Berita Blockchain · 7 min read

Ethereum Kuasai Pasar Stablecoin, Volume Trading Tembus US$1,11 Triliun di Februari 2025

ethereum
Coinvestasi Ads Promo Coinfest Asia 2025

Ethereum terus memperkuat dominasinya sebagai blockchain utama dalam ekosistem stablecoin, bahkan ketika pasar kripto menghadapi tantangan besar, dengan volume transaksi onchain stablecoin tetap menunjukkan tren yang kuat, mencerminkan meningkatnya penggunaan aset digital ini dalam berbagai transaksi keuangan.

Berdasarkan data dari The Block per Rabu (19/3/2025), volume transaksi onchain stablecoin di Ethereum tetap stabil dalam empat bulan terakhir, dengan rata-rata mencapai sekitar US$800 miliar per bulan. Selain itu, jumlah harian alamat wallet yang melakukan transfer stablecoin juga terus meningkat, dengan jumlah terbaru mencapai 600.000 alamat dalam satu pekan.

Volume stablecoin on-chain di Ethereum. Sumber: The Block

Tren ini menunjukkan bahwa stablecoin semakin diadopsi oleh berbagai pengguna sebagai alat pembayaran dan penyimpanan nilai yang lebih stabil dibandingkan aset kripto volatil lainnya.

Baca juga: Trader Ini Rugi Rp 11 Miliar Akibat Sandwich Attack Saat Swap Stablecoin

Didominasi USDC dan USDT

Dua stablecoin terbesar, yakni USD Coin (USDC) dan Tether (USDT), masih menjadi pemain dominan di industri ini. Pada Februari 2025, keduanya menyumbang hampir US$800 miliar dari total volume transaksi stablecoin sebesar US$1,11 miliar.

Dominasi ini mencerminkan kepercayaan pasar terhadap USDC dan USDT sebagai stablecoin yang telah terbukti memiliki rekam jejak kuat dalam menyediakan likuiditas tinggi dan kestabilan nilai. Keandalan keduanya juga didukung oleh basis pengguna yang luas serta ekosistem yang semakin berkembang di berbagai blockchain, terutama Ethereum.

Meskipun banyak blockchain alternatif bermunculan, Ethereum tetap menjadi jaringan utama bagi aktivitas stablecoin. Saat ini, Ethereum meng=hosting sekitar US$35 miliar dalam bentuk USDC dan US$67 miliar dalam bentuk USDT.

Keunggulan Ethereum sebagai layer utama penyelesaian transaksi stablecoin didukung oleh faktor-faktor seperti keamanan jaringan, tingkat desentralisasi tinggi, serta infrastruktur yang sudah matang.

Kendati gas fee Ethereum cenderung lebih tinggi dibandingkan beberapa blockchain lainnya, likuiditas yang besar dan integrasi dengan berbagai aplikasi keuangan terdesentralisasi (DeFi) menjadikannya pilihan utama bagi pengguna stablecoin.

Baca juga: Ethereum Tunda Rilis Pectra di Mainnet, Kenalkan Testnet Baru Hoodi

Disclaimer

Konten baik berupa data dan/atau informasi yang tersedia pada Coinvestasi hanya bertujuan untuk memberikan informasi dan referensi, BUKAN saran atau nasihat untuk berinvestasi dan trading. Apa yang disebutkan dalam artikel ini bukan merupakan segala jenis dari hasutan, rekomendasi, penawaran, atau dukungan untuk membeli dan menjual aset kripto apapun.

Perdagangan di semua pasar keuangan termasuk cryptocurrency pasti melibatkan risiko dan bisa mengakibatkan kerugian atau kehilangan dana. Sebelum berinvestasi, lakukan riset secara menyeluruh. seluruh keputusan investasi/trading ada di tangan investor setelah mengetahui segala keuntungan dan risikonya.

Gunakan platform atau aplikasi yang sudah resmi terdaftar dan beroperasi secara legal di Indonesia. Platform jual-beli cryptocurrency yang terdaftar dan diawasi BAPPEBTI dapat dilihat di sini.

author
Dilla Fauziyah

Editor

arrow

Terpopuler

Loading...
Coinvestasi Ads Promo Coinfest Asia 2025
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...

#SemuaBisaCrypto

Belajar aset crypto dan teknologi blockchain dengan mudah tanpa ribet.

Coinvestasi Update Dapatkan berita terbaru tentang crypto, blockchain, dan web3 langsung di inbox kamu.