Dragonfly Capital Sebut Model Bisnis Crypto Asia Lebih Bagus dari Amerika

Anisa Giovanny

6th October, 2022

Menurut Haseeb Qureshi, Managing Partner Dragonfly Capital saat mengisi sesi di Token2049 Singapura pada 28 September 2022, secara iklim investasi Asia masih lebih sehat dibandingan di Benua Barat yang ia rujuk sebagai Amerika Serikat.

Hal tersebut disebabkan karena para pendiri startup di Asia umumnya berpikir pada produk dan bagaimana produk itu bisa mendapatkan keuntungan daripada berfokus pada bagaimana mencari pendanaan.

Qureshi juga berpendapat iklim investasi di Benua Timur bisa dilihat di China, di sana para pendiri perusahaan sangat efisien secara operasional, dan ini sangat berbeda dengan di Barat.

Metode efisien dan mengetahui langkah untuk mendapatkan keuntungan ini dianggap lebih aman, karena secara bisnis sudah stabil lebih dulu sebelum melibatkan pihak lain, sedangkan di Barat, perusahaan seringkali berlomba-lomba mencari pendanaan lebih dulu dibandingkan fokus pada strategi produk dan bagaimana bisnis mereka bisa menguntungkan.

Baca juga: Wawancara Ekskulsif, Emurgo Bahas Ekosistem Blockchain di Asia

Akhirnya ketika mereka tidak bisa memenuhi keinginan investor mereka tidak bisa bertahan, dan di tengah krisis akan mengalami pergolakan hingga kebangkrutan.

Jika melihat pendapat Quureshi, Asia memang menjadi lokasi tempat di mana transaksi dan bisnis crypto tumbuh subur. Dilansir dari Cointelegraph, Asia menikmati pertumbuhan transaksi yang cepat antara Juli 2020 dan Juni 2021.

Transaksi tinggi terjadi secara signifikan di Asia Tengah dan Selatan dengan persentase 706 persen dengan nilai $572,5 miliar, setara dengan 14% dari nilai transaksi global.

Dalam segi insutri bisnis, banyak perusahaan crypto yang bermarkas di Asia, salah satunya adalah platform investasi Crypto.com dan penyedia layanan stablecoin Tether yang menetap di Hong Kong.

Kemudian ada lebih dari 600 perusahaan crypto atau blockchain sekarang berkantor pusat di Asia Tenggara, menurut sebuah laporan baru oleh perusahaan investasi ventura White Star Capital.

Sebagian besar pertumbuhan di Asia Tenggara baru-baru ini juga terlihat dalam pendanaan modal ventura yang menyasar startup crypto, blockchain, dan web3, yang menarik hampir $1 miliar dalam pendanaan hanya pada tahun 2022 hingga saat ini dan berada di jalur untuk melampaui total $1,45 miliar pada tahun 2021. 

Masih Ada Hambatan

Namun Qureshi mengingatkan jika Asia juga masih memiliki hambatan untuk membuat adopsi teknologi crypto semakin masif, menurutnya pertumbuhan crypto di Asia seringkali terhalang oleh pemerintah dan regulasi. Karena itu dari sisi teknologi benua ini termasuk “telat” untuk menikmati kemajuan industri crypto. 

“ Jadi dalam lingkungan seperti ini sulit membangun infrastruktur intelektual yang Anda perlukan untuk mewujudkan inovasi penelitian intelektual, dan di situlah saya pikir Timur masih mengejar ketinggalan, tetapi dalam jangka panjang saya pikir mereka akan mengejar dan sampai di sana, katanya. 

Baca juga: Melihat Potensi Web3 Gaming di Asia

Anisa Giovanny

Anisa tertarik dengan dunia tulis menulis dan copyediting sejak bangku SMA dan diperdalam di dunia perkuliahan. Saat ini tertarik dan tengah mendalami bidang ekonomi terutama terkait investasi dan cryptocurrency

Anisa tertarik dengan dunia tulis menulis dan copyediting sejak bangku SMA dan diperdalam di dunia perkuliahan. Saat ini tertarik dan tengah mendalami bidang ekonomi terutama terkait investasi dan cryptocurrency