Coinvestasi Telegram Group Coinvestasi Telegaram Channel

Austria Mendukung Proyek Berbasis Blockchain dalam Menemukan Tempat Strategis Pembuangan Limbah Panas

Wafa Hasnaghina     Thursday, May 14 2020

Sebuah proyek di Austria menggunakan teknologi blockchain dalam membantu menemukan titik-titik strategis pembuangan limbah panas di kota Wina dan Graz.

Diluncurkan oleh Institut Teknologi Austria (AIT) pada 12 Mei 2020 lalu, HotCity menciptakan sistem gamifikasi (sistem yang menerapkan sebuah aturan permainan untuk konteks non-permainan) dalam melakukan crowdsource (urun daya) titik-titik strategis di sekitar kota dan menyalurkannya untuk menyediakan sistem pemanas bagi ruang publik.

Platform ini akan menggunakan Ignis blockchain, bagian dari ekosistem Ardour yang dikembangkan oleh perusahaan Swiss, Jelurida.

Keberlanjutan Kota-Kota di Austria

Wina telah menjadi tuan rumah salah satu jaringan pemanas distrik terbesar di Eropa, yang menyediakan air panas melalui saluran pemanas terpusat di kota tersebut.

Salah satu manfaat dari sistem semacam ini adalah kemampuan untuk menggunakan limbah panas dari proses industri untuk menyediakan energi bagi konsumen. Ini jelas berdampak pada efisiensi energi dan emisi CO2. Penyedia energi Wina mengklaim pengurangan konsumsi energi sebesar 75% berkat adanya sistem ini.

“Daerah dengan energi tambahan” yang menghasilkan lebih banyak energi panas daripada yang mereka konsumsi, umumnya dapat memasukkan sebagian dari limbah panas ke grid, sehingga dapat meningkatkan efisiensi.

Namun, di lain pihak dengan banyaknya sumber-sumber dari limbah panas ini, seperti pabrik besar dan pangkalan data yang mudah diidentifikasi, sumber-sumber yang lebih kecil belum benar-benar bisa dimanfaatkan. 

Baca juga: Lacak Produk Plastik dari Hulu ke Hilir Menggunakan Blockchain

Proyek HotCity ini akan membantu membentuk set data yang tepat dan terperinci yang nantinya akan membantu meningkatkan perencanaan kota di Austria. Proyek ini menerima hibah sebesar 310.000 Euro dari Kementerian Federal Austria untuk Aksi mengenai Iklim, Lingkungan, Energi, Mobilitas, Inovasi, dan Teknologi.

Dilansir dari Cointelegraph, pimpinan proyek HotCity dari AIT, Ernst Gebersroither-Geringer, mengatakan bahwa Wina diperkirakan menghasilkan 400 Gigawatt-Hours dari limbah panas yang dapat digunakan. Meskipun tidak semuanya digunakan secara ekonomis, berikut adalah yang menjadi tujuan proyek HotCity:

“Idenya adalah untuk mengembangkan metode dengan gamifikasi untuk dapat memperikirakan sebuah potensi […] Crowdsourcing ini sendiri tidak berusaha untuk memulihkan panas limbah, ia ‘hanya’ menunjukkan potensi yang ada.”

Bagaimana Cara Kerjanya?

Platform HotCity bertujuan untuk mengumpulkan data yang diperlukan secara “sukarela dan menyenangkan”, memberi hadiah kepada pengguna dengan token yang dapat ditukar dengan barang dan jasa. Warga dapat mengirimkan informasi dengan aplikasi dengan melakukan inspeksi fisik di tempat, atau bahkan hanya memindai foto dan menggunakan Google Maps.

Seperti yang dijelaskan Gebertsroither-Geringer, blockchain digunakan baik untuk mengamankan data dan menjadikannya pribadi, serta memfasilitasi pertukaran token pada vourcher tertentu.

Dia bespekulasi, penggunaan blockchain ini dapat dilakukan lebih dari sekedar hal tersebut:

“(Blockchain) juga dapat digunakan oleh prosumer (produsen limbah energi kecil) jika mereka ingin menjual energi limbah mereka dan menggunakan Smart Contract dan blockchian untuk melakukan kegiatan ini. Namun, penggunaan blockchain di HotCity ini belum mengimplementasikan penjualan untuk limbah panas ini sendiri.”

Proyek ini akan diuji di Wina dan Graz untuk musim “pemanasan” berikutnya pada Oktober 2020. Hal ini dilakukan setelah rencana yang semula akan dilaksanakan awal tahun 2020 tertunda karena pandemi Covid-19.

Sumber