&P 500, juga mulai naik sekitar 13%.

Menyusul rally enam minggu yang kuat, seruan koreksi pasar saham muncul. Beberapa indikator teknis menunjukkan pasar ekuitas terlalu panas dan dapat berdampak negatif pada aset alternatif, seperti Bitcoin, dalam jangka pendek.

Ketidakpastian Kondisi Makro Bertepatan dengan Grafik Teknis BTC

Analis pasar mengatakan Bitcoin saat ini sedang berjuang melawan level kritis yang dapat menentukan arah harga jangka pendeknya.

Umumnya, analis menunjuk ke kisaran $19.500 hingga $19.600 sebagai area resistance penting di masa mendatang. Di atasnya, BTC memiliki potensi untuk menembus level all-time-high dan melanjutkan rally.

Jika Bitcoin akhirnya tidak dapat menembus level tersebut, para trader berharap harga Bitcoin stabil pada harga support di antara $14.000 hingga $18.000.

Ketidakpastian pada pasar Bitcoin ini bertepatan dengan ambivilennya pasar saham. 

Selama beberapa minggu terakhir, saham AS menguat, mendukung sentimen untuk aset berisiko. Namun, kemunduran S&P 500 baru-baru ini di sesi perdagangan setelah jam kerja menunjukkan adanya perubahan sentimen investor. Holger Zschaepitz, seorang analis pasar di Welt, mengatakan:

“Saham global berada di bawah tekanan lantaran kekhawatiran pandemi melebihi harapan stimulus. S&P 500 Futures turun di tengah kekhawatiran terkait aturan pembatasan baru karena infeksi meningkat. Obligasi ditahan untuk Mon’s gains dengan imbal hasil 10 tahun AS di 0,93%. Dolar stabil dengan Euro di $1,2120. Emas diperdagangkan lebih tinggi pada $1868. #Bitcoin seharga $19.1rb.”

Sumber utama ketakutan dan ketidakpastian berasal dari apakah paket stimulus moneter tambahan akan datang dalam waktu dekat. Terlepas dari optimisme seputar vaksin, gelombang kedua adanya lockdown dan pembatasan ekonomi di AS dan Eropa memberikan tekanan pada sentimen pasar.

Korelasi Bitcoin dengan S&P 500 dan emas telah menurun sejak Oktober. Namun demikian, penurunan pasar ekuitas kemungkinan juga akan menyebabkan penurunan harga BTC dan emas, setidaknya di awal, seperti yang terlihat pada bulan Maret.

Baca juga: Mati Greenspan: Bitcoin dan S&P 500 Tidak Lagi Berkorelasi

Dilansir dari Cointelegraph, variabel lain yang perlu dipertimbangkan adalah volume yang tidak begitu besar di pasar Bitcoin di tengah rekor tingkat “keserakahan yang ekstrim,” berdasarkan Indeks Fear and Greed Crypto. Volume perdagangan harian BTC berada dalam tren turun dibandingkan minggu-minggu sebelumnya, yang juga menunjukkan tingkat kewaspadaan yang tinggi di pasar.

JPMorgan Tetap Optimis

Meskipun sentimen jangka pendek di sekitar aset berisiko berkurang, JPMorgan mengatakan pasar masih di tengah tren bullish.

Menurut Business Insider, ahli strategi JPMorgan menjelaskan perdagangan “ekuitas panjang” terlalu padat dan kemungkinan adanya koreksi pada bulan Januari. Namun, para ahli strategi menekankan setiap koreksi di pasar saham akan menjadi peluang untuk kembali membeli. Mereka berkata:

“Jadi setiap koreksi ekuitas dalam waktu dekat akan menjadi peluang membeli kembali. Kami berpendapat bahwa saat ini kita masih berada di tengah tren pasar bullish.”