Forum Ekonomi Dunia Rilis Laporan Terkait Keamanan Cyber Blockchain

By Aulia Medina     Thursday, April 11 2019

Forum Ekonomi Dunia merilis sebuah laporan terkait keamanan cyber blockchain pada 5 April lalu.

Laporan tersebut menunjukan bahwa kebanyakan pelanggaran data tidak dihasilkan dari level kemampuan peretas, melainkan terjadi karena kurangnya keamanan yang diterapkan. Forum Keamanan dunia selanjutnya mengklaim bahwa sementara para penyerang melakukan kompromi blockchain sendiri, mereka lebih sering mencoba untuk mengeksploitasi atau membahayakan penyebaran mereka.  

Forum Ekonomi Dunia merujuk pada pelanggaran data dari raksasa ritel, Target yang membuat CEO dan kepala informasinya dipecat, juga menyebutkan bahwa arahan dari Kantor Manajemen Personalia Pemerintah Amerika Serikat dan co-chairman Sony Pitcures Entertainment terpaksa mengundurkan diri setelah pelanggaran data yang berbeda.

Dengan pemikiran tersebut, Forum Ekonomi Dunia mencatat bahwa para pemimpin memainkan peranan dalam keamanan blockchain.

Baca juga: Selamat Datang Oham di Asosiasi Blockchain Indonesia!

Laporan tersebut mencatat bahwa keamanan cyber seharusnya dikenali sebagai disiplin kepemimpinan inti, dan mengutip penelitian terkait oleh jurnalis keamanan Brian Krebs. Menurut penelitian di atas, hanya 5% dari 100 perusahaan teratas yang memiliki pemimpin keamanan cyber yang berdedikasi.

Forum ekonomi dunia merekomendasikan perusahaan yang berhubungan dengan blockchain untuk menetapkan posisi kepemimpinan keamanan cyber dalam organisasi mereka dan memastikan posisi itu diberdayakan untuk mengambil tindakan yang diperlukan.

Seperti yang Cointelegraph laporkan pada Maret lalu, perusahaan fintech asal Israel yang bekerja dengan forex dan perdagangan crypto telah ditargetkan oleh malware, menurut sebuah postingan blog dari departemen riset ancaman Unit 42 dari perusahaan keamanan cyber Palo Alto Network.

Di bulan Maret juga, Cointelegraph menuliskan bahwa jumlah peretasan perangkat Internet of Things (IoT) dan jaringan cryptocurrency di Jepang hampir dua kali lipat di 2018 ketika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Sumber