Pemula
Untuk kamu yang baru mau mulai masuk dan belajar dasar - dasar cryptocurrency dan blockchain.Temukan ragam materi mulai dari Apa itu Cryptocurrency, apa itu Bitcoin, hingga Apa itu NFT.
Analisis · 5 min read

Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) telah menerbitkan Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat bulan Juni. CPI berada di angka 3% dari tahun ke tahun.
Angka ini berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 3,1% dan lebih rendah dari 3,3% yang tercatat di Mei 2024.
Terlepas dari inflasi yang turun dan tampaknya bullish untuk Bitcoin (BTC), harga aset kripto tersebut nyatanya hanya naik sesaat ke level US$58.000 dan kembali turun ke level US$57.000 dalam 24 jam terakhir.

Gagalnya Bitcoin mempertahankan kenaikan saat infalasi AS turun ini tampaknya disebabkan oleh sejumlah faktor. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.
Jag Kooner, Kepala Derivatif di Bitfinex, mencatat bahwa pembacaan CPI yang lebih rendah memperkuat ekspektasi pasar terhadap potensi penurunan suku bunga pada bulan September, dengan Fed Fund berjangka menempatkan kemungkinan sebesar 70%.
Namun, antisipasi penurunan suku bunga tidak segera terwujud, dengan Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyatakan bahwa The Fed belum siap menurunkan suku bunga.
Sikap hati-hati dari The Fed ini telah menambah lapisan ketidakpastian, berkontribusi pada perjuangan Bitcoin untuk menembus level US$58.000.
Baca juga: 3 Peristiwa Ekonomi Makro Penting untuk Kripto di Pekan Ini
Dilansir dari Cointelegraph, analis Daan Crypto mengungkapan kelemahan Bitcoin saat ini dapat dikaitkan dengan calo dan pembuat pasar yang mencoba melikuidasi posisi long dengan leverage. Meskipun demikian, Daan Crypto berpendapat bahwa tren tersebut mendukung kelanjutan yang lebih tinggi, menunjukkan bahwa Bitcoin akan bangkit kembali ke US$60.000 dalam waktu dekat.
Alasannya adalah jika bank sentral AS memangkas suku bunga, insentif untuk investasi pendapatan tetap akan berkurang, sehingga mendorong sebagian dari uang tersebut mengalir ke aset dengan imbal hasil lebih tinggi seperti Bitcoin.
Bitcoin kurang sentimen dan justru kian tertekan dengan penjualan Bitcoin milik pemerintah Jerman dan miner yang menjual BTC mereka. Arkham Intelligence melaporkan bahwa kurang dari 5.000 BTC yang tersisa untuk dijual dari 50.000 BTC yang sebelumnya dimiliki pemerintah Jerman.
Sementara itu, pemotongan subsidi blok sebesar 50% dari halving pada bulan April telah memaksa beberapa penambang untuk menjual kepemilikan mereka.
Menurut laporan CryptoQuant, penambang besar telah menjual sekitar US$300 juta sejak 20 Juni, sementara penambang skala menengah telah menjual sekitar US$500 juta.
Baca juga: Harga Bitcoin Ambruk ke Level US$53 Ribu, Rp11 Triliun Terlikuidasi di Kripto
Seluruh konten berupa data dan atau informasi yang tersedia di Coinvestasi hanya bertujuan sebagai informasi dan referensi. Konten ini bukan saran atau nasihat investasi maupun trading. Seluruh pernyataan dalam artikel tidak dimaksudkan sebagai ajakan, rekomendasi, penawaran, atau dukungan untuk membeli atau menjual aset kripto apa pun.
Perdagangan di pasar keuangan, termasuk aset kripto, mengandung risiko dan dapat menyebabkan kerugian hingga kehilangan seluruh dana. Kamu wajib melakukan riset secara mandiri sebelum mengambil keputusan. Seluruh keputusan investasi atau trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu setelah memahami risiko yang ada.Gunakan hanya platform atau aplikasi aset kripto yang terdaftar dan beroperasi secara legal di Indonesia. Daftar platform aset kripto yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat diakses melalui di sini.
Coinvestasi Update Dapatkan berita terbaru tentang crypto, blockchain, dan web3 langsung di inbox kamu.