Berita Bitcoin · 6 min read

Bitcoin Berpeluang Tembus US$200.000 di 2025, Terlepas dari Dampak Tarif Trump

bitcoin trump
Coinvestasi Ads Promo Coinfest Asia 2025

Pasar kripto kembali mengalami tekanan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif “resiprokal” terhadap 15 negara, termasuk Tiongkok, Kanada, Meksiko, hingga negara Asia Tenggara tak terkecuali Indonesia.

Pada Jumat (4/4/2025), harga Bitcoin (BTC) diperdagangkan di kisaran US$82.700, menurut data CoinMarketCap. Aset kripto ini bahkan sempat turun ke level terendah harian di US$81.300 dengan volume perdagangan yang meresot 36% di kisaran US$34 miliar.

Grafik harga Bitcoin dalam 24 jam terakhir. Sumber: CoinMarketCap

Dengan volatilitas saat ini, Bitcoin kembali mencatat penurunan lebih dari 24% sejak aset kripto terbesar di dunia itu mencetak rekor harga tertinggi di atas US$109.100 pada 20 Januari 2025 menjelang pelantikan Donald Trump sebagai presiden AS baru.

Kondisi ini terjadi seiring gejolak di pasar saham, di mana indeks Nasdaq yang berbasis teknologi juga anjlok lebih dari 5%. Sentimen negatif dipicu oleh kekhawatiran atas resesi global serta potensi balasan dari negara-negara mitra dagang terhadap kebijakan tarif tersebut.

Baca juga: Analis Prediksi Kripto Berpeluang Sentuh Titik Terendah Sebelum Juni 2025

Masih Ada Optimisme Kenaikan Jangka Panjang

Di tengah tekanan harga jangka pendek Bitcoin saat ini, sejumlah analis tampaknya merasa tetap optimis. Dikutip dari Decrypt, Head of Research Bitwise, Ryan Rasmussen, menyatakan bahwa target harga Bitcoin di level US$200.000 pada akhir 2025 tetap tidak berubah.

“Begitu pasar menyerap kekacauan dari ‘Liberation Day’, kita akan mulai melihat pemulihan,” ujarnya, menambahkan bahwa berita-berita baik yang menumpuk selama beberapa bulan terakhir hanya menunggu waktu untuk mendorong harga kembali naik.

Lebih lanjut, Rasmussen menegaskan bahwa, jika dilihat sejak 5 November 2024, Bitcoin telah mengungguli berbagai aset besar lainnya, termasuk emas, indeks S&P 500, dan Nasdaq. Penurunan saat ini dinilai lebih banyak dipengaruhi sentimen jangka pendek ketimbang faktor fundamental.

Dalam beberapa bulan terakhir, pasar kripto justru dibanjiri kabar positif, mulai dari pembentukan cadangan Bitcoin oleh Gedung Putih AS, perubahan kebijakan regulasi, hingga keterlibatan dana kekayaan negara dalam investasi aset digital.

“Pasar ini seharusnya sudah di level US$150.000 kalau saja tidak ada kekhawatiran besar soal tarif,” ujar Rasmussen.

Kabar tentang Gedung Putih yang ingin membeli sebanyak mungkin Bitcoin juga menambah kepercayaan pelaku pasar terhadap peran aset ini di masa depan.

Baca juga: Bitcoin Diprediksi Bisa Sentuh Rp2,4 Miliar pada 2025

Bitcoin Sebagai Aset Berisiko Potensial

Di tengah ketegangan global akibat tarif baru, beberapa pengamat percaya bahwa situasi ini bisa berbalik dengan cepat. Cosmo Jiang, General Partner di Pantera Capital, menilai bahwa tarif hanyalah alat negosiasi dari Presiden Trump yang bisa segera dicabut jika tujuan politiknya tercapai.

“Seperti halnya ketidakpastian ini bisa disuntikkan secara artifisial, begitu pula bisa dihilangkan saat pemerintah merasa sudah mendapatkan konsesi,” terangnya.

Ia menambahkan, aset digital yang dianggap berisiko memang menjadi yang pertama terkena koreksi, namun juga berpotensi jadi yang pertama memimpin pemulihan.

Optimisme serupa juga disampaikan oleh Zach Pandl dari Grayscale. Ia memperkirakan bahwa beberapa tarif akan dilonggarkan dan The Fed tetap berada di jalur untuk memangkas suku bunga tahun ini. Jika pengumuman tarif berlangsung secara bertahap dan tidak terlalu agresif, maka pasar berpotensi mengalami reli dalam waktu dekat.

Sementara itu, mantan Co-Founder BitMEX, Arthur Hayes, menyebut bahwa Bitcoin perlu bertahan di atas level US$76.500 hingga batas waktu pembayaran pajak di Amerika Serikat pada 15 April mendatang agar bisa mempertahankan momentum positifnya.

Menurut Hayes, jika level ini jebol, maka ada kemungkinan sentimen pasar bisa memburuk lebih dalam sebelum pemulihan dimulai. Namun bagi proyek-proyek kripto yang memiliki adopsi nyata dan utilitas jelas, terutama di sektor DeFi, peluang untuk tetap bertahan dan tumbuh dinilai masih besar.

Di sisi lain, Standard Chartered juga tetap pada proyeksinya bahwa Bitcoin bisa menembus US$200.000 pada akhir 2025. Analis bank tersebut melihat potensi Bitcoin sebagai aset moneter global yang akan semakin diperkuat oleh melemahnya dominasi dolar akibat ketegangan perdagangan dan pergeseran kebijakan global.

Baca juga: Standard Chartered: Pergerakan Bitcoin Ikuti Tren Aset Berisiko


Disclaimer

Konten baik berupa data dan/atau informasi yang tersedia pada Coinvestasi hanya bertujuan untuk memberikan informasi dan referensi, BUKAN saran atau nasihat untuk berinvestasi dan trading. Apa yang disebutkan dalam artikel ini bukan merupakan segala jenis dari hasutan, rekomendasi, penawaran, atau dukungan untuk membeli dan menjual aset kripto apapun.

Perdagangan di semua pasar keuangan termasuk cryptocurrency pasti melibatkan risiko dan bisa mengakibatkan kerugian atau kehilangan dana. Sebelum berinvestasi, lakukan riset secara menyeluruh. seluruh keputusan investasi/trading ada di tangan investor setelah mengetahui segala keuntungan dan risikonya.

Gunakan platform atau aplikasi yang sudah resmi terdaftar dan beroperasi secara legal di Indonesia. Platform jual-beli cryptocurrency yang terdaftar dan diawasi BAPPEBTI dapat dilihat di sini.

author
Dilla Fauziyah

Editor

arrow

Terpopuler

Loading...
Coinvestasi Ads Promo Coinfest Asia 2025
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...

#SemuaBisaCrypto

Belajar aset crypto dan teknologi blockchain dengan mudah tanpa ribet.

Coinvestasi Update Dapatkan berita terbaru tentang crypto, blockchain, dan web3 langsung di inbox kamu.