Pemula
Untuk kamu yang baru mau mulai masuk dan belajar dasar - dasar cryptocurrency dan blockchain.Temukan ragam materi mulai dari Apa itu Cryptocurrency, apa itu Bitcoin, hingga Apa itu NFT.
Berita Blockchain · 5 min read

Ethereum terus memperkuat dominasinya sebagai blockchain utama dalam ekosistem stablecoin, bahkan ketika pasar kripto menghadapi tantangan besar, dengan volume transaksi onchain stablecoin tetap menunjukkan tren yang kuat, mencerminkan meningkatnya penggunaan aset digital ini dalam berbagai transaksi keuangan.
Berdasarkan data dari The Block per Rabu (19/3/2025), volume transaksi onchain stablecoin di Ethereum tetap stabil dalam empat bulan terakhir, dengan rata-rata mencapai sekitar US$800 miliar per bulan. Selain itu, jumlah harian alamat wallet yang melakukan transfer stablecoin juga terus meningkat, dengan jumlah terbaru mencapai 600.000 alamat dalam satu pekan.

Tren ini menunjukkan bahwa stablecoin semakin diadopsi oleh berbagai pengguna sebagai alat pembayaran dan penyimpanan nilai yang lebih stabil dibandingkan aset kripto volatil lainnya.
Baca juga: Trader Ini Rugi Rp 11 Miliar Akibat Sandwich Attack Saat Swap Stablecoin
Dua stablecoin terbesar, yakni USD Coin (USDC) dan Tether (USDT), masih menjadi pemain dominan di industri ini. Pada Februari 2025, keduanya menyumbang hampir US$800 miliar dari total volume transaksi stablecoin sebesar US$1,11 miliar.
Dominasi ini mencerminkan kepercayaan pasar terhadap USDC dan USDT sebagai stablecoin yang telah terbukti memiliki rekam jejak kuat dalam menyediakan likuiditas tinggi dan kestabilan nilai. Keandalan keduanya juga didukung oleh basis pengguna yang luas serta ekosistem yang semakin berkembang di berbagai blockchain, terutama Ethereum.
Meskipun banyak blockchain alternatif bermunculan, Ethereum tetap menjadi jaringan utama bagi aktivitas stablecoin. Saat ini, Ethereum meng=hosting sekitar US$35 miliar dalam bentuk USDC dan US$67 miliar dalam bentuk USDT.
Keunggulan Ethereum sebagai layer utama penyelesaian transaksi stablecoin didukung oleh faktor-faktor seperti keamanan jaringan, tingkat desentralisasi tinggi, serta infrastruktur yang sudah matang.
Kendati gas fee Ethereum cenderung lebih tinggi dibandingkan beberapa blockchain lainnya, likuiditas yang besar dan integrasi dengan berbagai aplikasi keuangan terdesentralisasi (DeFi) menjadikannya pilihan utama bagi pengguna stablecoin.
Baca juga: Ethereum Tunda Rilis Pectra di Mainnet, Kenalkan Testnet Baru Hoodi
Seluruh konten berupa data dan atau informasi yang tersedia di Coinvestasi hanya bertujuan sebagai informasi dan referensi. Konten ini bukan saran atau nasihat investasi maupun trading. Seluruh pernyataan dalam artikel tidak dimaksudkan sebagai ajakan, rekomendasi, penawaran, atau dukungan untuk membeli atau menjual aset kripto apa pun.
Perdagangan di pasar keuangan, termasuk aset kripto, mengandung risiko dan dapat menyebabkan kerugian hingga kehilangan seluruh dana. Kamu wajib melakukan riset secara mandiri sebelum mengambil keputusan. Seluruh keputusan investasi atau trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu setelah memahami risiko yang ada.Gunakan hanya platform atau aplikasi aset kripto yang terdaftar dan beroperasi secara legal di Indonesia. Daftar platform aset kripto yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat diakses melalui di sini.
Topik
Coinvestasi Update Dapatkan berita terbaru tentang crypto, blockchain, dan web3 langsung di inbox kamu.