Pasar Crypto Crash! Berikut Analisis Pergerakan Harga Selanjutnya

Naufal Muhammad

24th January, 2022

Pasar crypto crash dengan koreksi signifikan yang terlihat dari penurunan harga Bitcoin sekitar 20% sejak Kamis 20 Januari 2022.

Bersama crash ini sekitar $1,5 Triliun hilang dari kapitalisasi pasar crypto sejak November mendorong mayoritas altcoins pergerak turun.

Pada Minggu 23 Januari 2022, mayoritas crypto terlihat berusaha bergerak naik, yang membuat pertanyaan, apakah koreksi sudah selesai?

Mayoritas Crypto Crash!

Bitcoin turun ke bawah Rp502 Juta bersama crypto lain seperti Ethereum yang turun di bawah Rp34,4 Juta pada akhir pekan lalu.

Tercatat bahwa saat koreksi ini terjadi, lebih dari $1 Miliar likuidasi juga terjadi di pasar derivatif seperti futures dan options.

Walau sudah mengalami pemulihan secara perlahan, banyak analis yang memberikan pandangannya mengenai kewaspadaan yang harus dimiliki terkait koreksi besar ini.

Sebab, saat ini crypto telah kembali ke harga Januari 2021, yang memberi pertanda mulainya bear market atau kondisi pasar crypto yang lesu.

Koreksi besar ini terjadi setelah penolakan dari SEC terkait ETF Bitcoin Spot dan sentimen negatif lain seperti dari Rusia.

Terdapat beberapa alasan lain yang disampaikan oleh CEO dari MicroStrategy, salah satu investor Bitcoin terbesar di dunia.

Michael Saylor, CEO MicroStrategy menyatakan, koreksi ini terjadi akibat beberapa hal.

Penyebab pertama adalah ketidakjelasan regulasi yang juga tercermin dari penundaan dan keputusan ETF Bitcoin Spot.

Selain itu ia percaya bahwa koreksi ini juga terjadi akibat besarnya leverage yang digunakan untuk mendorong posisi di pasar derivatif.

Ia menganggap bahwa adanya leverage yang berlebihan juga telah menyebabkan volatilitas tinggi yang juga berpengaruh terhadap koreksi saat ini.

Terdapat analis lain yang melengkapi pernyataan Saylor dengan menyatakan bahwa tingginya leverage, ada kemungkinan normalisasi oleh bursa.

Hal ini disebabkan leverage adalah pinjaman sehingga jika terlalu banyak pinjaman, uang yang tersedia di bursa kemungkinan akan terus berkurang.

Kondisi tersebut tidak baik untuk bursa karena kepemilikan uang jangka pendek menjadi terhambat. Jadi, ada kemungkinan likuidasi untuk normalisasi kondisi ini.

Sayangnya pernyataan tersebut mengindikasikan adanya manipulasi harga untuk keuntungan bursa yang kebenarannya belum pernah dibuktikan secara menyeluruh.

Crypto Crash Sudah Selesai?

Walaupun banyak asumsi dan kekhawatiran terkait koreksi yang masih akan berlanjut, saat ini juga terdapat pandangan lain terkait potensi pemulihan.

Ada beberapa analis yang memprediksi bahwa saat ini koreksi sudah selesai dan ada potensi harga akan kembali naik.

Salah satu analis yang menyatakan pandangan positif adalah kepala dari Delta Exchange, Pankaj Balani. Ia menyatakan,

“Bitcoin kemungkinan besar akan naik dari harga $35.000 setelah koreksi 50% dari harga tertinggi (Sejak November 2021) dan dalam jangka pendek kemungkinan bisa naik menuju $45.000 – $50.000.”

Sayangnya ia juga menyatakan bahwa dalam jangka panjang, pasar masih akan koreksi akibat besarnya likuidasi.

Banyak analis yang menganggap bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk membeli akibat sedang murahnya harga mayoritas crypto.

Pandangan ini diikuti oleh Michael Saylor yang menyatakan saat ini adalah saat yang baik untuk investor institusi. Ia menyatakan,

“Saya merasa bahwa akan terjadi konsolidasi di harga crypto saat ini yang menjadi saat baik untuk membeli terutama untuk investor institusi.”

Saylor juga menyatakan bahwa ia telah berdiskusi dengan banyak investor besar.

Mayoritas khawatir terhadap apresiasi sejak 2021 tapi melupakan fakta bahwa saat ini sedang terjadi koreksi besar.

Bersama regulator yang mulai memberi perhatian terhadap crypto, membuat saat ini adalah saat yang tepat untuk beli.

Analisis Pergerakan Harga

Saat ini pasar crypto masih dihantui potensi koreksi akibat adanya publikasi data dan kebijakan suku bunga The Fed.

Kondisi ini juga berhasil membuat aset keuangan seperti saham koreksi signifikan.

Konstantin Boyko-Romanovsky, kepala dari Allnodes, menyatakan bahwa semakin banyak investor yang masuk ke crypto maka korelasinya dengan pasar keuangan tradisional akan semakin kuat.

Jadi koreksi ini adalah hal yang wajar. Sebab, ke depannya pasar crypto berpotensi semakin stabil bersama meningkatnya kapitalisasi pasar.

Kabar publikasi suku bunga acuan oleh The Fed atau Bank Sentral Amerika Kamis, 27 Januari 2022 WIB, masih menjadi pusat perhatian saat ini.

Terdapat dua kemungkinan terkait suku bunga acuan. Jika suku bunga acuan mulai naik secara signifikan ada kemungkinan pasar crypto akan konsolidasi dalam jangka menengah.

Jika suku bunga acuan naik secara perlahan atau stagnan, ada kemungkinan pemulihan harga perlahan.

Kondisi ini menghilangkan korelasi negatif antara Dolar Amerika dan aset berisiko layaknya Tahun 2006 hingga 2007.

Grafik Mingguan BTCUSD

Setelah keluar dari pergerakan apresiasinya kemungkinan besar Bitcoin dapat menguji kembali zona tersebut sebelum lanjut bergerak.

Kemungkinan pertama adalah Bitcoin membentuk bear trap saat ini dan mengalami pergerakan apresiasi kembali hingga sekitar $70.000 atau Rp1 Miliar.

Kemungkinan kedua adalah Bitcoin menguji kembali daerah $45.000 atau Rp645 Juta hingga $50.000 atau Rp717 Juta. Kemudian harganya akan turun hingga $28.000 atau Rp400 Juta.

MVRV Z-SCORE 2020 – 2022

Data onchain MVRV Z-Score memperlihatkan potensi koreksi menuju $35.000 atau Rp502 Juta hingga $30.000 atau Rp430 Juta.

Data onchain lain seperti Bitcoin Liveliness memperlihatkan whale atau investor besar masih akumulasi atau membeli secara perlahan.

Naufal Muhammad

Muhammad Naufal merupakan seorang penggemar bidang makroekonomi dan keuangan. Pada saat ini fokus utama tertuju pada bidang teknologi keuangan terutama trading dan investasi crypto.

Muhammad Naufal merupakan seorang penggemar bidang makroekonomi dan keuangan. Pada saat ini fokus utama tertuju pada bidang teknologi keuangan terutama trading dan investasi crypto.