Data Bitcoin Berjangka Tunjukkan Pasar Bulls Meski Terjadi Flash Crash

Wafa Hasnaghina

5th August, 2020

Harga Bitcoin yang tiba-tiba turun sekitar Rp21 juta pada tanggal 2 Agustus lalu menyebabkan likuidasi lebih dari $1 miliar atau setara Rp14 triliun pada kontrak berjangka dan juga menyebabkan penurunan tajam pada harga altcoin teratas.

Angka ini mewakili 18% dari total $5.6 miliar bunga terbuka dan menyebabkan pergerakan ke angka $10.560.

Bunga terbuka berjangka ini kembali pulih dengan cepat dari kerugian tersebut hanya dalam waktu kurang dari 48 jam, dan saat ini menempati posisi $5,2 miliar. Sementara itu, indikator derivatif seperti contango (basis), pendanaan, opsi 25% delta skew, dan rasio put/call sebagian besar tidak mengalami masalah.

Meskipun terdapat pergerakan harga yang cukup besar di pasar, ekspektasi positif para investor mengenai harga Bitcoin tetap tidak terpengaruh. Hal ini juga mengindikasikan tidak adanya penurunan optimisme atau bearish yang berlebihan. 

Peristiwa ini berbeda dengan yang dihadapi pada tanggal 10 Mei ketika terjadi penurunan besar-besaran hingga $1.400, membuat mayoritas menunjukkan level bearish dan mungkin menjadi peristiwa likuidasi terakhir yang mencapai lebih dari $1 miliar.

Baca juga: 14 Triliun Dilikuidasi Setelah Bitcoin Tiba-tiba Turun ke Level 150 Juta

Open Interest Hampir Tidak Tunjukan Blip

Contango Tetap Stabil

Dengan mengukur premi kontrak berjangka 3 bulan ke level spot saat ini, akan dapat disimpulkan para trader profesional cenderung bullish atau justru bearish. Pasar yang sehat akan menunjukkan tingkat tahunan yang positif, situasi ini dikenal sebagai contango.

Dalam grafik ini dapat dilihat bahwa terdapat penurunan sedikit dari premi setelah beberapa hari berlari dengan tingkat basis tahunan 15%. Nilai ini cukup tinggi mengingat rata-rata 1 tahun hanya ada di 6,5%. 

Sekarang ini posisinya berada pada tingkat yang sehat di 11,5%. Hal ini menunjukkan ekspektasi positif dari trader profesional yang menuntut lebih banyak keuntungan sebelum akhirnya menunda penyelesaian keuangan.

Sebaliknya, basis berjangka tahunan 3-bulan ada pada sisi negatif pada bulan Mei lalu, dan hampir sebulan lebih hingga akhirnya dapat kembali ke level 5% yang sehat.

Dana Kontrak Perpetual Kembali Ke Normal

Dana berjangka perpetual atau yang juga dikenal sebagai inverse swap, biasanya memiliki sistem pengelolaan tingkat pendanaan yang akan dikumpulkan setiap 8 jam. Tingkat positif ini menunjukkan bahwa trader menggunakan long dengan leverage lebih besar dari trader yang memasang short, yang artinya para trader juga akan membayarkan biaya yang menyertainya.

Tarif di atas 0,10% per 8 jam sudah termasuk biaya yang tidak biasa, meskipun tidak juga mengkawatirkan. Ini sama saja setara dengan 2,1% per minggu dan hanya akan meneken pembeli untuk mengurangi leverage ketika mempertahankan tingkat tersebut selama beberapa hari ke depan.

Tingkat pendanaan ini telah kembali ke tingkat yang sangat sehat, menunjukkan tidak ada tanda-tanda bearish atau leverage pembeli yang berlebihan. Situasi saat ini tidak memiliki kemiripan sama sekali dengan peristiwa 10 Mei lalu, ketika tingkat pendanaan negatif, artinya penjual membayar untuk menjaga posisinya tetap terbuka.

Grafik di atas ini menunjukkan tingkat pendanaan yang mencapai level -0,13% pada bulan Mei lalu, sementara pendanaan positif kembali pulih dengan memakan waktu tiga minggu kemudian.

Opsi Pasar 25% Delta Skew Tetap Bullish

25% Delta Skew mengukur bagaimana semakin mahal pasar akan menunjukan opsi call harga bullish ketimbang dengan opsi put harga bearish.

25% Delta Skew saat ini bertindak sebagai indikator yang melihat ketakutan/keserakahan para opsi trader dan saat ini menunjukan di negatif 12%, yang berarti perlindungan ke atas lebih mahal. Indikator ini menunjukkan hal positif karena biasanya osilasi ada di antara -15% dan +15%.

Indikator seperti itu akan tetap dekat dengan 4% setelah crash yang terjadi pada 10 Mei lalu, menunjukkan tren yang sedikit bearish

Rasio Opsi Put/Call Tetap Bullish

Rasio Opsi Put-Call mengukur total minat call terhadap total put. Secara umum, opsi call digunakan untuk strategi bullish, sedangkan opsi put untuk bearish.

Rasio put / call saat ini dari 67% berarti bahwa opsi terbuka put (bearish) adalah 33% lebih kecil dari opsi call (bullish). Rata-rata 1 tahun berdiri di 59%, menunjukkan bahwa pedagang opsi umumnya menghabiskan lebih banyak uang pada opsi call, berharap adanya kenaikan harga.

Di sisi lain, indikator put / call ini memuncak pada 80% hanya tiga hari sebelum 10 Mei. Meskipun tetap di wilayah bullish, itu adalah perbedaan terkecil antara opsi buka dan opsi beli dengan open interest dalam 10 bulan.

Sebagian Besar Indikator Dukung Adanya Bulls Saat Ini

Pada penurunan harga tiba-tiba lalu yang menyebabkan turun hingga Rp21 juta hanya dalam beberapa menit, semula tidak memberikan tanda-tanda apapun, ini membuat cemas sebagian para investor professional. 

Lebih lagi, terdapat data dari pasar derivatif yang membedakan peristiwa ini dengan crash 10 Mei lalu, ketika Bitcoin membutuhkan waktu 24 hari untuk kembali menetapkan all-time-high.

Para trader profesional merasa pasar cenderung bullish sejak 24 Juli lalu, dan tidak ada tanda bahwa penurunan harga yang signifikan itu mengurangi minat terhadap Bitcoin.

Informasi ini diolah dan disunting kembali dari Cointelegraph